Saya menjadi pengamat dalam sebuah Konvensi Bumi Datar untuk riset saya—ini yang saya pelajari

Bumi datar. shutterstock

Saya menjadi pengamat dalam sebuah Konvensi Bumi Datar untuk riset saya—ini yang saya pelajari

Sejumlah pembicara dari berbagai belahan dunia (atau, lebih tepatnya ujung dunia?) mendarat di Birmingham untuk Konvensi Bumi Datar di Inggris. Acara tiga hari tersebut diikuti banyak peserta. Isinya tidak hanya sambutan dan pemutaran klip Youtube (meskipun itu banyak juga). Banyak team-building, ramah tamah, diskusi, workshop, dan percobaan ilmiah.

Penganut bumi datar selalu nampak menekankan dan memprioritaskan metode ilmiah, khususnya fakta-fakta yang dapat diamati. Pekan lalu acara konvensi penuh dengan diskusi dan perdebatan ilmiah. Banyak waktu digunakan untuk merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan berbagai percobaan dan model bumi datar. Memang seperti kata satu penyaji sebelumnya, penganut bumi datar mencoba mencari “banyak bukti yang dapat diverifikasi” dan mendorong peserta untuk “selalu melakukan riset Anda sendiri dan menerima kemungkinan bahwa Anda bisa jadi salah”.

Penganut bumi datar nampak percaya dan mendukung metode ilmiah. Yang tidak mereka percaya adalah ilmuwan dan hubungan yang mapan antara “kekuasaan” dan “pengetahuan”. Ahli sosiologi telah lama membahas hubungan antara kuasa dan pengetahuan. Kita dapat memahami mengapa ada kebangkitan penganut bumi datar dengan mempelajari hubungan antara kuasa dan pengetahuan ini.

Power and knowledge

Saya ingin memulai dengan pernyataan singkat bahwa saya tidak tertarik mendiskusikan apakah bumi itu datar atau tidak (sebagai catatan, saya dengan senang hati menyebut diri saya penganut bumi bundar)—saya juga tidak bermaksud mengolok-ngolok atau merendahkan komunitas penganut bumi datar. Bahasan yang penting di sini bukan mengenai apakah orang percaya bumi itu datar atau bundar, melainkan isyarat yang disampaikan dari kebangkitan penganut bumi datar dan konvensi terbuka mereka soal sains dan pengetahuan di abad ke-21.

Berbagai model dipresentasikan sepanjang akhir pekan, termasuk model-model “klasik” bumi datar, dengan kubah, dinding es, berlian, dan kubangan dengan sejumlah dunia di dalamnya, dan bahkan bumi sebagai bagian dalam dari sebuah telur kosmik raksasa. Namun, diskusi lebih banyak soal mengenai model-model yang ditawarkan tidak terlalu banyak. Sebaliknya isu lebih umum seperti perilaku terhadap struktur pengetahuan yang berlaku, dan institusi yang mendukung dan menyajikan model-model tersebut.

Penjelasan teori telus kosmik raksasa.

Penganut bumi datar bukanlah kelompok pertama yang mempertanyakan struktur kuasa yang ada dan kendali mereka terhadap pengetahuan. Pandangan kritis soal struktur kuasa ini kurang lebih direpresentasikan oleh karya-karya Michel Foucault, filsuf terkenal dan berpengaruh di abad 20 yang sepanjang karirnya mempelajari kaum pinggiran untuk memahami kehidupan manusia sehari-hari.

Di antara banyak hal yang ia kerjakan, ia dikenal karena mempelajari hubungan erat antara kekuasaan dan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan itu diciptakan dan digunakan dalam cara-cara yang menguatkan klaim legitimasi kaum penguasa. Pada saat yang sama, mereka yang berkuasa mengendalikan apa yang dianggap pengetahuan yang tepat dan tidak tepat. Menurut Foucault, ada hubungan yang intim dan berkelindan antara kuasa dan pengetahuan.

Pada saat Foucault menulis mengenai topik ini, kendali kekuasaan dan pengetahuan telah menjauh dari institusi keagamaan, yang sebelumnya memegang kekuasaan terhadap pengetahuan dan moralitas, dan mulai mengarah pada jaringan institusi ilmiah, monopoli media, pengadilan, dan pemerintahan birokratis. Foucault berargumen bahwa institusi-institusi ini berfungsi untuk mempertahankan klaim terhadap legitimasi untuk mengendalikan pengetahuan.

Melesat lebih cepat?

