Graphics: Emil Jeyaratnam/The Conversation; Photos: Mohammed Saber/EPA

Alasan jurnalis harus paham tata bahasa agar dapat menulis secara akurat mengenai kekerasan

Pembunuhan orang-orang Palestina yang tidak bersenjata oleh tentara Israel tidak hanya memicu protes, yang masuk akal, tapi juga komentar mengenai penggunaan bahasa oleh wartawan yang melaporkan kejadian-kejadian ini.

Misalnya, Moustafa Bayoumi dari City University of New York menulis:

Inilah nasib ganjil dari orang-orang tertindas di mana pun yaitu ketika mereka dibunuh, mereka dibunuh dua kali: pertama oleh peluru atau bom, dan kemudian oleh bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kematian mereka.


Read more: US can no longer be counted on to end Israel-Palestinian conflict


Bayoumi menarik perhatian kita pada salah satu peran terpenting dari jurnalisme modern: menggambarkan kekerasan politik dalam kata-kata.

Kabar buruknya bagi para wartawan adalah bahwa tidak ada mode netral. Jika kata-kata yang wartawan gunakan terdengar netral, kemungkinan besar wartawan menghindar menempatkan tanggung jawab terhadap pembunuhan, atau telah mengisyaratkan adanya tanggung jawab secara tidak langsung.

Secara linguistik, banyak cara untuk melakukan ini.

Suara tata bahasa

Salah satu struktur tata bahasa yang terkenal adalah kalimat pasif. Struktur ini sangat terkenal, tapi sering disalahpahami. Contohnya, Bayoumi mengkritik cuitan dari New York Times yang menafsirkan pembunuhan demonstran Palestina sebagai berikut:

Bayoumi, seperti banyak komentator di Twitter, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap reportase tersebut dengan argumen bahwa dengan kata-kata tersebut pelaku kekerasan menjadi tidak terlihat. Gambar yang menemani laporan tersebut, yang menunjukkan orang-orang Palestina dan bukannya tentara Israel, menggemakan pilihan ini.

Bayoumi salah menyebut struktur tersebut kalimat pasif. Versi kalimat pasif akan terlihat seperti ini:

Puluhan orang Palestina telah dibunuh dalam protes sementara AS menyiapkan pembukaan Kedutaan Besar mereka di Yerusalem.

Kalimat pasif menempatkan objek dari predikat di awal. Lebih spesifik lagi, kalimat pasif membuat objek dari kata kerja menjadi subjek dari klausa tersebut. Kita menggunakannya untuk memberi tekanan lebih terhadap orang atau benda yang terdampak dari sebuah aksi.

Karena kalimat pasif menempatkan orang atau benda yang mengalami sebuah tindakan sebelum kata kerja, penulis memiliki pilihan untuk menyebut atau tidak menyebut agen dari aksi. Kalimat pasif membiarkan kita untuk tidak menyertakan agen pelaku: dalam contoh saya di atas, orang-orang Palestina dibunuh, tapi siapa atau apa yang membunuh mereka tidak disebutkan.

Kita tentu dapat menempatkan agen pelaku dalam klausa, seperti yang didorong oleh banyak orang lewat Twitter. Pada contoh-contoh ini, “tentara Israel” dan “angkatan bersenjata Israel” dinamakan sebagai pelaku.

Aktif, pasif, dan suara tengah

Judul dari artikel New York Times sebenarnya mengidentifikasi pelaku dan menggunakan kalimat aktif:

Israel Membunuh Puluhan di Perbatasan Gaza sementara Kedutaan Besar AS Dibuka di Yerusalem

Kalimat aktif adalah struktur yang menempatkan agen pelaku aksi sebagai subjek dari klausa.

Kalimat aktif dan pasif sama dalam hal penting ini: Mereka menafsirkan aksi sebagai hal yang melibatkan dua partisipan: satu yang melakukan aksi, dan partisipan lainnya yang terdampak aksi tersebut. Aksi semacam ini disebut “transitif”.

Cuitan New York Times’ – “Orang Palestina telah tewas …” – menggambarkan pembunuhan orang Palestina oleh tentara Israel menggunakan “suara tengah” atau struktur “intransitif”.

Dengan menggambarkan kekerasan dengan cara ini, The New York Times menawarkan kepada para pembacanya satu dan hanya satu partisipan: orang Palestina, yang tewas tanpa referensi pada penyebab apa pun.

