Bekerja dari rumah ternyata membawa dampak buruk bagi para pekerja

Bekerja dari rumah berarti membawa sebagian bobot pekerjaan Anda ke rumah. shutterstock.com

Bekerja dari rumah ternyata membawa dampak buruk bagi para pekerja

Bagaimana jika Anda tidak memiliki keharusan untuk bekerja di kantor?

Anda dapat mengurus anak-anak Anda saat libur sekolah. Anda juga tidak perlu bermacet-macetan. Atasan Anda juga dapat diuntungkan dengan adanya peningkatan produktivitas, berkurangnya karyawan yang berhenti bekerja, serta berkurangnya biaya yang dikeluarkan untuk sewa kantor. Namun, bekerja di rumah juga membawa beberapa kerugian.

Pada tahun 2010, di Australia, sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan jaringan internet di tingkat nasional, pemerintahan Perdana Menteri Julia Gillard menetapkan target agar masyarakatnya bekerja dari rumah dengan memanfaatkan jaringan internet (teleworking) dengan harapan Australia dapat melakukan penghematan ekonomi sebesar A$1,4 miliar (Rp 14 triliun) hingga $1.9 miliar setiap tahunnya jika 10% dari pekerja bekerja dari rumah separuh waktu.

Pemerintahan selanjutnya meninggalkan ide tersebut. Laman www.telenetwork.gov.au sudah tidak lagi dapat diakses, selain itu saat ini sudah tidak lagi ditemukan data statistik yang dapat dipercaya mengenai teleworking.

Sekalipun demikian, ide tentang teleworking tetap menarik untuk ditelusuri.

Ini terlihat seperti ide yang baik

Beberapa penelitian menemukan bahwa bekerja dari rumah mengurangi kepenatan yang diakibatkan oleh waktu perjalanan dari dan ke kantor, kemacetan, dan dampak lingkungan lainnya. Secara global, semakin banyak pemberi kerja yang mengizinkan karyawannya bekerja secara teleworking untuk menarik dan mempertahankan stafnya.

Sedangkan para pekerja, terutama generasi milenial, memandang teleworking sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.

Kantor, juga seakan telah menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang. Beberapa penelitian menemukan bahwa karyawan yang bekerja di kantor dengan desain kantor terbuka (open-plan offices) yang modern merasa sangat terganggu dengan kebisingan dan interupsi-interupsi yang tak berkesudahan yang menyebabkan mereka tidak dapat berkonsentrasi


Read more: Akan terlihat seperti apakah bekerja pada tahun 2030?


Dalam riset saya mengenai tempat kerja, para karyawan sering berkata kepada saya bahwa mereka harus berkerja dari rumah untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya.

Penelitian lainnya mendukung temuan ini. Sebuah penelitian yang dilakukan selama dua tahun dengan menggunakan sampel dari dua kelompok yang dibentuk secara acak menemukan bahwa terdapat kenaikan produktivitas sebesar 13%. Penelitian ini juga menemukan bahwa kecenderungan karyawan untuk pindah kerja pada karyawan yang bekerja di rumah menurun sekitar 50% dan mereka (para karyawan yang bekerja di rumah) mengambil lebih sedikit cuti. Selain itu, perusahaan menghemat sekitar US$2.000 (Rp 28 juta) untuk biaya sewa kantor per karyawan.

Alasan-alasan tersebut cukup memberikan alasan bagi pemberi kerja untuk membebaskan karyawannya bekerja dari rumah bagi mereka yang dapat melakukannya. Namun sebuah temuan penting dalam penelitian yang sama memberikan sebuah peringatan tentang bahaya teleworking.

Lebih dari setengah partisipan yang bekerja dari rumah merasa sangat terisolasi sehingga mereka mengubah pikirannya untuk bekerja dari rumah setiap saat.

Tunggu sampai Anda merasakannya…

Ini ternyata bukan hanya masalah perasaan terisolasi dan kesepian

Sebuah riset juga menemukan bahwa bahwa bekerja dari rumah memberikan pengaruh buruk bagi kekompakan tim dan inovasi.

Pada tahun 2013, direktur eksekutif Yahoo, Marissa Mayer, melarang karyawannya untuk bekerja dari rumah. Mayer mengatakan, “untuk menjadi sebuah tempat kerja yang baik, komunikasi dan kolaborasi sangatlah penting, jadi kita harus bekerja berdampingan. Itulah mengapa kehadiran kita semua di kantor sangatlah penting.”

