Financial toxicity diartikan sebagai efek samping pengobatan kanker terhadap kondisi keuangan seorang pasien. www.shutterstock.com

Riset: biaya pengobatan kanker di Indonesia terbukti ‘meracuni’ pasien untuk semakin nekat

Kanker masih menjadi momok bagi banyak orang di Indonesia karena penyakit mematikan ini belum ada obatnya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,79 per 1000 penduduk, naik dari tahun 2013 sebanyak 1,4 per 1000 penduduk.

Berita tentang “temuan” obat kanker dari kayu bajakah oleh pelajar SMA Negeri 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah sempat santer dibicarakan orang. Meski peneliti dan akademisi meragukan keampuhannya.


Read more: Mengapa kita perlu kritis dan berhati-hati dengan heboh 'obat kanker' dari bajakah


Sudah bukan rahasia lagi bahwa penanganan dan pengobatan kanker membutuhkan biaya yang sangat besar. Biaya pengobatan di kanker diperkirakan bisa mencapai di atas Rp100 juta per bulan bagi setiap pasien. Biayanya bisa lebih mahal jika pasien memutuskan untuk berobat ke luar negeri. Di Singapura contohnya, biaya pengobatan kanker bisa mencapai dua kali lipat dibanding Indonesia.

Saking tingginya, literatur ilmu kesehatan mengatakan bahwa biaya pengobatan kanker bisa menimbulkan racun. Istilahnya disebut financial toxicity yang diartikan sebagai efek samping pengobatan kanker terhadap kondisi keuangan seorang pasien.

Penelitian yang saya lakukan dengan Erwin Bramana Karnadi dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya terhadap pasien dan penyintas kanker di Indonesia menunjukkan efek samping ongkos pengobatan kanker mendorong mereka untuk menjadi lebih nekat.

Hasil penelitian

Penelitian dilakukan pada 194 responden di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada Oktober hingga Desember 2017.

Kami menggunakan teknik pengambilan sampel dengan memilih responden penderita dan penyintas kanker di wilayah Jabodetabek (purposive sampling). Data kami kumpulkan melalui pembagian kuesioner yang dilakukan secara langsung.

Untuk mengukur kandungan racun finansial yang diderita responden kami, kami mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui perasaan mereka terkait kondisi keuangan mereka. Dalam kuesioner tersebut, kami memberikan berbagai pernyataan yang mewakili kondisi mereka dan menyuruh mereka untuk memilih mana yang paling mewakili perasaan mereka.

Pernyataan-pernyataan itu berupa:

Kuesioner Financial Toxicity.

Dari sana, kami menggunakan skala 1-5 untuk menentukan tinggi rendahnya kadar racun finasial yang ada dalam setiap responden dengan angka 5 menunjukkan tingkat kadar racun tertinggi.

Hasil pengolahan data kami menunjukkan rata-rata nilai responden kami adalah 3,24 dengan angka paling maksimum adalah 4,8.

Dari angka-angka tersebut, kami berusaha mengaitkan dengan persepsi responden terhadap beberapa aktivitas berisiko dan kemungkinan mereka melakukannya. Beberapa aktivitas yang kami tanyakan adalah:

  1. Pergi berkemah di hutan
  2. Melakukan skydiving
  3. Mengemudi mobil tanpa sabuk pengaman
  4. Berjudi
  5. Menyuarakan opini tidak populer/berbeda dari yang lain

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa responden dengan tingkat racun finansial yang tinggi lebih cenderung mengambil tindakan berisiko.

Kami berkesimpulan bahwa racun finansial yang dialami oleh responden karena mereka merasa menderita kerugian akibat biaya pengobatan kanker dapat mempengaruhi selera risiko seseorang.

Seseorang yang berhadapan dengan kemungkinan bahwa dirinya bisa kehilangan segala-galanya akibat penyakit yang dideritanya menjadi merasa lebih berani mengambil risiko. Sepertinya dalam otaknya mereka sepertinya berpikir, “Saya bisa kehilangan apa lagi?”

Penelitian kami juga menunjukkan bahwa perilaku berani mengambil risiko ini lebih dominan pada responden yang stadium kankernya yang lebih tinggi dan mereka yang tidak religius. Sedangkan mereka yang berusia lebih tua, memiliki lebih banyak anak, atau menggunakan asuransi, relatif lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.

Aspek positif dari temuan kami adalah para pasien yang memang menjadi lebih menyukai risiko akibat menghabiskan banyak biaya pengobatan menjadi lebih berani dalam membuat keputusan terkait pengobatan mereka, terutama jika kankernya kembali kambuh.

Landasan teori

Penelitian kami yang menghubungkan efek samping pengobatan kanker dengan perilaku pengambilan risiko seseorang dilandasi dari Teori Prospek yang dikenalkan oleh psikolog dan ekonom pemenang Nobel Daniel Kahneman dan psikolog penerima MacArthur “Genius” Grant Amos Tversky pada 1979 dan diperbarui pada 1992.

Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan menghindari risiko jika dihadapi prospek keuntungan dan akan mencari risiko ketika dihadapi prospek kerugian.

Dari teori tersebut, kami mencoba membuktikan apakah hal ini juga berlaku pada pasien dan penyintas kanker.

Hasil penelitian kami membuktikan bahwa pasien dan penyintas kanker yang mengalami efek samping financial toxicity (bisa berupa stres atau mengalami kerugian keuangan karena biaya pengobatan) cenderung lebih nekat dalam mengambil keputusan.

Seluruh penanganan penyakit memiliki dampak fisik, psikologis, dan keuangan. Komunikasi tentang informasi biaya dan keterjangkauan antara dokter dan pasien harus selalu dilakukan dengan baik.

Jika pasien memang khawatir akan biaya pengobatan, maka mereka harus diinformasikan dengan opsi-opsi lain dan tidak dilepas begitu saja.

Masyarakat juga harus meningkatkan literasi keuangan mereka.

Dengan bantuan edukasi dari pemerintah, maupun inisiatif mandiri, masyarakat bisa menyadari pentingnya mencapai kemandirian keuangan agar siaga ketika menghadapi masalah-masalah kesehatan yang tidak diinginkan.

Dan pada akhirnya membentuk kesadaran masyarakat untuk memelihara gaya hidup yang sehat.