4 alasan mengapa media sosial bisa salah membaca opini publik dalam pemilu di Amerika Serikat

Online discussion doesn’t always accurately reflect the real political landscape. Diskusi online tidak selamanya menggambarkan peta politik secara akurat. Russ Vance/Shutterstock.com

Saya kerap menemukan mitos dan kesalahpahaman tentang data politik, baik dalam kelas yang saya ajar atau dalam pemberitaan media.

Yang paling sering dijumpai adalah pernyataan bahwa hasil survei zaman sekarang tidak akurat. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh situs berita FiveThirtyEight, hasil jajak pendapat tetap akurat dari tahun ke tahun.

Masalah jajak pendapat banyak dibahas setelah pemilihan umum 2016 di Amerika Serikat (AS), ketika hasil survei salah memprediksi kemenangan Donald Trump. Namun, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada penilaian opini publik di Facebook atau Twitter.

Anda mungkin telah melihat beberapa berita utama, seperti “Bernie Sanders mencalonkan diri sebagai presiden, Twitter heboh” dan “Kembalinya Joe Biden ke Instagram menarik 1 juta pengikut.”

Sama halnya dengan obsesi publik terhadap hasil survei, pemberitaan juga sering didorong berbagai hal, mulai dari jumlah pengikut seseorang hingga apakah ada komentar negatif terhadapnya.

Salah prediksi

Ada berbagai alasan yang menjadikan metrik media sosial penting, namun hanya dua yang utama.

Pertama, diskusi online dapat memengaruhi apa – atau siapa – yang media, atau masyarakat luas bicarakan.

Kedua, media sosial kerap digunakan oleh jurnalis, serta tim sukses politik, untuk menilai opini publik.

Pada level paling luas, metrik media sosial, seperti fitur jejak pendapat, digunakan untuk menentukan kandidat mana yang populer. Pada 2016, saya menemukan popularitas Ben Carson mengalahkan kandidat mana pun di Facebook. Tapi kenyataannya dia tidak menjadi presiden.

Bahkan analisis yang lebih mendalam bisa melewatkan realitas yang lebih luas. Sebagai contoh, sebuah artikel dari Forbes pada tahun 2016 mencatat keunggulan Bernie Sanders atas Trump perihal keterlibatan dalam media sosial.

Liputan terhadap hal-hal seperti ini dapat menggiring persepsi yang salah tentang kandidat dan isu mana yang harus dibahas, serta pemahaman tentang opini publik yang lebih luas.

Menurut saya, ada beberapa penjelasan sederhana mengapa masyarakat harus berhati-hati menggunakan unggahan atau data dari media sosial sebagai penilaian terhadap realitas yang lebih luas.

1. Gelembung penyaring

Jika Anda seorang pecandu isu politik, ada kemungkinan Anda suka membaca berita atau menonton melalui televisi.

Nyatanya, jumlah pelanggan koran di Amerika Serikat merupakan salah satu yang terendah dan kurang dari 2% warga Amerika menonton Fox News, CNN, atau MSNBC pada saat jam tayang utama.

Ada kemungkinan bahwa sebagian besar media tidak menyertakan sumber berita tradisional.

Hal yang sama terjadi di media sosial, karena algoritme yang menyaring berita-berita apa saja yang diterima seseorang.

Perusahaan teknologi sudah berencana untuk mengubah cara operasi mereka, tapi sebagian besar perusahaan masih mengandalkan pemberian konten yang relevan untuk tetap bertahan - dengan kata lain, menciptakan gelembung yang membatasi pandangan seseorang terhadap kenyataan yang lebih luas.

Tim peneliti dari Universitas Stanford di Amerika Serikat menemukan bahwa gema (echo chamber) dalam media sosial cenderung mematikan suara-suara moderat selama debat tentang isu-isu penting, seperti pembatasan senjata api. Ini akan menyebabkan masalah untuk orang-orang yang ingin mengurai informasi.

Ini juga merupakan masalah yang berdampak bagi jurnalis dan liputan mereka yang luas. Algoritme yang sama yang membatasi pandangan publik.

