Sering terbang, selebritas seperti Bill Gates dan Paris Hilton menyumbang emisi karbon 10.000 kali lipat orang biasa

Gaya hidup mewah Bill Gates dan Paris Hilton menunjukkan mereka mengeluarkan 10.000 kali lebih banyak emisi karbon akibat bepergian melalui udara lebih banyak daripada orang biasa.

Ini merupakan kesimpulan dari penelitian saya, berdasarkan pengamatan akun media sosial mereka (unggahan Twitter, Instagram, dan Facebook) dan selebritas lainnya, untuk mengetahui tempat yang dikunjungi dan transportasi yang digunakan selama tahun 2017.

Konsekuensinya, perkiraan ini bersifat konservatif karena mereka bisa saja bepergian dengan pesawat jauh lebih banyak tapi tidak membagikan informasi tersebut kepada jutaan pengikut mereka.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara si kaya dan si miskin dalam produksi emisi karbon.

Tahun 2018, rata-rata orang menghasilkan kurang dari lima ton CO₂ secara keseluruhan.

Namun, di dalamnya tersembunyi perbedaan kontribusi emisi yang besar setiap orang.

Perjalanan udara adalah aktivitas manusia yang paling membutuhkan banyak energi. Tidak ada aktivitas manusia lain yang mengonsumsi energi banyak dalam waktu yang sangat singkat. Rata-rata global untuk perjalanan udara adalah 115kg CO₂ per orang per tahun.

Namun, sebagian besar manusia di dunia tidak pernah melakukan perjalanan udara.

Rata-rata global ini justru muncul dari proporsi emisi yang jomplang antara orang kaya dan miskin.

Saya menghitung bahwa Bill Gates, misalnya, menyumbang setidaknya 1.600 ton CO₂ ke atmosfer - dan ini baru dari perjalanan udara saja.

Tentu saja, bukan hanya selebritas penyumbang emisi.

Data terbaru mengungkapkan bahwa 1% penduduk Inggris bertanggung jawab atas hampir seperlima dari semua penerbangan ke luar negeri.

Sementara, hampir setengah (48%) dari populasi Inggris tidak terbang ke luar negeri di tahun 2018.

Kesenjangan karbon

Menunjukkan adanya kesenjangan semacam ini sebagai pengingat bahwa kita telah sepakat untuk mencegah pemanasan global pada kenaikan suhu di bawah 2°C.

Untuk mencapai tujuan ini, maka emisi gas rumah kaca harus berkurang drastis.

Perjanjian Paris telah menyepakati adanya distribusi beban emisi dengan lebih baik antar negara. Artinya, negara penghasil emisi terbesar harus memberikan kontribusi tinggi untuk dekarbonisasi, atau penurunan emisi karbon.

Tentu saja, tetap akan ada kesenjangan di masing-masing negara: ada yang menghasilkan emisi tinggi dan ada yang tidak berkontribusi sama sekali terhadap pemanasan global.

Saya ingin mencari tahu seberapa pentingnya peran penghasil emisi tertinggi dengan menanyakan: Seberapa banyak beban yang harus kita tanggung akibat gaya hidup mereka?

Selebritas, menurut definisi, adalah orang-orang yang berpengaruh dan sebagian besar kaya.

Meski ada bukti menunjukkan seringnya mereka berpergian dengan pesawat, masih sulit menentukan kontribusi mereka terhadap pemanasan global.

Orang yang sangat kaya jarang terwakili dalam survei rumah tangga.

Untuk mengetahuinya, saya melacak gaya hidup jet-set sepuluh selebritas dengan menganalisis tampilan mereka di media sosial.

Saya menganalisis akun Twitter, Facebook, dan Instagram untuk informasi perjalanan mereka.

Untuk membatasi penelitian ini, hanya perjalanan udara yang dicatat, meskipun tentu saja mereka menjangkau jarak (tambahan) dengan mobil.

