Di Hong Kong, pengunjuk rasa melawan pemerintah dengan menguasai ruang publik

Pengunjuk rasa di Hong Kong telah memanfaatkan ruang publik baik di jalanan maupun di dunia maya. Ritchie B. Tongo/EPA

Penguasaan ruang publik, baik ruang fisik maupun digital, telah menjadi unsur penting dalam perjuangan para pengunjuk rasa di Hong Kong.

Jumlah mereka yang begitu banyak dalam menentang kekuatan Republik Rakyat Cina (RRC) telah merebut perhatian dunia dalam dua bulan terakhir.

Namun, ada dinamika yang tidak terlalu kentara dalam perjuangan para pengunjuk rasa: cara mereka menggunakan ruang publik–-baik fisik maupun digital–-untuk mempertahankan posisi mereka.

Pemahaman terhadap ruang-ruang publik ini penting untuk mencari tahu bagaimana kebebasan berekspresi tumbuh atau mati dalam lingkup perkotaan.

Unjuk rasa di Hong Kong ini telah menarik perhatian dunia terhadap rapuhnya hak demokrasi di kota yang berstatus daerah administrasi khusus ini.

Sebanyak dua juta orang, dari total jumlah populasi 7,5 juta, turun ke jalan untuk berunjuk rasa menentang tergerusnya status keistimewaan mereka.


Read more: Hong Kong: why the 'one country, two systems' model is on its last legs


Dua juta penduduk Hong Kong ikut unjuk rasa.

Unjuk rasa ini ternyata sangat efektif dalam menghadapi pemerintah Hong Kong yang berpihak pada Cina. Pemimpin Hong Kong akhirnya setuju untuk menarik kembali rancangan undang-undang kontroversial yang dapat mengekstradisi warga Hong Kong ke Tiongkok.

Dalam pengertian fisik, ruang publik adalah tempat-tempat orang-orang dengan latar belakang beragam berkumpul secara leluasa dan terbuka. Tempat-tempat seperti ini menjadi wadah utama untuk mengekspresikan prinsip demokratis.

Banyak kota besar di dunia memiliki ruang publik yang terkenal, seperti Taksim Square di Istanbul, Turki; Monumen Nasional di Jakarta, Trafalgar Square di London, Inggris; dan tentunya Tiananmen Square di Beijing, Cina.

Tetapi dengan berbagai tingkat pengawasan dan pembatasan, tidak semua tempat ini memenuhi syarat sebagai ruang publik yang fungsional


Read more: How city squares can be public places of protest or centres of state control


Turun ke jalan…

Hong Kong, salah satu kota terpadat di dunia, memiliki beberapa ruang publik yang terkenal. Namun, tidak satu pun yang mampu mengakomodasi bahkan sepersekian jumlah pengunjuk rasa yang telah bergerak.

Karena itulah, mereka akhirnya turun ke jalan. Jalanan sebenarnya bukan ruang publik yang ideal, tetapi pengunjuk rasa telah mengubahnya menjadi ruang publik yang menggelora, dan menjadi wadah para warga menunjukkan perasaan dan keinginan mereka.

Unjuk rasa yang dilakukan telah diatur dan direncanakan dengan baik. Tidak ada aksi kekerasan yang tampak hingga akhir Juli kemarin.

Preman-preman yang diduga didukung oleh Tiongkok telah menodai aksi protes dengan kekerasan dan mengancam rapuhnya wilayah publik di Hong Kong.

… dan ke ruang maya

Keberhasilan unjuk rasa tidak sepenuhnya bergantung pada penggunaan ruang publik dalam bentuk fisik. Kecepatan dan koordinasi para pengunjuk rasa tidak akan terwujud tanpa akses ruang publik maya.

Ini terlihat dari pers dan media yang aktif dan independen, serta dari kemampuan pengunjuk rasa untuk saling berkomunikasi dengan cepat dan bebas di ruang publik digital melalui media sosial dan pesan singkat terenkripsi.

Banyaknya orang yang turun ke jalan mengisyaratkan adanya sikap menentang penguasa yang spontan.

