Mella Jaarsma, The landscaper 2013, kostum: kayu, cat, besi, dan kulit, video single-channel: 3:40 menit, warna, suara. National Gallery of Australia, Canberra. Purchased 2018. Photo by Mie Cornoedus

Seni Indonesia terlihat segar, energetik, dan hidup di pameran seni di Canberra. Mengapa Australia tidak banyak melihatnya?

Tulisan ini merupakan ulasan atas pameran seni bertajuk Contemporary Worlds: Indonesia di Galeri Nasional Australia hingga 27 Oktober.

Mereka berbicara tentang sebuah keluarga yang berasal dari sebuah bangsa atau banyak keluarga dari berbagai macam bangsa. Di Australia, Inggris masih disebut sebagai negara leluhur, sedangkan Inggris berbicara tentang sepupu mereka, Amerika. Negara-negara yang secara geografis bertetangga memiliki hubungan semacam ini, meski dibumbui dengan sikap pilih kasih atau perselisihan layaknya saudara kandung.

Namun, Australia dan Indonesia, yang secara fisik sangat dekat, tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Kita seperti spesies yang berbeda.

Saya pikir ini adalah inti dari hubungan kedua negara ini yang selalu putus-sambung dan tidak jelas.

Saya baru-baru ini mendengarkan program seni ABC RN pada pameran Contemporary Worlds: Indonesia, di Galeri Nasional Australia. Penyiarnya berbicara tentang seniman Australia yang bepergian ke “New York di Amerika Serikat atau Berlin di Jerman, atau London di Inggris” yang semestinya secara intuitif menyebutkan bahwa mereka mungkin saja bepergian ke “Jakarta, Singapura atau Tokyo, Jepang”.

Zico Albaiquni, For evidently, seni murni tidak berkembang di Hindia Belanda, 2018, minyak dan polimer sintetis dilukis di atas kanvas. Courtesy of the artist and Yavuz Gallery, Singapore

Memang, Contemporary Worlds: Indonesia tampak berasal dari tempat yang asing. Meski kurator dan seniman Australia sudah 30 tahun berhubungan dekat dengan Indonesia; meskipun ada niat baik dan banyak retorika pemerintah tentang “pentingnya hubungan”; meskipun begitu banyak pertukaran pendidikan dan budaya, kedua negara masih terlihat asing.

Saya telah terlibat dalam program pelatihan manajemen seni di Indonesia, lalu menjadi kurator berbagai pameran seni (dari tahun 1990, ketika saya mengadakan Eight Views di Galeri Nasional di Jakarta), lalu sebagai penanggung jawab Asialink Artist-in Residency di Indonesia, dan bertugas di Australia-Indonesia Institute (selalu mengusahakan program seni yang kuat, cerdas, bermakna untuk didukung), dan saya masih melihat orang Australia tidak mengingat nama seniman Indonesia, dan menganggap mereka penting.

Pengajaran bahasa Indonesia di Australia masih diperjuangkan sedangkan pencantuman materi budaya Indonesia secara akademik masih minim.

Namun seni Indonesia dulu dan sekarang ini hebat. Pameran di Galeri Nasional Australia ini menunjukkan bahwa seni Indonesia itu segar, energik, manusiawi, hangat, serius, lucu, pintar, sensitif, dan campuran antara politis dan apolitis.

Tita Salina, 1001st Island - pulau paling berkelanjutan di Archipelago 2015, limbah plastik, jaring ikan, tali, pelampung, bambu, lampu LED dan barel minyak, video saluran tunggal: 14:11 menit, berwarna, bersuara. Courtesy of the artist

Ada banyak karya yang luar biasa: Tita Salina telah membangun rakit sampah yang dia tumpangi ke Teluk Jakarta (ditampilkan di sini sebagai video), komentar yang sepenuhnya berkaitan dengan polusi, tetapi juga indah seperti sajak ratapan.

Yudha “Fehung” Kusuma Putera berpakaian dan memotret sekelompok orang dan hewan beraneka ragam dalam pakaian yang mengubah bentuk mereka - memunculkan komentar humor namun tajam terhadap kita.

Eko Nugroho, We keep it as hope, tidak lebih tidak kurang 2018, sulaman manual pada kain dengan benang rayon. National Gallery of Australia, Canberra. Purchased 2018

Karya grafis Eko Nugroho yang mengacu pada budaya populer relatif terkenal di Australia, tetapi di sini ia mengembuskan udara tiga dimensi ke dalam bentuk kartunnya yang biasanya datar, yang kemudian melenggang di jalan.

