Banyak warga muslim Australia yang hidup dengan diabetes. From shutterstock.com

Antara kesehatan dan keimanan: Mengelola diabetes tipe 2 selama Ramadan

Bulan suci Ramadan, momen ketika umat Islam di seluruh dunia berpuasa pada siang hari, dimulai awal bulan ini. Apakah memiliki diabetes tipe 2 membebaskan seseorang dari kewajiban berpuasa? Belum tentu. Keputusan untuk berpuasa ada di tangan orang tersebut, tapi informasi dari para profesional kesehatan dapat membantu.

Diabetes adalah penyakit kronis yang tumbuh paling cepat di Australia. Sekitar 6% orang dewasa Australia melaporkan mereka mengidap diabetes, walaupun angka ini diperkirakan lebih kecil dari prevalensi sebenarnya. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan 6,9% orang dewasa (sekitar 12 juta) terkena diabetes.

Diabetes tipe 2, tipe mayoritas kasus diabetes, terjadi ketika tubuh menjadi resistan terhadap aksi insulin, atau kehilangan kemampuan untuk menghasilkan insulin yang cukup dari pankreas. Insulin menjaga kadar glukosa darah tubuh dalam kadar yang sehat.

Orang dengan diabetes tipe 2 dapat mengelola kondisi ini dengan mempertahankan gaya hidup sehat, seperti olahraga dan menjaga pola makan sehat. Dalam kasus yang lebih serius, penderita diabetes tipe 2 mungkin perlu minum obat seperti metformin, sulfonylureas, atau tablet penurun glukosa lainnya, atau injeksi insulin yang diberikan sendiri.

Diabetes tipe 2 mempengaruhi glukosa darah tubuh, atau kadar gula darah. Dari shutterstock.com

Diabetes tipe 2 lebih mempengaruhi beberapa etnis tertentu dibandingkan etnis yang lain. Di Australia, kondisi ini lebih umum dialami pada orang dengan latar belakang Timur Tengah, Afrika utara dan Asia Selatan/Tenggara.

Kita sedang memasuki bulan Ramadan

Praktik diet seperti puasa, makan (buka) bersama, dan konsumsi makanan khusus merupakan komponen penting dari banyak perayaan keagamaan dan budaya.

Bagi umat Islam, puasa selama bulan Ramadan adalah kewajiban untuk semua orang dewasa yang sehat, untuk menahan diri dari makan, minum, dan minum obat antara fajar dan matahari terbenam.

Selama Ramadan, kebanyakan orang makan dua kali sehari, saat matahari terbenam dan sebelum matahari terbit. Ini bisa berisiko bagi penderita diabetes tipe 2, terutama mereka yang menggunakan insulin atau obat diabetes oral tertentu, karena beberapa alasan.

Puasa siang hari sering diakhiri dengan buka bersama, atau yang biasa disebut dengan Iftar. Dari shutterstock.com

Pertama, puasa pada siang hari dapat meningkatkan risiko kadar glukosa darah rendah pada orang yang biasanya menggunakan insulin atau obat penurun glukosa darah lainnya.

Dan sebaliknya, makan malam untuk berbuka puasa, yang disebut “Iftar,” sering melibatkan makan sejumlah besar makanan kaya kalori dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini dapat membuat penderita diabetes berisiko mengalami kadar glukosa darah tinggi dalam semalam.

Kelalaian atau perubahan waktu pemberian obat juga dapat menyebabkan ketidakstabilan kadar glukosa darah.

Kadar glukosa darah yang rendah dapat menyebabkan gejala berkeringat, gemetar, dan kebingungan. Jika parah, dapat menyebabkan kejang, koma, atau bahkan kematian. Kadar glukosa darah yang tinggi membuat orang merasa lelah dan umumnya merasa tidak baik dan dapat menyebabkan dehidrasi dan konsentrasi yang buruk. Tingkat yang sangat tinggi dapat menjadi kondisi darurat medis.

Ada pedomannya

Menurut ajaran Islam, orang tua, ibu hamil, atau mereka yang sakit sehingga membutuhkan pengobatan rutin–seperti diabetes–dapat dibebaskan dari puasa karena alasan medis.

Kelompok tertentu seperti penderita diabetes tipe 2 yang tidak menggunakan insulin atau obat oral tertentu dapat berpuasa dengan aman selama Ramadan di bawah bimbingan profesional perawat kesehatan mereka.