Menempatkan tanggung jawab terhadap sesuatu yang bukan manusia

Satu cara lain untuk menampilkan pelaku adalah dengan menempatkan tanggung jawab terhadap entitas non-manusia. CBS news, contohnya, memberikan judul untuk pembunuhan lanjutan tentara Israel terhadap orang Palestina sebagai berikut:

Tembakan Israel pada protes baru di perbatasan membunuh 4 orang Palestina

Recent CBS Headline. CBS

Bukannya menempatkan tanggung jawab pada manusia, wartawan menempatkan tanggung jawab pada “Tembakan Israel”. Secara tata bahasa, aksi “menembak” diubah menjadi kata benda dan ditempatkan dalam peran agen dalam tata bahasa.

Hal ini memberikan efek mengambil alih tanggung jawab dari manusia, yang menghilangkan adanya niat dari manusia. Perlu dicatat juga bahwa CBS menempatkan penggambaran agensi secara tidak langsung ini dengan gambar yang menunjukkan orang Palestina sebagai agen kekerasan.

Ini variasi lain dari tema ini, dari Gulf News:

16 orang Palestina dibunuh dalam pertikaian dekat perbatasan Israel

Judul ini menggunakan kalimat pasif dan meninggalkan agen aksi. Judul ini malah menggambarkan kematian-kematian tersebut sebagai konsekuensi dari “pertikaian”. Bukan hanya agensi manusia yang dihilangkan, tapi kekerasan yang terjadi digambarkan terjadi antara dua pihak yang setara, dan terlibat dalam aksi dua arah.

Mengingat 60 orang Palestina dibunuh, tapi tak seorang pun dari Israel, ide bahwa ini adalah pertempuran yang setara tidak terdengar masuk akal.

Klausa utama versus klausa pendamping

Satu cara lain untuk membuat pelaku pembunuhan tidak terlihat adalah pilihan untuk mendistribusikan informasi dalam dua klausa terpisah.

Sebagai contoh, USA Today melaporkan:

Pasukan Israel menembak demonstran Palestina, meninggalkan setidaknya 14 orang tewas dekat perbatasan Gaza.

Dengan menggunakan dua klausa, para wartawan ini memisahkan aksi pasukan Israel dari konsekuensinya. Aksi menembak orang Palestina ditempatkan dalam satu klausa, sementara efek dari aksi ini ditempatkan di klausa terpisah.

Perlu dicatat pemilihan tata bahasa untuk menempatkan kematian 14 orang Palestina ada pada klausa dependen.

Pilihan tata bahasa ini memberi makna bahwa aksi pasukan Israel diberi tempat lebih penting (dengan menempati klausa utama dalam struktur ini), sementara kematian orang Palestina, yang merupakan akibat langsung yang dapat diprediksi dari aksi-aksi tersebut, digambarkan sebagai kelas bawah, seakan-akan merupakan hasil sampingan yang tidak menguntungkan dari aksi-aksi ini.

Hubungan kausal antara apa yang dilakukan pasukan Israel dan konsekuensinya bahkan lebih diperlemah dengan pilihan kata kerja leksikal. “Meninggalkan orang tewas” tidak sama dengan “membunuh”. “Meninggalkan (mereka) mati” mengubah aksi membunuh menjadi kata sifat yang menggambarkan korban aksi.

Contoh-contoh di atas adalah puncak dari gunung es. Diskusi yang lebih lengkap mengenai cara-cara jurnalis menghindar memberi atribut tanggung jawab dalam kematian yang disebabkan kekerasan politik tersedia dalam buku saya yang akan terbit.

Mengapa wartawan tidak diajarkan mekanisme tata bahasa?

Meskipun pemahaman mengenai cara kerja tak kasat mata dari bahasa sangat penting, hanya sedikit mahasiswa jurnalistik atau komunikasi yang diajarkan mengenai intrikasi pola-pola yang mesti mereka pilih ketika menulis berita.

Pendidik jurnalisme mungkin sengaja tidak menggunakan pengetahuan ini. Namun wartawan tidak dapat lepas dari efek struktur-struktur linguistik ini dari makna yang mereka beri pada kejadian-kejadian penting. Lebih baik tahu implikasi dari tata bahasa daripada menulis tanpa tahu efeknya.

This article was originally published in English