Karya Mella Jaasma, seperti biasanya, berkelas. Satu videonya menunjukkan seorang penari sufi yang digambarkan menghadap ke angkasa, memutar-mutar roknya yang terbuat dari tiruan lanskap sentimental kolonial Mooi-Indie (“Hindia yang indah”). Tarian bawah-sadarnya adalah bentuk komentar terhadap kapasitas manusia untuk mencari dan menemukan kekuatan dalam terlepas dari berita bohong - saat ini dan masa lalu.

Dan kemudian ada rumah ajaib Entang Wiharso yang luar biasa yang terbuat dari logam yang dipotong (tapi bisa saja terbuat dari sarang laba-laba berbahan renda), diterangi oleh lampu gantung. Logam itu memproyeksikan bayang-bayang ke dinding sebagai wujud penghargaan lingkungan dala bentuk wayang boneka yang datar dan diterangi dari belakang, meskipun jika diamati lebih dekat, potongan-potongan itu adalah ilustrasi kehidupan dan dunia seniman, yang sepenuhnya relevan dengan hari ini.

Karya-karya ini adalah beberapa seni dari Indonesia. Ini adalah karya seni yang hidup yang semakin diakui di seluruh dunia. Mengapa orang Australia tidak mengetahui hal ini?

Entang Wiharso, Temple of hope: Door to Nirvana 2018, stainless steel, aluminium, cat mobil, bola lampu, kabel listrik, dan batu lava. National Gallery of Australia, Canberra. Commissioned 2018 and Purchased 2019 © Entang Wiharso, Black Goat Studios

Peluang yang terlewatkan?

Kita memiliki banyak peluang, namun pameran di Canberra ini adalah yang pameran seni Indonesia “kontemporer” pertama di Galeri Nasional Australia. Galeri Nasional Australia sebelumnya telah mengadakan pameran citra Islam Indonesia, berwujud kaligrafi dan tekstil - keduanya berkualitas tinggi - tapi mereka bukan bentuk seni kontemporer.

Jaklyn Babington, salah satu dari dua kurator pameran baru ini, dengan jujur mengungkapkan tentang kurangnya seni Indonesia dalam koleksi Galeri Nasional Australia selama.

Hal ini terjadi meskipun para kurator terkemuka berada di dekat Australian Nasional University, di Canberra. Mereka adalah Caroline Turner sebagai kurator utama, lalu David Williams dan Jim Supangkat yang menyeleksi karya seni Indonesia untuk Trienial Asia Pasifik Pertama di Brisbane, hampir 30 tahun yang lalu (pada November 1991 saat saya juga turut serta). Pilihan mereka dan yang selanjutnya telah mengikutsertakan koleksi karya Indonesia yang diadakan di Brisbane … Tapi tidak di Canberra.

Pameran yang sekarang ada di Canberra jelas dikumpulkan dengan cepat - terlalu cepat, karena Babington mencatat mereka tidak memiliki waktu yang “cukup lama” (tidak ada kritik di sini tentang kurator karena adanya pergantian administrasi galeri).

Yudha ‘Fehung’ Kusuma Putera , Past, present and future come together 2017, serangkaian 9 cetakan inkjet dengan instruksi yang menyertainya untuk elemen partisipatif pekerjaan. National Gallery of Australia, Canberra. Purchased 2018

Bandingkan waktu yang dibutuhkan Galeri Nasional Singapura untuk menghimpun karya. Mereka baru-baru ini memperoleh salah satu ikon seni Indonesia abad ke-20, Semsar Siahaan dengan karyanya yang berjudul Olympia. Galeri Nasional Singapura juga memiliki keberanian untuk meneliti dan menyatukan lukisan-lukisan Indonesia abad ke-19 karya Raden Saleh setahun yang lalu, dan memasang koleksi Awakenings, suatu penelitian serius seni tahun 1960-90-an di kawasan Asia termasuk Indonesia - sebuah tampilan yang benar-benar menawarkan karya penelitian baru ke daerah ini.

