shutterstock

Bagaimana cara mengatasi ketakutan terhadap matematika, ubahlah cara berpikir Anda

Menganggap matematika bukan pelajaran favorit bagi semua orang adalah hal yang wajar. Bahkan, bagi banyak orang, perasaan tegang dan cemas yang muncul saat mencoba menyelesaikan soal matematika dapat sangat mengganggu pikiran. Kondisi ini dikenal sebagai “kecemasan matematika”–dan perasaan sebagai orang yang selalu gagal menguasai matematika ini dapat memengaruhi harga diri orang-orang hingga bertahun-tahun kemudian

Bagi orang-orang yang menderita kecemasan matematika, beralih dari pola pikir kegagalan ke pandangan yang lebih positif ketika berhadapan dengan angka bisa jadi hal yang sulit. Inilah sebabnya, bagi banyak orang, kecemasan matematika bisa menjadi masalah seumur hidup.

Akan tetapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa jika guru menangani kecemasan matematika di kelas dan mendorong anak-anak untuk mencoba mendekati masalah dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengubah pola pikir mereka, ini bisa menjadi pengalaman yang memberdayakan. Hal ini khususnya terjadi pada siswa dari latar belakang yang kurang beruntung.

Teori pola pikir

Profesor psikologi Amerika Serikat Carol Dweck muncul dengan gagasan “teori mindset/pola pikir”. Dweck menyadari bahwa orang sering dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, mereka yang percaya bahwa mereka buruk dalam sesuatu dan tidak dapat berubah, dan mereka yang percaya kemampuan mereka dapat tumbuh dan meningkat.

Ini membentuk dasar dari teori pola pikirnya, yang menyatakan bahwa beberapa orang memiliki “pola pikir tetap” (fixed mindset), yang berarti mereka percaya kemampuan mereka seperti telah ditetapkan dari awal dan tidak dapat ditingkatkan. Orang lain memiliki “pola pikir bertumbuh” (growth mindset) yang berarti mereka percaya kemampuan mereka dapat berubah dan meningkat seiring waktu dengan usaha dan latihan.

Matematika bisa menyenangkan - kalau saja itu diajarkan dengan secara tepat. Shutterstock

Jo Boaler, penulis pendidikan Inggris dan profesor pendidikan matematika, menerapkan teori pola pikir pada matematika, kemudian menyebutkan rekomendasinya sebagai “pola pikir matematis”.

Dia telah menggunakan teori ini untuk mendorong peserta didik untuk mengembangkan pola pikir bertumbuh dalam konteks matematika. Idenya adalah bahwa soal-soal matematika itu sendiri dapat membantu meningkatkan pola pikir bertumbuh pada siswa.

Pola pikir baru

Teori ini sering dijelaskan dalam istilah plastisitas otak atau kemampuan otak untuk tumbuh. Ini menimbulkan keluhan tentang kurangnya bukti neurologis yang mendukung teori pola pikir. Penelitian terbaru kami bertujuan untuk mengatasi hal ini.

Secara umum, untuk setiap soal dalam matematika terdapat lebih dari satu cara untuk menyelesaikannya. Jika seseorang bertanya kepada Anda berapa tiga dikalikan empat, Anda dapat menghitung jawabannya sebagai 4+4+4 atau 3+3+3+3, tergantung pada preferensi Anda. Namun jika Anda belum mengembangkan kematangan matematika yang cukup atau memiliki kecemasan matematika, Anda akan sulit melihat bahwa ada berbagai cara untuk menyelesaikan soal-soal. Penelitian baru kami menunjukkan bahwa “pola pikir bertumbuh” dapat mengatasi kecemasan matematika .


Read more: Maths: six ways to help your child love it


Kami mengukur motivasi para partisipan untuk memecahkan masalah matematika dengan bertanya tentang motivasi baik sebelum dan sesudah setiap soal yang ditunjukkan. Kami juga mengukur aktivitas otak partisipan, khususnya melihat area yang terkait dengan motivasi, ketika mereka memecahkan setiap soal. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan electroencephalogram (EEG) yang mencatat pola aktivasi di seluruh otak.

Dalam penelitian ini, kami menampilkan pertanyaan-pertanyaan dengan cara yang berbeda untuk menilai bagaimana struktur pertanyaan dapat mempengaruhi kemampuan partisipan kami untuk menjawabnya dan motivasi mereka sewaktu menjawab soal matematika.

Setiap pertanyaan muncul dalam dua format: satu sesuai dengan pengajaran matematika yang umum dan satu lagi mengikuti rekomendasi teori pola pikir matematika. Kedua pertanyaan itu pada dasarnya mengajukan pertanyaan yang sama dan dengan jawaban yang sama, seperti dalam contoh sederhana berikut:

“Temukan angka yang merupakan jumlah dari 20.000 dan 30.000 dibagi dengan dua” (soal matematika yang umum) dan “Temukan angka yang menjadi titik tengah antara 20.000 dan 30.000” (contoh dari soal pola pikir matematika).

Pola pikir bertumbuh

Penelitian kami memberikan dua temuan penting.

Temuan pertama adalah bahwa motivasi peserta lebih besar ketika memecahkan masalah versi pola pikir matematika dibandingkan dengan versi standar–yang diukur dengan respons otak mereka ketika memecahkan soal tersebut. Hal ini diasumsikan terjadi karena susunan pola pikir matematika mendorong siswa untuk memperlakukan angka sebagai titik dalam ruang dan melakukan manipulasi konstruksi spasial (berkenaan dengan ruang).

Temuan kedua adalah bahwa motivasi yang dilaporkan secara subjektif oleh peserta secara signifikan menurun setelah mencoba pertanyaan matematika yang lebih standar.

Penelitian kami dapat ditindaklanjuti dengan segera karena menunjukkan bahwa terdapat beberapa metode untuk menyelesaikan soal, atau dengan menambahkan sebuah komponen visual, memungkinkan pembelajaran matematika menjadi pengalaman yang memberdayakan bagi semua siswa.

Jadi bagi orang-orang yang menderita kecemasan matematika, Anda akan lega mengetahui bahwa Anda sebenarnya tidak “buruk” dalam matematika dan kemampuan Anda tidak tetap. Ini sebenarnya hanya sebuah kebiasaan buruk yang Anda kembangkan karena pengajaran yang buruk. Dan kabar baiknya, kondisi ini dapat diatasi.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English