Dokter Indonesia kobarkan gerakan nasionalis selama pemerintahan kolonial Belanda

Mahasiswa kedokteran di NIAS di Surabaya pada era 1930-an. Author's collection

Sejarawan medis menyelidiki penemuan dalam pengobatan dan pengaruhnya pada kehidupan sehari-hari, organisasi perawatan medis dan profesi medis.

Selama tiga dekade terakhir, para sejarawan telah menyelidiki praktik kedokteran di negara bekas koloni Eropa. Mereka telah menggolongkan pengobatan kolonial sebagai alat kekaisaran.

Misalnya, di daerah yang diperintah oleh perusahaan Hindia Belanda, kini Indonesia, dokter Belanda saat itu memiliki kewajiban utama merawat tentara dan administrator kolonial.

Setelah pergantian abad ke-20, mereka menerapkan program kesehatan untuk buruh kontrak di perkebunan. Pekerja yang sehat lebih produktif dan dapat membawa lebih banyak keuntungan. Pemerintah kolonial mendanai pendidikan kedokteran-mendirikan perguruan tinggi kedokteran di Batavia (Jakarta) dan Surabaya, karena peran penting mereka dalam ekonomi kolonial.

Sebagai sejarawan sains, saya telah meneliti sejarah kedokteran di Hindia Belanda. Dan di sini saya menemukan hubungan antara kedokteran dan dekolonisasi.

Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (Penerbit KOMPAS, 2018). Penerbit KOMPAS

Saya menerbitkan penelitian saya dalam sebuah buku, Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies. Terjemahan Indonesianya ,Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Pada Dokter Indonesia, akan diluncurkan pada hari Senin di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Di Hindia Belanda, mahasiswa kedokteran memobilisasi pemuda Indonesia untuk mengambil bagian dalam masalah politik. Mereka mendorong pemuda untuk memeriksa kondisi di tanah jajahan. Mereka juga mendorong pemuda untuk membayangkan bagaimana mereka dapat meningkatkan kehidupan penduduk pribumi kepulauan ini.

Budi Utomo

Pada 20 Mei 1908, Sutomo dan beberapa mahasiswa kedokteran lainnya di Batavia Medical College (STOVIA), bersama dengan dokter pensiunan Wahidin Sudirohusodo, mendirikan sebuah asosiasi, bernama Budi Utomo. Asosiasi ini menganjurkan peningkatan kesempatan pendidikan bagi laki-laki dan perempuan muda Jawa.

Para pendiri Budi Utomo yakin bahwa sains, teknologi, dan kedokteran modern dapat mengubah kehidupan semua orang Jawa. Mereka percaya bahwa pendidikan memberikan kunci menuju dunia yang lebih baik. Banyak mahasiswa di Jawa tertarik pada cita-cita Budi Utomo dan menjadi anggota.

Indonesia memperingati pendirian Budi Utomo pada 20 Mei setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bangunan Batavia Medical College sekarang menjadi tempat Museum Kebangkitan Nasional.

Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, di bekas gedung STOVIA. Photo by author.

Presiden Indonesia Joko Widodo memulai kampanye kepresidenannya pada 2014 di museum ini, menjanjikan bahwa kebangkitan nasional baru akan mengikuti begitu dia terpilih.

Beberapa komentator mengatakan Budi Utomo adalah yang pertama dari banyak organisasi nasionalis di Hindia Belanda dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Ki Hadjar Dewantara dan Wurjaningrat membuat klaim ini dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan Indonesia pada 1950. Hal ini mungkin terlalu dibesar-besarkan. Namun demikian, pendirian Budi Utomo menunjukkan bahwa dokter dan mahasiswa kedokteran Indonesia sangat tertarik pada masalah sosial dan politik setelah pergantian abad ke-20.

Mahasiswa kedokteran Indonesia memobilisasi sejumlah besar mahasisiwa di seluruh Nusantara. Mereka mengorganisasi asosiasi seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Minahasa di Sulawesi dan Jong Ambon di Maluku. Asosiasi pemuda ini bersatu untuk menjadi Indonesia Muda pada 28 Oktober 1928, menciptakan identitas nasional.

Dokter Indonesia aktif dalam gerakan nasionalis Indonesia. Mereka terlibat dalam asosiasi dan partai politik. Mereka juga menjadi penulis dan aktivis.