Tema-tema besar seni Indonesia membutuhkan ruang untuk muncul: untuk menemukan rasa teatrikal, sihir yang bersembunyi, dari kenakalan dan kemurnian moral para dewa, keanggunan garis dan gaya budaya yang dilatih untuk melihat sudut dari lengan atau tekukan lutut. Seni ini juga meresap melalui rasa komunal yang terbentuk di masyarakat untuk membuat objek dan pertunjukan budaya, baik di kota maupun desa.

Sunshower, pameran Seni Asia Tenggara 2017 oleh lembaga-lembaga besar di Tokyo, memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk untuk menemukan bentuknya. Program ajaib yang didirikan oleh Japan Foundation di Indonesia sepuluh tahun yang lalu, Kita! Japanese Artists Meet Indonesia, mengirim para kurator dan seniman untuk bekerja dengan orang Indonesia, dalam suatu proyek yang menyuarakan energi dan minat kreatif yang sama.

Pada 2014, ada pertunjukan seni Indonesia yang penuh inspirasi di Galeri Nasional Victoria di Australia dan menempati ruang yang jauh lebih kecil daripada yang diberikan Galeri Nasional Australia, namun dua kurator, Joel Stern dan Kristi Monfries, menyatukan suara mereka menggunakan seni visual dan keahlian mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Sebuah jalan ke depan

Dulu, Australia dianggap sebagai pemain penting di kancah seni Indonesia. Kami proaktif; kami menciptakan proyek kolaborasi; kami bekerja di seluruh kepulauan - dari Timor Barat ke Sumatra. Pada awal tahun 2000-an kami mundur, tepat ketika orang Indonesia mulai mencapai langkah internasional mereka. Jim Supangkat, kurator kondang dan terhormat, berkata kepada saya sekitar tahun 2005: “ke mana orang Australia pergi?”

Kami telah pergi. Sebagian terhalang oleh kejadian-kejadian tertentu, yang pasti, seperti pengeboman di Bali, tetapi juga oleh komunitas seni Australia yang mungkin lega untuk tidak harus bertemu Indonesia lagi. Pendanaan Dewan Australia untuk proyek-proyek Indonesia tenggelam seperti batu pada tahun-tahun ini; hanya Australia-Indonesia Institute yang menjaga hubungan yang melemah ini.

Eko Nugroho , Carnival trap 2 2018, resin, kawat, plastik upcycled, besi, dan cat polimer sintetis. National Gallery of Australia, Canberra. Purchased 2018

Ulasan ini dimulai dengan berbicara tentang keluarga, sebuah implikasi dari keluarga karena hubungan darah. Jika itu tidak berhasil dengan Indonesia, bagaimana dengan pernikahan? Atau bahkan keterlibatan? Bahkan berpacaran membutuhkan komitmen dan, diharapkan, perasaan akan masa depan, beberapa gagasan bahwa tindakan sekarang dapat mengarah pada hasil positif nantinya.

Bagaimana dengan komitmen untuk mencoba sesuatu untuk jangka waktu yang lama, katakanlah rencana lima tahun? Lembaga-lembaga besar, dan Dewan Australia, program kolaborasi tahunan; seri pembicaraan reguler yang signifikan; tur kuratorial dan tur “hal menarik lainnya” secara reguler di Jawa pada khususnya, untuk melihat pemandangan seni, mengunjungi studio, dan menghadiri banyak pertunjukan.

Atau bagaimana dengan komitmen terhadap Pusat Kebudayaan Australia yang baru di Yogyakarta? Keberadaannya diperdebatkan sekitar 15 tahun yang lalu, dan anggaran diajukan, tapi gagal karena ancaman pengeboman. Hampir setiap negara lain yang berurusan dengan Indonesia secara budaya memiliki masalah ini, kecuali kita (Australia). Pusat kebudayaan tersebut seharusnya menjadi tempat untuk meningkatkan keterlibatan, untuk beberapa diskusi dan pameran; tidak mahal; tidak dikelola oleh pegawai negeri; sedikit bebas dan longgar seperti banyak tempat di Jawa yang mengadakan pameran seni yang memukau.

Ini tentang sebuah komitmen melampui tokenisme; tentang (hubungan) jangka panjang; tentang membangun pengetahuan dan bagaimana kita bisa tetap melaksanakannya. Jika kita menginginkan hal tersebut, maka mungkin hubungan pribadi yang diciptakan akan mengarah pada hasil yang kita semua akui sebagai bagian dari warisan kita.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English