Sejak saat itu, beberapa perusahaan besar lainnya telah mengikuti pandangan Mayer, termasuk Bank of America dan IBM

Berbeda dengan pandangan umumnya, penelitian menunjukkan bahwa meski pun ketersediaan laptop dan perangkat kerja jarak jauh lainnya semakin banyak, justru kedekatan fisik menjadi lebih penting.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa para pekerja yang berbagi kantor secara fisik memiliki 20% lebih besar kemungkinan untuk berhubungan secara digital dibandingkan para pekerja yang bekerja jarak jauh. Karyawan yang bekerja di kantor yang sama melakukan komunikasi melalui surat elektronik kepada karyawan lainnya empat kali lebih sering dibanding dengan karyawan yang tidak bekerja di kantor. Sebagai hasilnya, para karyawan yang bekerja di kantor yang sama ini dapat menyelesaikan sebuah proyek 32% lebih cepat dibanding dengan karyawan yang bekerja jarak jauh.

Penelitian lainnya menemukan bahwa interaksi tatap muka penting untuk mengidentifikasi peluang untuk melakukan kolaborasi, dan mengembangkan relasi serta jaringan.

Penelitian lainnya tentang pekerja yang bekerja dari rumah di 15 negara menemukan bahwa 42% dari mereka memiliki kesulitan untuk tidur, dan sering terbangun pada malam hari bila dibandingkan dengan hanya 29% bagi pekerja yang bekerja di kantor.

Sekitar 41% pekerja yang bekerja di rumah hampir selalu merasa tertekan dibandingkan dengan hanya 25% karyawan yang bekerja di kantor fisik.

Tekanan itu kebanyakan dilatarbelakangi oleh tuntutan untuk terus menerus terhubung dengan perangkat seluler, yang biasanya disimpan dekat dengan tempat tidur, belum lagi tantangan lainnya dari bekerja di rumah.

Melacak kolega agar proyek tetap berjalan dan mencoba melakukan pertemuan daring (online) dengan dikelilingi oleh anak-anak, anjing yang menggonggong atau gangguan lainnya, tidaklah semudah yang terlihat.

Mungkin tidaklah aneh jika penelitian lainnya menemukan bahwa alih-alih membantu, bekerja dari rumah cenderung mengganggu kehidupan keluarga.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa orang yang berulang kali tidak bisa hadir secara fisik di kantor dapat terhambat karirnya. Mereka bisa tidak mendapatkan kesempatan mendapatkan proyek baru atau promosi jabatan. “Tidak terlihat” juga dapat berarti “tidak ada dalam pikiran”.

Untuk sebagian orang, pilihan terbaik adalah menjalaninya dengan seimbang

Terdapat alasan yang kuat dan berbasis bukti untuk bekerja dari rumah maupun bekerja di kantor secara fisik. Jadi, mana pilihan yang terbaik?

Satu hal yang pasti adalah para pekerja tidak boleh dipaksa untuk bekerja dari rumah karena kantor terlalu berisik bagi mereka untuk berkonsentrasi.

Para pemberi kerja harus memastikan bahwa tempat kerjanya telah didesain secara efektif untuk jenis pekerjaan yang harus dikerjakan, juga untuk tipe orang yang melakukan pekerjaan tersebut.

Akses terhadap kerja yang fleksibel, termasuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja dari rumah, penting. Namun hal tersebut harus diimbangi dengan interaksi tatap muka.


Read more: Anda kecanduan gawai bagai zombi? Ini beberapa fitur untuk menghentikannya


Salah satu jalan tengah bagi para pekerja yang bekerja dari rumah adalah dengan memiliki akses ke tempat bekerja bersama atau coworking space (sebuah tempat yang bertujuan untuk memberikan ruang kerja bagi para pekerja dari berbagai industri dan korporasi yang berbeda) di mana mereka bisa mendapatkan manfaat bekerja di kantor tanpa harus bepergian jauh.

Co-working spaces telah terbukti dapat mengurangi perasaan terisolasi bagi para karyawan, dengan memberikan akses ke jaringan yang lebih beragam dan juga paparan terhadap ide-ide inovatif.


Read more: Tiga hal yang bisa kita pelajari dari orang yang tidak menggunakan ponsel dan media sosial


Ariza Muthia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English