File 20171220 4995 18t4bbo.jpg?ixlib=rb 1.1

Bitcoin, investasi yang sangat spekulatif. Waspadai gelembung keuangan

Bitcoin, investasi yang sangat spekulatif. Waspadai gelembung keuangan

Dengan harga sebuah bitcoin mencapai rekor tinggi melampaui $10.000, semakin banyak orang awam yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di mata uang kripto (cryptocurrency). Lonjakan harga belum lama ini, bagaimana pun juga, disertai risiko luar biasa besar. Para investor harus siap menghadapi kemungkinan bahwa mereka bisa kehilangan seluruh investasi mereka.

Bitcoin diluncurkan pada 2008 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto sebagai sarana transaksi di antara para partisipan tanpa perlu adanya perantara. Sejak permulaan 2017, harga bitcoin naik 1300% ketika semakin banyak konsumen datang berbondong-bondong membawa harapan akan menangguk untung dari peningkatan popularitas dan peningkatan terkait dalam nilai bitcoin.

Mata uang kripto sebetulnya bukan mata uang sama sekali. Sebagaimana dijelaskan Financial Times, bitcoin adalah serangkaian kode komputer, dan itu berarti bahwa bitcoin baru bisa diciptakan—sampai batas yang disepakati—oleh komputer yang punya hak untuk melakukan itu dengan memecahkan teka-teki rumit. Transaksi dicatat dalam sebuah basis data yang disebut blockchain.

Bitcoin, persis aset-aset lain seperti emas, tidak mendatangkan pendapatan. Anda harus menjualnya untuk mewujudkan nilai apa pun. Dan, seperti emas dan mata uang lainnya, bitcoin bisa ditransfer peer-to-peer.

Bagian yang mencemaskan menyangkut bitcoin adalah, bersama dengan berbagai mata uang kripto lainnya, ia menggugat peran tradisional bank dan bank sentral. Di dunia klasik, bank bertindak sebagai perantara dengan menyediakan pinjaman dari deposit yang mereka simpan dan dari pendanaan bank sentral. Bank sentral menggunakan suku bunga untuk dana yang disediakannya sebagai dongkrak untuk menjamin stabilitas harga. Pemberlakuan mata uang kripto mengancam model ini karena bank tidak lagi diperlukan untuk memperantarai dana dan tidak ada bank sentral yang menjamin kestabilan harga.

Ketakutan-ketakutan lebih dekat tentang bitcoin berkisar pada peningkatan dramatis nilainya belum lama ini. Ada kecemasan di pasar bahwa sebuah keruntuhan tiba-tiba mungkin sudah menunggu menyusul kejatuhan mata uang kripto itu lebih dari $1.300 dalam hitungan menit di bursa bitcoin Bitfinex. Bitcoin pulih kembali ke level di atas $10.800.

Keruntuhan mendadak itu menggemakan peringatan yang sudah lama disampaikan bahwa pesta bitcoin disetel untuk berakhir dalam genangan air mata. Yang terbaru, Jamie Dimon, CEO JPMorgan, salah satu bank investasi terbesar di dunia, menyatakan akan memecat setiap pegawai yang memperdagangkan bitcoin karena bertindak bodoh.

Dalam sebuah persekutuan yang sangat tidak lazim, kata-katanya digemakan oleh peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz, yang melangkah lebih jauh lagi dengan berpendapat bahwa bitcoin:

harus dilarang.

Semua itu adalah isyarat yang jelas bahwa para profesional tidak mempercayai muluknya janji-janji para penggila kripto.

Faktor blockchain

Tidak ada keraguan bahwa Bitcoin—dan terutama blockchain, teknologi di balik itu—berpotensi merevolusi industri jasa keuangan.

Sebuah blockchain berfungsi sebagai buku besar digital transaksi ekonomi yang transparan dan tidak dapat diakali, dicatat dalam urut-urutan kronologis, yang beroperasi pada jaringan peer-to-peer.

Pada dasarnya, teknologi memungkinkan terjadinya pertukaran nilai di lingkungan sejawat dengan kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan tanpa perlu adanya perantara tepercaya. Itu sama saja dengan menghapus kebutuhan akan perbankan atau perusahaan jasa keuangan yang menjalankan peran perantaraan itu.

Penggunaan teknologi tidak terbatas pada transaksi keuangan. Hampir semua yang bernilai bisa diperdagangkan di blockchain.

Tapi betapa pun bermanfaatnya teknologi blockchain yang mendasarinya, atau seluas apa pun ia bisa diterapkan, ada risiko-risiko nyata dan substansial dalam bitcoin.

