Repositori Ilmiah Nasional (RIN) adalah bank data pertama Indonesia yang menyimpan data primer penelitian dalam skala nasional. Shutterstock

RIN sebagai bank data ilmiah pertama Indonesia perkuat budaya ‘sains terbuka’

Banyak peneliti dan akademisi di Indonesia diketahui melakukan berbagai praktik-praktik penelitian yang tidak etis.

Sebagian besar di antaranya melakukan manipulasi data dan meneliti dengan tidak jujur sebagai jalan pintas mereka untuk menghasilkan jumlah publikasi ilmiah yang banyak. Praktik tersebut didorong oleh iklim riset Indonesia yang dikenal kompetitif dan tidak sehat.

Sebagai salah satu solusi, akademisi mengusulkan dibuatnya suatu repositori data ilmiah di mana peneliti dapat membagikan data secara terbuka sehingga mempermudah verifikasi dan reproduksi ulang hasil penelitian. Ini dapat mengurangi ruang untuk praktik yang tidak etis.


Read more: Tiga hal yang bisa dilakukan komunitas akademik untuk mencegah peneliti 'nakal'


Tapi, pusat data seperti ini di Indonesia jarang sekali meminta peneliti untuk mengirimkan data primer riset mereka, dan itu pun tersebar di berbagai universitas dan pusat penelitian sebagai repositori khusus lembaga.

Pada bulan Agustus 2019, pemerintah meluncurkan Repositori Ilmiah Nasional (RIN) sebagai bank data tingkat nasional yang mengumpulkan data primer penelitian dari berbagai sumber.

Lahir dari mandat Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas Iptek), repositori ini bertujuan untuk membuat komunitas akademik lebih mudah mengakses data riset sehingga mempermudah mereka melakukan verifikasi penemuan ilmiah dan melanjutkan kontribusi di bidang penelitian tersebut.

Meskipun masih mengalami banyak tantangan, bank data yang baru dirilis ini adalah langkah awal yang baik untuk memperkuat praktik ‘data terbuka’ dan meningkatkan kualitas riset di Indonesia.

Membuat ekosistem riset yang lebih kredibel

Hendro Subagyo, Kepala Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) - yang sekaligus penanggung jawab RIN - mengatakan bahwa konsep bank data terpusat sudah dimulai sejak tahun 2002.

Ide tersebut didorong oleh minimnya data terbuka - sekaligus transparansi - yang menyertai publikasi ilmiah di Indonesia.

Sejak awal 2010, universitas dan lembaga penelitian di seluruh Indonesia sudah mulai memiliki repositori tingkat lembaga di mana peneliti dapat mengunggah hasil penelitian mereka.

Tapi, Hendro mengatakan bahwa fasilitas tersebut biasanya hanya didesain untuk menyimpan laporan seperti artikel ilmiah atau hasil konferensi. Seringkali, tidak ada kewajiban untuk menyertakan data yang digunakan dalam penelitian.

“Substansi dari hasil penelitian itu tidak ada yang bisa ngecek atau memanfaatkan kembali, tidak ada yang bisa melanjutkan, karena adanya hanya artikel ilmiahnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pendirian RIN bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut. Tujuan akhirnya adalah membantu terwujudnya apa yang ia sebut sebagai ‘ekosistem riset yang kredibel’.

“Kita ingin bangun ekosistem penelitian yang kredibel. Maksudnya, jangan sampai hanya sekadar artikel ilmiah yang dibuat peneliti sebagai bukti dia telah melakukan studi,” katanya.

Berkaca dari ilmuwan asing

Repositori Ilmiah Nasional ini terinspirasi dari database serupa di Belanda, bernama Data Archiving and Networked Services (DANS).

Mengandung lebih dari 250.000 dataset dari setidaknya 70.000 penelitian, DANS mengumpulkan set data ilmiah, publikasi, dan informasi peneliti untuk mendorong pembagian data di dalam komunitas sains mereka.

Brian Nosek, seorang profesor psikologi dari University of Virginia, AS, mengatakan bahwa minimnya pembagian data adalah masalah besar dalam dunia akademik karena kurangnya data menyusahkan peneliti lain dalam memvalidasi penemuan ilmiah.

