Selalu mendukung pasangan tidak selalu baik, ada sisi gelapnya

Niat pasangan Anda mungkin baik, tetapi dampaknya seringkali tidak. Ron and Joe/Shutterstock.com

Bayangkan Anda memiliki perdebatan sengit dengan rekan kerja, kemudian Anda menghubungi suami atau istri Anda untuk membicarakannya. Pasangan Anda dapat memilih untuk bereaksi melalui satu dari dua cara.

Mereka dapat meyakinkan Anda bahwa Anda benar, rekan kerja Anda salah dan Anda berhak untuk kesal.

Atau pasangan Anda dapat memberikan Anda dorongan untuk melihat konflik tersebut secara objektif. Mereka dapat menunjukkan alasan mengapa rekan kerja Anda mungkin tidak begitu patut disalahkan.

Manakah dari respons ini yang Anda lebih sukai? Apakah Anda menginginkan pasangan yang akan selalu mendukung Anda, atau yang berperan sebagai devil’s advocate?

Manakah yang lebih baik untuk Anda dalam jangka panjang?

Dalam penelitian terbaru, kami ingin menyelidiki bentuk dan dampak dinamika hubungan yang umum ini.

Apakah kita menginginkan dukungan tanpa syarat?

Seperti sebagian besar orang, Anda mungkin menginginkan pasangan yang mendukung Anda. Kita semua cenderung menginginkan pasangan yang berempati dan mengerti kita, peduli akan kebutuhan kita, dan memvalidasi pandangan kita.

Sifat-sifat ini – yang disebut oleh peneliti hubungan sebagai respons antar-pribadi – dipandang sebagai unsur utama dalam hubungan yang kuat. Penelitian telah mengidentifikasikan kaitan antara memiliki pasangan yang responsif dan menjadi bahagia serta stabil.

Namun memiliki pasangan yang berempati tidak selalu merupakan hal yang baik – terutama ketika menyangkut konflik Anda dan orang lain di luar hubungan suami-istri.

Ketika kita berdebat dengan seseorang, kita cenderung meminimalkan peran kita dalam perselisihan dan melebih-lebihkan kesalahan yang dilakukan oleh lawan kita. Hal ini dapat memperburuk konflik.

Setelah terlibat dalam perselisihan, kita biasanya berpaling ke pasangan kita untuk berkeluh kesah (curhat) dan mencari dukungan.

Dalam penelitian kami, kami menemukan bahwa pasangan yang berempati dan perhatian lebih cenderung untuk setuju terhadap pandangan negatif orang yang mereka cintai terhadap musuh mereka dan menyalahkan lawannya atas konflik tersebut.

Kami juga menemukan bahwa orang yang memiliki pasangan dengan tanggapan seperti ini ternyata jauh lebih termotivasi untuk menghindari lawan mereka, cenderung melihat mereka buruk dan tidak bermoral, dan kurang tertarik pada rekonsiliasi. Bahkan, 56% dari mereka yang telah menerima empati jenis ini dilaporkan menghindari lawan mereka, yang dapat membahayakan resolusi konflik dan sering kali berakhir dengan pemutusan hubungan.

Di sisi lain, di antara partisipan yang tidak menerima dukungan seperti ini dari pasangan mereka, hanya 19% yang menghindari lawan mereka.

Empati yang diterima dari pasangan juga berkaitan dengan eskalasi konflik: Setelah pasangan mereka memihak kepada mereka, sebanyak 20% dari partisipan ingin melihat lawan mereka “terluka dan sengsara,” dibandingkan dengan 6% lainnya yang tidak menerima dukungan semacam ini. Dan 41% yang menerima respons empati mencoba untuk hidup seolah-olah lawan mereka tidak ada, dibandingkan dengan 15% yang tidak menerima dukungan seperti itu.

Konsekuensi jangka panjang

Dinamika ini semakin mendalam dari waktu ke waktu. Walaupun respons pasangan memuaskan mereka, tapi mereka jadi tidak terdorong untuk menyelesaikan perselisihan. Akibatnya, mereka terus curhat, sehingga peluang konflik menjadi parah semakin besar. Orang-orang tampaknya mencari pasangan yang justru membuat konflik mereka semakin buruk dari waktu ke waktu.

Apa pelajaran yang bisa diambil?

Kita sering kali menginginkan pasangan yang membuat kita merasa dipahami, diperhatikan dan divalidasi. Dan wajar saja jika ingin orang yang kita cintai untuk merasa didukung.

Namun respons yang menenangkan dan memvalidasi tidak selalu yang terbaik dalam kepentingan jangka panjang kita. Sama seperti mendahulukan pemuasan emosional langsung di atas pemenuhan tujuan jangka panjang bisa merugikan, terdapat kelemahan ketika pasangan kita memprioritaskan untuk membuat kita merasa baik pada saat itu daripada membantu kita menghadapi sulitnya masalah hidup melalui perspektif yang rasional dan tidak bias.

Mereka yang ingin mendukung lebih kesejahteraan jangka panjang orang tercinta secara lebih baik mungkin dapat mempertimbangkan untuk pertama-tama menyediakan empati dan kesempatan untuk curhat. Lalu mereka beralih ke tugas yang lebih sulit, yaitu membantu pasangan untuk berpikir secara objektif tentang konflik mereka dan mengakui bahwa, dalam banyak konflik, kedua belah pihak sama-sama memiliki kesalahan, dan mencoba melihat situasi tersebut dari sudut pandang yang jauh berbeda.

Kenyataan dapat menyakitkan. Namun terkadang orang yang objektif dan tidak memihak adalah yang paling kita butuhkan.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 96,900 academics and researchers from 3,133 institutions.

Register now