Misalnya, para peneliti menemukan bahwa, ketika jurnalis mengutip dari Twitter, mereka cenderung mengutipnya dari sumber “elit” saja, seperti politisi atau selebriti.

2. Bias Twitter

Facebook mungkin mendapat banyak perhatian para pembuat kebijakan karena banyaknya kampanye politik, tapi Twitterlah yang lebih sering dilirik masyarakat dan jurnalis.

Satu penelitian menunjukkan bahwa, sepanjang tahun 2016, Twitter digunakan sebagai sumber berita bagi The New York Times sebanyak 12.234 kali dan bagi The Guardian sebanyak 23.164 kali. Sebagai perbandingan, Facebook dikutip oleh The New York Times dan The Guardian masing-masing sebanyak 6.846 dan 7000 kali.

Ada perbedaan yang besar antara Facebook dan Twitter. Facebook digunakan hampir 70% masyarakat AS, tapi Pusat Penelitian Pew menemukan hanya 22% warga AS menggunakan Twitter.

Dengan demikian, hanya seperlima populasi AS yang menggunakan Twitter dalam peliputan politik.

Lebih lanjut, pengguna Twitter hampir tidak mewakili partai yang mereka dukung. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan The New York Times menunjukkan bahwa pendukung partai Demokrat di Twitter jauh lebih progresif dan liberal dibandingkan rata-rata pendukung Demokrat lainnya.

Metrik Twitter tidak hanya gagal mengukur banyak warga AS, mereka cenderung hanya mengukur hal-hal yang lebih “kiri” atau “kanan” dari kenyataannya.

3. Titik buta pemilih tua

Kesenjangan data ini tumbuh lebih jelas ketika Anda melihat perilaku media sosial secara lebih luas.

Jajak pendapat tradisional mencoba menemukan publik yang mewakili mereka akan ikut memilih. Tidak demikian dengan media sosial.

Pada tahun 2020 diprediksi 23% pemilih berusia lebih dari 65 tahun. Menurut catatan Pew, ini akan menjadi “yang tertinggi sejak 1970.”

Pertanyaan: siapa yang masih belum menggunakan media sosial?

Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan media sosial telah meluas hingga mereka yang berusia di atas 65 tahun. Namun, tidak ada platform yang digunakan oleh lebih dari 46% dari populasi ini.

Hanya tujuh persen dari warga di atas 65 tahun yang menggunakan Twitter. Sementara penggunaan Reddit - platform politik-sentris lain - hanya sebesar 1%.

Ada perbedaan besar antara mereka yang paling mungkin menggunakan media sosial dan mereka yang paling mungkin memilih. Itu menyebabkan masalah besar ketika membandingkan dinamika pemilih yang lebih luas dengan metrik media sosial.

4. Yang belum diketahui tentang pemilih muda dan beragam

Ada masalah lain: pemilih berusia 18 sampai 24 tahun kemungkinan besar menggunakan Instagram atau Snapchat seperti mereka menggunakan Facebook.

Karena jurnalis bergantung pada platform seperti Facebook dan Twitter, mereka mungkin melewatkan sesuatu yang juga penting dan ramai diperbincangkan oleh pemilih muda.

Lebih lanjut lagi, orang-orang Afrika Amerika dan Hispanik menggunakan Snapchat dan Twitter lebih intens daripada orang kulit putih. Kini, mayoritas Hispanik menggunakan Instagram, dibanding dengan hanya sepertiga orang kulit putih yang memakai platform itu.

Mengabaikan data media sosial berarti melewatkan beberapa pandangan tentang pemilih. Setiap penilaian data sosial perlu dilakukan hati-hati agar tidak salah dalam membaca apa yang sebenarnya data tunjukkan tentang publik.

Banyak hal yang belum diketahui ketika menganalisis data media sosial - dan para pengumpul data perlu berpikir kritis tentang apa yang sebenarnya para pemilih ini cari.

Jadi, jangan berasumsi bahwa apa yang Anda lihat di media atau media sosial sesuai dengan dinamika yang terjadi di antara calon pemilih, apalagi mereka yang berada di negara bagian, desa, atau demografi tertentu.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa inggris

This article was originally published in English