Dari 1918 hingga 1942, misalnya, setidaknya satu dokter adalah anggota parlemen kolonial atau Volksraad. Di beberapa titik, ada tiga. Sutomo dan Tjipto Mangunkusumo adalah contoh paling terkenal dari para politikus-dokter ini.

Lalu jurnalis Tirto Adi Suryo dan pendiri sekolah Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara (ketika ia masih dipanggil R.M. Suwardi Suryaningrat) belajar di Batavia Medical College.

Mengkritik Kolonialisme

Dokter dan mahasiswa kedokteran Indonesia termotivasi untuk berpartisipasi dalam berbagai organisasi sosial, budaya, dan politik karena sekolah medis mereka.

Setelah penemuan tentang bakteri pada 1870-an dan parasit pada 1890-an, wawasan baru tentang penyebab dan penularan penyakit memberikan secercah harapan bahwa penyakit dapat disembuhkan, kehidupan diselamatkan dan penderitaan diringankan. Dokter dan mahasiswa kedokteran Indonesia termotivasi oleh keyakinan yang mendalam akan kemampuan ilmu kedokteran modern.

Melalui pendidikan mereka, mereka juga menjadi terkait dengan profesi kedokteran kosmopolitan. Meski mereka memiliki keterampilan medis dan hasil didikan sekolah medis, mereka menghadapi diskriminasi dalam pekerjaan profesional mereka dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang berpendidikan Eropa.

Banyak yang menjadi sangat kritis terhadap administrasi kolonial dan bergabung dengan gerakan nasionalis Indonesia. Beberapa datang untuk membela kemerdekaan.

Dalam dunia sains dan kedokteran, individu ditentukan oleh pencapaian pendidikan, kemampuan, keterampilan, dan pencapaian. Ras, etnis, dan status seseorang sebagai subjek kolonial, pada prinsipnya, tidak relevan.

Karena hubungan mereka dengan profesi kedokteran kosmopolitan, dokter Indonesia mampu membangun koneksi di luar batas-batas Hindia Belanda. Dengan membaca literatur medis dan melakukan eksperimen medis, mereka berpartisipasi dalam dunia sains internasional.

Beberapa datang untuk mengkritik pemerintah kolonial karena komitmennya yang terbatas pada kesehatan dan obat-obatan dibandingkan dengan kekuatan kolonial lainnya. Yang lainnya mendirikan rumah sakit dan klinik atau mulai memberikan pendidikan kesehatan masyarakat. Beberapa dokter bergabung dengan dewan kota yang menganjurkan penyediaan selokan dan air minum segar, yang diketahui dapat mengurangi penyakit dan meningkatkan kesehatan.

Ketika dokter Indonesia mengambil posisi dalam pelayanan kesehatan kolonial, mereka dengan cepat menyadari bahwa gelar medis dari sekolah tinggi kedokteran kolonial di Batavia dan Surabaya (NIAS) dianggap lebih rendah daripada yang diberikan oleh sekolah-sekolah medis yang berafiliasi dengan universitas-universitas Eropa. Dokter Indonesia sering menduduki posisi yang paling tidak diinginkan dalam layanan kesehatan dan menerima gaji jauh lebih rendah daripada rekan-rekan mereka di Eropa.

Hal ini menyebabkan sedikit kebencian. Banyak yang terlibat dalam politik ketika mereka mengakui bahwa status profesional inferior mereka terkait dengan perbedaan antara kelompok ras dan etnis dalam masyarakat kolonial.

Generasi pertama dokter Indonesia yang terlibat secara politik ingin memperbaiki kondisi di dalam koloni sambil mempertahankan struktur fundamentalnya. Namun, banyak perwakilan generasi kedua datang untuk membela kemerdekaan.

Dokter-dokter Indonesia ini, yang terdiri dari kelompok profesional yang paling dekat dengan Belanda dalam pelatihan, pendidikan, dan keterampilan, menyakini kemerdekaan sebagai satu-satunya cara untuk memperbaiki nasib penduduk.

Setelah kemerdekaan, sebagian besar dari mereka menjadi pegawai negeri dan fokus secara eksklusif pada pengembangan sekolah kedokteran dan infrastruktur kesehatan. Akibatnya, keterlibatan politik mereka surut. Keterlibatan politik dokter selama era kolonial, bagaimanapun juga masih dapat menjadi contoh inspiratif bagi dokter Indonesia saat ini.

This article was originally published in English

Love this article? Show your love with a gift to support The Conversation's journalism, matched dollar-for-dollar.