Volatilitas versus keuntungan

Risiko pertama adalah, dan ini yang paling signifikan, dibandingkan dengan mata uang mana pun—saham, atau emas—bitcoin sangat volatil alias tidak stabil. Volatilitas bitcoin terhadap dolar AS hampir enam kali volatilitas Rand (mata uang Afrika Selatan) terhadap dolar AS. Walaupun ini sungguh menggembirakan dalam masa-masa bagus, hal itu berpotensi menghancurkan para investor pada masa-masa sulit.

Ketika para investor profesional memutuskan aset mana yang harus dikuasai, mereka melihat keuntungan dan volatilitas aset. Hanya investor dengan selera bagus terhadap risiko yang bersedia berinvestasi untuk aset berisiko dan volatil. Biasanya mereka adalah para profesional keuangan yang bekerja di, misalnya, bank investasi besar atau hedge fund.

Investor dengan selera risiko (risk appetite) yang lebih rendah seperti manajer aset atau dana pensiun, lebih menyukai aset dengan keuntungan agak lebih rendah tapi tidak begitu volatil.

Aturan praktisnya adalah kepiawaian seorang investor berbanding lurus dengan volatilitas aset di mana dia berinvestasi. Tetapi dalam soal bitcoin aturan praktis ini tidak berlaku. Semakin banyak saja investor swasta yang berbondong-bondong mendatangi “bursa” bitcoin yang menjamur di internet dan diiklankan secara agresif di media sosial.

Dilebih-lebihkan

Ada risiko besar bahwa bitcoin sudah dilebih-lebihkan.

Kasus-kasus penggunaan praktis bitcoin sebetulnya terbatas. Bitcoin tidak memungkinkan berlangsungnya transaksi yang memadai per detiknya untuk digunakan sebagai pengganti sistem pembayaran modern. Bitcoin juga tidak menawarkan fungsi selain transaksi pseudonim—transaksi yang identitas para pihak sesungguhnya disembunyikan.

Bitcoin disukai oleh skema-skema piramida, termasuk skema piramida MMM di Nigeria yang terkenal bereputasi miring itu. Dalam sebuah artikel mutakhir, Financial Times menyebut bitcoin itu sendiri adalah sebuah skema piramida, pernyataan yang sangat mengecewakan para penggila kripto. (Sebuah skema piramida biasanya adalah sebuah operasi ilegal di mana para peserta membayar untuk bergabung dan mendapat untung terutama dari pembayaran yang dilakukan para peserta berikutnya. Jika tidak ada orang baru yang ikut, skema itu ambruk.)

Risiko regulasi

Risiko ketiga, dan mungkin yang paling besar, adalah risiko regulasi. Pada September 2017, pemerintah Cina melarang pertukaran bitcoin di Cina daratan, yang menyebabkan harga bitcoin rontok.

Walaupun bitcoin diklaim sebagai sebuah “mata uang global”, realitasnya adalah 58% dari seluruh penambangan bitcoin berlangsung di Cina. Jika suatu saat pemerintah Cina memutuskan untuk menganggap penambangan bitcoin ilegal, kemungkinan besar harganya akan terjun bebas.

Negara-negara lain juga menyuarakan keprihatinan. Belum lama ini Bank Sentral Rusia mengeluarkan peringatan kepada para investor tentang risiko investasi mata uang kripto, sambil menyebutkan kekhawatiran tentang sebuah gelembung. Ini menunjukkan bahwa mungkin ada upaya penindakan terkoordinasi.

Mata uang kripto dilarang di India karena penggunaannya merupakan suatu pelanggaran atas peraturan valuta asing. Bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia, menempuh pendekatan berbeda. Bank sentral ini memantau pasar mata uang kripto dalam upaya memahami teknologi yang mendasarinya.

South African Reserve Bank mengungkapkan keterbukaannya terhadap teknologi blockchain. Tetapi otoritas keuangan ini juga menyoroti potensi risiko bagi nasabah.

Gelembung klasik

Ada risiko nyata yang tidak sepenuhnya dipahami oleh banyak nasabah yang berinvestasi di mata uang kripto. Berbagai iklan menjanjikan bahwa bitcoin bisa membuat Anda cepat kaya. Dan media sosial penuh dengan kisah-kisah tentang teman-teman tetangga atau sepupu-sepupu jauh yang telah meraup banyak uang melalui bitcoin.

Tak ada keraguan, kasus-kasus itu nyata, dan mereka yang berinvestasi awal bisa menuai untung besar. Tetapi itulah yang terjadi dalam setiap gelembung—dari gelembung dotcom sampai tulip mania. Itu juga yang terjadi dalam setiap skema piramida.

Seperti biasa, investor harus sangat waspada dengan skema yang menjanjikan keuntungan cepat.

This article was originally published in English