Saya melihat unggahan media sosial berdasarkan titik asal dan akhir perjalanan, jenis pesawat yang digunakan, dan jarak yang ditempuh. Informasi ini digunakan untuk menghitung kemungkinan penggunaan bahan bakar dan emisi terkait.

Berdasarkan emisi yang dihasilkan, mereka - sebagai bagian kecil saja dari populasi manusia - memiliki peran yang sangat signifikan dalam pemanasan global.

Temuan ini bisa saja mencakup jangkauan yang lebih luas, untuk kalangan elit ekonomi, budaya, dan politik.

Flight shame : Malu terbang karena emisi karbon

Kita telah mengetahui bahwa 10% orang terkaya di dunia memproduksi setengah dari emisi karbon global. Namun sejauh ini, kebijakan iklim cenderung mengabaikan masalah kesenjangan karbon.

Negara-negara di seluruh dunia berfokus pada penurunan emisi karbon dari hasil produksi dalam negeri, namun mengabaikan perbedaan gaya konsumsi yang cukup besar.

Semakin terlihat bahwa krisis iklim tidak akan bisa diatasi apabila segelintir orang, penghasil emisi besar, terus meningkatkan konsumsi energi mereka dan menggambarkan gaya hidup yang dijalani sebagai gaya hidup yang diinginkan banyak orang melalui akun media sosial mereka.

Didukung oleh kekayaan mereka, para elit ini juga berada di luar kerangka kerja berbasis pasar yang diterapkan untuk mengurangi emisi, seperti pajak karbon, pajak penerbangan, atau anggaran karbon bagi maskapai.

Ini juga merupakan masalah utama yang disoroti oleh gerakan anak muda yang sedang berkembang, yang menuntut akuntabilitas karbon yang dihasilkan oleh individu.

Seperti yang ditegaskan Greta Thunberg, “semakin besar jejak karbon Anda, semakin besar tugas moral Anda”. Terbang, sebagai aktivitas yang sangat menguras energi, telah dicap sangat berbahaya dan tidak diinginkan secara sosial.

Pesawat yang ramah lingkungan adalah pesawat yang tidak terbang. Dan Meyers/Unsplash, FAL

Hal ini berujung kepada pertarungan antara norma dan moral sosial terkait perjalanan udara.

Selama puluhan tahun, frequent fliers (orang yang sering terbang dengan pesawat) merupakan gaya hidup yang diinginkan oleh kebanyakan orang.

Rajin bepergian ke luar negeri secara otomatis menyimpulkan kedudukan sosial yang tinggi.

Selebritas, khususnya, telah memupuk perspektif ini melalui gaya hidup glamor yang mereka bagikan di media sosial.

Sepuluh selebriti yang kami teliti, misalnya, secara kolektif menjangkau 170 juta pengikut di Instagram.

Namun, kini, semakin banyak orang orang mulai mempertanyakan tentang apa yang diinginkan, dapat dibenarkan, dan “normal” untuk dikonsumsi.

Dalam kasus ini, dikenal “flight shame” (rasa malu karena menggunakan pesawat udara).

Di beberapa kalangan, perjalanan udara mulai dicap sebagai aktivitas yang merusak.

Ini adalah perubahan besar dari pendekatan produksi ke mitigasi perubahan iklim. Fokus baru pada konsumsi ini menantang setiap individu untuk menata anggaran karbon pribadi yang berkelanjutan. Cara ini mungkin menjadi cara paling kuat untuk memaksa perubahan kebijakan dan industri.

Implikasi kebiasaan terbang oleh para penghasil emisi semakin luas jangkauannya.

Semakin jelas bahwa pemerintah perlu mengikuti keinginan masyarakat dan memperhatikan konsumsi untuk membendung berkembangnya kelas masyarakat jet-set yang berkontribusi secara signifikan terhadap emisi dan orang-orang untuk bercita-cita memiliki gaya hidup yang merusak ini.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

This article was originally published in English