Tentang PSI: perjuangan membela suara minoritas dan kontroversinya

Didirikan oleh mantan penyiar berita, Grace Natalie, PSI juga dikenal sebagai partai baru yang secara spesifik menargetkan pilihan minoritas. Courtesy of PSI/@psi_id

Berbagai kelompok minoritas di Indonesia menghadapi kebenaran yang tidak menyenangkan bagi mereka: siapa pun yang memenangkan pemilihan umum (pemilu), mereka akan kalah, sebab kedua kandidat mengabaikan kepentingan minoritas demi mendapatkan suara mayoritas.


Read more: Power at what cost? Those left out of Indonesia's 2019 presidential election


Menjangkau kelompok-kelompok minoritas dalam negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia telah menjadi hal yang menentukan hidup dan mati sebuah partai. Jika para politikus merangkul mereka (kelompok minoritas), para politikus ini berisiko menganaktirikan kelompok mayoritas dan kehilangan banyak suara.

Hal ini menjelaskan mengapa calon presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo memilih seorang tokoh Muslim konservatif, Ma'ruf Amin sebagai calon wakilnya.

Jokowi, yang memenangkan pemilihan presiden sebelumnya karena kampanyenya yang mendukung nilai-nilai pluralisme, memutuskan untuk mengubah strateginya dengan condong ke arah kaum Muslim konservatif.

Tampaknya Jokowi ingin menghindari kekalahan yang dialami Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jakarta 2017. Ahok, yang beretnik Cina dan beragama Kristen, kalah dalam pilgub karena penolakan dari kelompok konservatif. Ahok adalah wakil Jokowi ketika dia menjadi Gubernur Jakarta. Ahok baru-baru ini dibebaskan dari penjara karena tuduhan penistaan agama.

Namun ketika tampaknya tidak ada tempat bagi kelompok-kelompok minoritas di perpolitikan Indonesia, sebuah partai politik baru bernama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membawa angin segar untuk orang-orang yang terpinggirkan dengan mengangkat isu-isu minoritas dalam kampanyenya.

Muncullah PSI

Didirikan pada November 2014, PSI adalah bagian dari koalisi sembilan partai yang mendukung pemilihan kembali Jokowi menjadi calon presiden untuk lima tahun ke depan.

PSI dikenal sebagai partai yang menargetkan milenial. Mayoritas kader PSI adalah para pemuda dan partai tersebut membatasi keanggotaannya untuk orang di bawah 45 tahun.

Didirikan oleh mantan penyiar berita Grace Natalie, PSI juga dikenal sebagai partai baru yang secara khusus menargetkan suara minoritas.

Sebagai anggota kelompok minoritas sendiri, Grace sangat simpatik terhadap masalah-masalah yang dihadapi minoritas, khususnya perempuan dan non-Muslim, karena dia percaya kelompok-kelompok ini kurang terwakili dalam masyarakat dan politik. Sekitar 45% dari kader mereka juga perempuan.

Di tengah konservatisme agama yang berkembang di masyarakat Indonesia, Grace suka membahas masalah-masalah sensitif dalam pidatonya.

Dalam beberapa kesempatan, pernyataan Grace sempat mengundang kontroversi dengan menyatakan menolak peraturan daerah syariah dan praktik poligami. Karena pernyataannya, Grace telah dilaporkan ke polisi.

Di level akar rumput, kandidat politik PSI juga berjuang untuk tujuan yang sama. Salah satunya adalah kandidat legislatif PSI untuk Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, Almaedawati Erina. Saya menemuinya selama studi lapangan saat menganalisis tren politik sebelum pemilu Indonesia pada Maret 2019.

Almaedawati, seorang perempuan Jawa Kristen dari keluarga multiagama, membela hak-hak minoritas. Dia telah meminta kepada minoritas di daerah pemilihannya dengan menunjukkan bahwa baik PSI maupun dia tidak anti-Islam. Almaedawati memilih untuk menempatkan markas kampanyenya di sebelah masjid desa terkemuka. Dia berjanji menjaga dan merenovasi masjid tersebut jika dia terpilih. Relawannya juga terdiri dari agama dan etnis yang berbeda-beda.

PSI telah menempatkan kandidat di semua provinsi meski tidak di semua kabupaten.

Contoh lain adalah kehadiran PSI di Pontianak, Kalimantan Barat. Anggotanya terdiri dari etnis Madura yang berasal dari Pulau Madura di Jawa Timur. Orang Madura merupakan kelompok minoritas di Kalimantan Barat yang banyak di antaranya merupakan transmigran.

Menganalisis fokus PSI pada minoritas

Beberapa pengamat berargumentasi fokus PSI terhadap minoritas justru merugikan partai tersebut ketimbang menguntungkan.Survei terbaru menunjukkan elektabilitas partai ini masih rendah karena fokus mereka pada kelompok minoritas. PSI dianggap kurang populer karena tidak fokus pada isu-isu ekonomi yang menjadi strategi utama partai politik yang lain untuk mendapatkan suara mayoritas dari masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam beberapa kasus, strategi PSI juga menjadi bumerang. Di Pontianak, etnis minoritas lain seperti etnis Cina merasa keberatan mendekati partai ini karena PSI didominasi oleh orang-orang Madura . Oleh karena itu, fokus dan kampanye partai PSI khususnya di pulau-pulau luar Jawa belum konsisten.

Para aktivis juga mengecam PSI karena tidak konsisten dengan masalah LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual). Di Depok, seorang anggota PSI malah ikut mengecam kelompok tersebut.

Meski demikian, ketika partai lain memilih abstain pada isu-isu minoritas dan masalah intoleransi di Indonesia, PSI melakukan pendekatan berbeda yang telah dinantikan oleh banyak pihak.

Petarung tunggal

Tetapi tampaknya PSI bertarung sendiri.

Fokus PSI terhadap isu-isu minoritas dulu juga digaungkan oleh partai-partai nasionalis tradisional lain, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Di bawah partai koalisi Jokowi, konstituen PDI-P dan PSI tumpang tindih. Tetapi, belakangan ini PSI memperjuangkan masalah minoritas dan intoleransi dengan lebih lantang. Sementara itu, PDI-P telah mengadopsi strategi baru yang lebih mementingkan unsur mayoritas.

Untuk menghasilkan lebih banyak suara, partai-partai nasionalis memutuskan untuk mengabaikan tuntutan etnis minoritas pada berbagai isu, termasuk kasus intoleransi.

Di Surabaya, Jawa Timur, partai-partai politik enggan merangkul waria yang terpinggirkan secara sosial karena takut terkena dampak politiknya.

Di Kabupaten Mojokerto, yang juga di Jawa Timur, berbagai kandidat partai politik takut untuk mengambil sikap setelah sekelompok Muslim setempat dengan paksa menggali mayat seorang Kristen yang dikebumikan di pemakaman umum meskipun sebelumnya pemakaman itu telah diizinkan. Partai politik ini takut menyinggung pemilih yang mayoritas Muslim.

Jika mayoritas partai politik benar-benar telah menganaktirikan suara minoritas, kegigihan PSI dalam menyuarakan hak-hak dan isu-isu minoritas memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia.

Apakah PSI akan menang atau kalah dalam pemilihan legislatif mendatang masih belum bisa dipastikan. Yang jelas, kehadiran PSI memberi peluang yang sudah lama dinantikan bagi kaum minoritas untuk menyuarakan kepentingan mereka tanpa perlu takut akan adanya intimidasi.

Jamiah Solehati menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English