Pada abad ke-21, kita menyaksikan sebuah perubahan penting baik dalam kuasa dan pengetahuan dengan meningkatnya platform publik yang disediakan media sosial. Pengetahuan tidak lagi dikendalikan secara terpusat—dan terjadinya Brexit menunjukkan dengan jelas—era kepakaran mungkin telah berlalu. Sekarang, semua orang memiliki kuasa untuk menciptakan dan menyebarkan konten. Ketika Michael Gove pemimpin pendukung Brexit menyatakan:“Menurut saya masyarakat negara kita telah kenyang dengan pakar”, ia, dalam banyak cara, benar-benar tulus dalam pernyataannya.

Jelas bahwa kita menyaksikan meningkatnya polarisasi dalam masyarakat, dan kita menjauh dari narasi tunggal bersama dan menuju kubu-kubu berdasarkan kepentingan yang mirip. Sebagai contoh, penelitian PEW baru-baru ini menunjukkan 80% pemilih yang mendukung Hillary Clinton dalam pemilihan presiden AS pada 2016—dan 81% pemilih Trump—percaya bahwa kedua kubu tidak dapat setuju pada fakta-fakta mendasar.

Meskipun ada klaim awal, yang bisa ditelusuri jauh hingga esai-esai HG Wells “otak dunia” pada 1936, bahwa sumber pengetahuan bersama dunia seperti internet akan menciptakan perdamaian, harmoni dan interpretasi bersama mengenai realitas, nampaknya yang terjadi malah kebalikannya. Dengan semakin riuhnya suara berkat media sosial, pengetahuan semakin terdesentralisasi, dan narasi tandingan bermunculan.

Rencana ensiklopedia dunia HG Wells. Scottbot

Ini tema yang berulang sepanjang akhir pekan, dan paling jelas ketika empat penganut bumi datar mendebat tiga mahasiswa S3 jurusan fisika. Satu titik perdebatan terjadi ketika salah satu fisikawan memohon pada peserta untuk tidak percaya pada Youtube dan para blogger. Peserta dan panel penganut bumi datar menolak ini, dan mengatakan bahwa “kini kita punya internet dan komunikasi massa … kita tidak tergantung pada apa yang dikatakan arus utama di koran-koran, kita dapat menentukan sendiri”. Jelas sekali bahwa penganut bumi datar sangat bersemangat memisahkan pengetahuan dari institusi ilmiah.

Penganut bumi datar dan populisme

Pada saat yang sama klaim ilmiah terhadap pengetahuan dan kekuasaan sedang dilemahkan, beberapa struktur kekuasaan memisahkan diri dari pengetahuan ilmiah, dan bergerak menuju politik populis yang semakin skeptis terhadap pengetahuan. Dalam beberapa tahun terakhir, ini telah hadir dalam berbagai bentuk ekstrem— melalui hal-hal seperti politisi publik mendukung Pizzagate atau argumen Trump bahwa ayah Ted Cruz menembak JFK.

Namun ini bisa juga dilihat dalam bentuk yang lebih sulit dibaca dan berbahaya seperti ketika kampanye Brexit menggunakan perasaan dan emosi ketimbang statistik dan prediksi pakar. Sains semakin menemui kesulitan dalam mengkomunikasikan ide-ide secara publik, sementara politisi dan penganut bumi datar bisa mengatasi ini melalui populisme.

Lagi-lagi, tema ini muncul sepanjang akhir pekan. Penganut bumi data didorong untuk percaya pada “puisi, kebebasan, renjana, kejernihan, kreativitas, dan panggilan” di atas muntahan klinis teori-teori dan fakta-fakta yang umum. Peserta diberitahu bahwa “harapan mengubah semua hal”, dan diwanti-wanti agar tidak percaya buta dengan apa yang diajarkan pada mereka. Ini adalah narasi yang digaungkan oleh selebriti yang menggunakan kekuasaan mereka untuk mendukung kepercayaan bumi datar, seperti musisi B.O.B, yang menulis cuitan: “Jangan percaya apa kata saya, riset apa yang saya katakan.”

Sebuah pertemuan publik penganut bumi datar adalah produk dan tanda era kita; cerminan dari meningkatnya ketidakpercayaan kita pada institusi ilmiah, dan gerakan menuju populisme dan emosi oleh institusi-institusi pemegang kekuasaan. Dengan nafas yang sama seperti Foucault merefleksikan sistem sosial dengan mempelajari kaum yang terbuang, ada banyak hal yang bisa diungkapkan penganut bumi datar mengenai perubahan hubungan antara kuasa dan pengetahuan. Menilik pada suksesnya kegiatan di Inggris dan konvensi besar yang direncanakan di AS dan Kanada tahun ini—nampaknya kepercayaan bumi datar akan bertahan untuk beberapa lama.

This article was originally published in English