File 20171019 1048 1oyy67h.jpg?ixlib=rb 1.1

Gunung Agung terus bergemuruh dan masih mungkin akan meletus

Murid-murid di Bali berjalan menuju sekolah sementara gempa bumi terus terjadi dan Gunung Agung menunjukkan tanda akan meletus. EPA/Made Nagi

Gunung Agung terus bergemuruh dan masih mungkin akan meletus

Sudah lebih dari tiga minggu sejak status awas untuk Gunung Agung dinaikkan menjadi level teratas. Letusan diantisipasi akan terjadi dalam waktu dekat, ribuan orang dievakuasi, tetapi gunung tersebut belum meletus.

Saya terus mendapat email dari orang-orang yang bertanya apa mereka sebaiknya mengunjungi Bali atau tidak. Saya sarankan mereka mengecek situs Smartraveller milik pemerintah Australia, atau menghubungi maskapai penerbangan atau operator tur mereka.

Mereka juga harus memantau pemberitaan media dan data terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.


Baca juga: Gunung Agung di Bali berpotensi meletus untuk pertama kalinya dalam 50 tahun


Laporan minggu ini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan adanya penurunan energi seismik di wilayah gunung api, meski jumlah gempa bumi tetap tinggi. Kemarin lebih dari 1.000 gempa bumi terekam.

Tanda-tanda meletus yang tak jadi

Letusan Gunung Agung terbesar terakhir terjadi pada 1963. Sejak itu, diketahui ada dua periode aktif di gunung api tanpa adanya letusan. Pada 1989, terjadi gempa bumi karena aktivitas gunung api dan terdapat emisi gas yang panas dan kaya sulfur tanpa letusan.

Antara 2007 hingga 2009, data satelit menunjukkan pembengkakan gunung api dengan tingkat sekitar 8 cm per tahun, yang kemungkinan disebabkan masuknya magma baru (batu api cair) ke dalam sistem saluran yang dangkal. Ini kemudian diikuti pengempisan selama dua tahun, juga tanpa letusan.

Aktivitas gunung api saat ini—utamanya jumlah gempa bumi— tidak berkurang sejak status awas dinaikkan ke tingkat 4. Aktivitasnya terus berfluktuasi, dengan lebih dari 600 gempa bumi sehari. Ini mengindikasikan bahwa ancaman letusan masih tinggi, meski ada penurunan energi seismik secara umum.

Akhir pekan terakhir, ada lebih dari 1.100 gempa bumi.

Grafik menunjukkan jumlah gempa bumi per hari di Gunung Agung. Oranye menunjukkan gempa bumi vulkanik dangkal, hijau muda gempa bumi vulkanik dalam, dan biru gempa bumi tektonik lokal. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan pernyataan terbaru pada 5 Oktober yang menyatakan data gempa bumi mengindikasikan bahwa tekanan terus bertambah di bawah gempa api karena meningkatnya volume magma dan gerakan magma menuju permukaan.

Gas menentukan semuanya

Magma mengandung gas yang melebur seperti air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida. Dengan pergerakan magma menuju permukaan, tekanan berkurang, sehingga gelembung gas terbentuk, mirip dengan membuka tutup botol minuman soda. Gelembung gas ini menyita ruang lebih di magma dan meningkatkan tekanan sistem secara keseluruhan.

Jumlah gas, dan apakah gas bisa keluar dari magma sebelum letusan, adalah faktor utama yang akan menentukan seberapa besar (atau kecil) letusan gunung api akan terjadi.

Jika gelembung gas yang terbentuk dalam magma tetap berada di dalamnya sementara magma naik ke atas di bawah Gunung Agung, maka itu dapat menyebabkan letusan dengan ledakan yang besar. Jika gas yang terbentuk bisa keluar, maka tekanan dalam sistem bisa menurun cukup banyak sehingga letusannya tidak merusak atau tidak besar sama sekali.

Asap putih keluar dari Gunung Agung. EPA/Made Nagi

Asap putih, yang terbentuk dari utamanya uap air, terlihat di Gunung Agung. Asap ini membumbung hingga 50-200m di atas kawah Gunung Agung, dan mencapai 1.500m pada 7 Oktober. Uap air ini terbentuk kemungkinan karena sistem hidrologis yang memanas sebagai respons dari munculnya magma.

Selama letusan tahun 1963, Gunung Agung menghasilkan gas kaya sulfur yang cukup banyak yang menyebabkan pendinginan global sekitar 0.1-0.4℃. Dalam fase aktivitas saat ini, kita belum melihat pelepasan sulfur dioksida dari magma yang bergerak.

Seberapa besar letusan yang mungkin terjadi?

Tak mudah meramal seberapa besar letusan Gunung Agung. Analisis materi gunung api yang terlontar dari letusan-letusan sebelumnya selama 5.000 tahun mengisyaratkan sekitar 25% dari letusan-letusan di masa itu sama besar atau lebih besar dari letusan tahun 1963.

Di Pulau Jawa, letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang dahsyat menyebabkan lebih dari 400.000 orang dievakuasi dan 367 orang tewas. Ini didahului oleh peningkatan aktivitas gempa bumi selama dua bulan. Letusan tersebut merupakan letusan terbesar Merapi sejak 1872.

Pemantauan data dan penelitian mengenai batuan vulkanik hasil letusan Merapi mengisyarakatkan gerakan magma kaya gas dalam volume yang besar dalam waktu yang relatif cepat merupakan alasan terjadinya letusan yang besar tersebut.


Baca juga: Mengapa gunung api meletus?


Pada 2010, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan prediksi pada saat yang tepat mengenai ukuran dari tiap tahap letusan Merapi. Itu menyelamatkan sekitar 10.000–20.000 jiwa..

Waktunya menunggu

Indonesia memantau kegiatan seismik Gunung Agung dengan cermat dan publik juga dapat melihat seismogram secara langsung.

Screenshot seismogram Gunung Agung menunjukkan jumlah gempa bumi pada 13 dan 14 Oktober 2017. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Letusan Gunung Agung pada 1843 dan 1963 memiliki Indeks Letusan Vulkanik atau Volcanic Explosivity Index (VEI) 5, pada skala 0-8.

Indeks 0 seperti aliran lava di Hawaii yang bisa dihindari dengan berjalan cepat atau berlari, dan 8 adalah letusan dahsyat seperti (640.000 tahun lalu dan 2,1 juta tahun lalu) di Amerika Serikat atau Toba (74.000 years ago) di Sumatra Utara.

Berdasarkan sejarah aktivitas letusan di gunung api, pemerintah Indonesia menetapkan zona berbahaya hingga 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Banyak orang merasa kemungkinannya lebih besar Gunung Agung akan meletus, tapi pertanyaan tetap: kapan?


Artikel ini diterjemahkan dari “Mount Agung continues to rumble with warnings the volcano could still erupt” dengan pemutakhiran mengenai data terbaru gempa bumi.

This article was originally published in English