Tapi karena pola makan, gaya hidup, dan penggunaan obat-obatan adalah faktor kunci dalam mempertahankan kadar glukosa darah yang stabil dan meminimalkan komplikasi diabetes, banyak orang dengan diabetes tipe 2 juga dapat dianggap secara medis dibebaskan dari puasa.

Pedoman praktis didirikan oleh International Diabetes Federation-Diabetes and Ramadan (IDF-DAR) International Alliance membantu para profesional kesehatan untuk menilai tingkat risiko pasien.

Pasien berisiko rendah dapat menikmati puasa dengan aman, sementara mereka yang berisiko sedang hingga tinggi disarankan untuk tidak berpuasa.

Namun tidak semudah itu

Bulan Ramadhan adalah waktu khusus bagi umat Islam, saat puasa dan makan besar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beragama, interaksi sosial dan perayaan komunal.

Karena puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, ada keinginan kuat untuk berpartisipasi, bahkan di antara mereka yang bisa dikecualikan karena alasan medis.

Mereka yang tidak dapat berpuasa karena alasan medis mungkin merasa terasing oleh diabetes mereka dan mengembangkan sikap negatif terhadapnya, sehingga kemungkinan mengakibatkan gangguan manajemen diri dari kondisi mereka.

Beberapa orang dengan diabetes sendiri mungkin enggan untuk mengangkat topik diabetes, takut akan kurangnya pemahaman dari tenaga kesehatan non-Muslim. Mereka dapat menyembunyikan niat mereka untuk berpuasa untuk menghindari konflik yang dirasakan oleh tenaga kesehatan.

Memahami makna spiritual bulan ini bagi umat Islam serta aspek praktis dapat menempatkan praktisi kesehatan dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk mendapatkan kepercayaan pasien dan memfasilitasi terjalinnya komunikasi.

Tenaga medis perlu diskusi dengan penderita diabetes

Bulan Ramadan ditentukan menurut kalender bulan Islam dan bervariasi setiap tahunnya menurut kalender Barat. Para tenaga kesehatan yang merawat orang-orang yang merayakan Ramadan harus mengetahui waktunya dan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Para Muslim dengan diabetes yang ingin merayakan Ramadan harus diberi tahu tentang risiko berpuasa. Berdasarkan pedoman, penyedia layanan kesehatan dapat meyakinkan pasien mereka bahwa mereka yang tidak berpuasa karena alasan medis juga menerima imbalan spiritual dan tidak seharusnya merasa bersalah.

Tenaga kesehatan mungkin dapat menyarankan memberikan sumbangan makanan atau uang kepada orang miskin sebagai alternatif, jika itu sesuai dengan kemampuan orang tersebut.

Seseorang dengan diabetes mungkin perlu memeriksa gula darahnya lebih sering jika sedang berpuasa. Dari shutterstock.com

Diskusi tentang Ramadan harus terjadi dengan cara yang sensitif secara budaya dan cara yang tidak menghakimi, sehingga menghargai hak seseorang untuk mengevaluasi risiko dan manfaat puasa–baik spiritual dan fisik–untuk diri mereka sendiri, dan menentukan dari perspektif individu apakah puasa adalah keputusan yang tepat.

Bagi mereka yang memilih untuk berpuasa terlepas dari pengecualian mereka, diskusi tentang pemantauan glukosa, nutrisi, olahraga dan perubahan obat potensial dapat membuat mereka berpuasa seaman mungkin.

Tim perawatan kesehatan diabetes (yang dapat mencakup dokter umum, ahli endokrin, diabetes pendidik, ahli diet, dan praktisi perawat diabetes) juga dapat mengembangkan rencana manajemen khusus Ramadan yang disesuaikan dengan individu.

Memahami berbagai latar belakang budaya, gaya hidup, dan praktik keagamaan orang yang berbeda memainkan peran penting dalam perawatan kesehatan mereka. Kurangnya pemahaman dapat menyebabkan hasil kesehatan yang lebih buruk dan pelepasan dari layanan kesehatan.

Sementara itu, penelitian menunjukkan program pendidikan dan pencegahan diabetes yang sesuai dengan budaya memberi hasil yang lebih baik untuk orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

Profesional layanan kesehatan harus mendidik diri mereka sendiri mengenai latar budaya dan populasi pasien lokal untuk mempertahankan hubungan terapeutik yang efektif sehingga mencapai hasil terbaik yang berfokus pada pasien.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English