Namun, berkat media sosial, koordinator dan pengunjuk rasa bisa berada selangkah lebih maju walau berhadapan dengan pengawasan intelijen dan keamanan aparat serta media pro Cina.

Mereka menggunakan kemampuan panggilan telepon anonim dalam aplikasi pesan singkat terenkripsi, seperti Telegram dan Signal untuk berkoordinasi. Para pengguna aplikasi mampu membuat saluran komunikasi baik publik maupun dengan menyembunyikan identitas, serta membuat kelompok obrolan (chat group) yang lebih kecil dan lebih tertutup.


Read more: How a cyber attack hampered Hong Kong protesters


LIHKG sering disebut sebagai Reddit versi Hong Kong. LIHKG

Unjuk rasa dikoordinir secara terbuka lewat LIHKG, sebuah forum online yang mengurutkan unggahan berdasarkan popularitas mirip Reddit. Berkat forum ini, unjuk rasa bisa berpindah dengan luwes dan cepat sesuai perubahan kondisi di lapangan.

Mereka menggunakan media sosial untuk menyebarkan foto dengan cepat untuk melawan upaya aparat menyebar informasi salah tentang jumlah pengunjuk rasa dengan maksud meredam kekuatan dan jumlah pengunjuk rasa.

Ada pula upaya untuk menghindari penggunaan beberapa teknologi. Cinamengawasi warganya dengan teknologi canggih.


Read more: China’s Social Credit System puts its people under pressure to be model citizens


Namun, pengunjuk rasa punya cara-cara efektif untuk mengelak. Ini termasuk tindakan sederhana seperti menggunakan tiket kertas di moda kereta Metro alih-alih kartu pintar agar tidak terlacak.

Pengunjuk rasa juga menggunakan payung dan masker agar tidak mudah dikenali serta untuk melindungi diri dari gas air mata dan pengawasan lewat drone.

Ruang publik digital telah berhasil digunakan dalam lingkup berbeda untuk meningkatkan unjuk rasa di dunia nyata. Ruang digital dapat memperkuat, menyiarkan, dan mengkoordinir aksi di dunia nyata.

Contohnya: media sosial menggerakkan unjuk rasa “Black Lives Matter” di Amerika Serikat. Pada 2016, kematian Philando Castile disiarkan secara langsung di Facebook oleh kekasihnya setelah polisi menembaknya di mobil. Twitter digunakan secara luas untuk menyebarkan dan mengoordinasikan aksi-aksi unjuk rasa “Black Lives Matter” selanjutnya.


Read more: Black Lives Matter is a revolutionary peace movement


Merebut ruang-ruang demi publik

Unjuk rasa di berbagai kota, seperti Hong Kong, menjadi khas karena terbatasnya akses ke ruang publik. Merebut area publik lain seperti jalan-jalan menjadi perlu. Hal ini terutama terlihat di Amerika Serikat; di sana ruang publik dianaktirikan atau dikuasai swasta dan jalanan dijadikan ruang yang “netral”.

Ruang publik tidak selalu seperti yang dibayangkan. Ketika ruang publik yang ada tidak bisa diakses, maka pengunjuk rasa dapat menjadikan area milik swasta atau komersil sebagai ruang publik baru.

Pengunjuk rasa di Hong Kong telah menjadikan terminal bandara menjadi ruang publik sementara. Pengunjuk rasa “kaos kuning” melakukan hal serupa di Bangkok pada tahun 2008.

Pertarungan yang rumit muncul akibat sifat area-area publik yang terbuka ini dan adanya upaya aparat keamanan membubarkan unjuk rasa. Pihak berwenang diuji reaksinya di mata dunia.

Ruang publik kini lebih dari sekadar tempat berkumpul.

Para pengunjuk rasa perlu memperkaya tekad perjuangan mereka dengan pemahaman lebih maju terhadap dunia maya serta sifat dan batasan yang ada dalam ruang publik dan pribadi.


Read more: Surprise! Digital space isn't replacing public space, and might even help make it better


Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English