Nosek dan timnya menjalankan suatu proyek yang berupaya untuk melakukan verifikasi terhadap temuan penelitian di dalam artikel ilmiah terkait biologi kanker, yang dipublikasikan pada tahun 2011-2012.

Yang mengejutkan baginya, adalah bahwa di antara 197 ekperimen dari 51 artikel ilmiah yang dipublikasikan bahkan di jurnal-jurnal ternama seperti Nature dan Cell, hanya 3 di antaranya yang menyediakan data yang dapat diakses melalui repositori publik.

“Terdapat kekurangan pelaporan dan ketersediaan data atau material yang menjadi landasan dari riset-riset tersebut. Ini adalah tantangan yang hadir di semua disiplin keilmuan,” kata Nosek pada suatu webinar yang membahas transparansi penelitian.

Acara yang diadakan akhir bulan Oktober ini melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari setidaknya 30 universitas di Indonesia.

Pembicara lain pada acara tersebut, Virginia Barbour, yang juga merupakan seorang profesor di Queensland Institute of Technology, Australia, mengatakan bahwa praktik data terbuka memiliki banyak manfaat bagi peneliti.

Suatu artikel ilmiah pra-publikasi tahun 2019 dari peneliti Inggris menemukan bahwa publikasi ilmiah yang membagikan datanya melalui repositori publik jumlah sitasinya 25,36% lebih banyak.

Riset tersebut mengamati 531.889 artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal akses terbuka di Public Library of Science (PLOS) dan BioMed Central (BMC).

Barbour, yang juga merupakan Direktur Australasian Open Access Strategy Group, menambahkan bahwa peningkatan tersebut kemungkinan diakibatkan oleh meningkatnya persepsi kredibilitas dan kualitas pada publikasi-publikasi yang menyediakan akses data tersebut.

“Ini mengindikasikan bahwa sitasi dilakukan berdasarkan alasan yang mendalam, bukan hanya sekadar melakukan referensi, tapi tampaknya dilakukan dengan pertimbangan kepercayaan dan kredibilitas,” katanya.

Tantangan ke depan

Meskipun RIN punya peran penting dalam mempromosikan budaya data terbuka di Indonesia, beberapa peneliti masih mempertanyakan kualitas dari pengelolaannya. Skeptisisme ini menyebabkan adopsi dari repositori ini masih belum baik.

Seorang partisipan dari webinar di atas mempertanyakan apakah praktik data terbuka seperti ini sejalan dengan standar dunia tentang data personal seperti General Data Protection Regulation (GDPR) yang diusung Uni Eropa.

“Salah satu tantangan adalah peneliti belum percaya bahwa disimpan di fasilitas negara ini kekayaan intelektual dilindungi. Mereka nggak percaya,” ungkap Hendro.

Rizqy Amelia Zein, seorang pendukung konsep sains terbuka yang juga merupakan dosen psikologi di Universitas Airlangga, berpendapat sama dengan Hendro. Amelia mengatakan bahwa tantangan yang harus dihadapi LIPI adalah meyakinkan para peneliti bahwa ini adalah misi ilmiah yang penting.

“PDDI LIPI sudah mulai sosialisasi ke peneliti untuk menyimpan data di RIN, tapi memang sekarang peneliti belum banyak yang sadar pentingnya melakukan manajemen data riset,” katanya.

Hendro mengatakan bahwa mengajak peneliti Indonesia untuk sama-sama berkomitmen menjalankan proyek nasional ini secara sukarela, adalah tugas yang tidak mudah. Saat ini, repositori ilmiah yang dikelolanya masih mengandung kurang dari 4.000 dataset.

UU Sisnas Iptek membutuhkan tambahan peraturan pemerintah (PP) untuk secara formal menerapkan RIN secara nasional. Saat ini peneliti mengunggah data penelitian masih secara sukarela.

Tapi, Hendro menjamin bahwa pengembangan bank data ini juga telah menerapkan mekanisme yang memastikan perlindungan hak kekayaan intelektual peneliti atas data mereka.

“Peneliti juga berhak kalau ingin membuat datanya available harus dengan permintaan,” katanya.

“Kalau ada kemauan untuk buka data sepenuhnya, kita kasih guideline bahwa kalau dibuka konsekuensinya ini, lisensi apa yang mungkin harus diterapkan.”

This article was originally published in English