Hugh Hefner, ‘Playboy’, dan menjadi laki-laki di era Perang Dingin

Hugh Hefner dan pacarnya Anna Sophia Berglund (kiri) dan Shera Bechard di suatu acara di Beverly Hills, California, 19 September 2011. Reuters/Fred Prouser

Setelah Hugh Hefner, pendiri majalah Playboy, pergi selamanya pada usia 91 tahun, pada 27 September 2017, banyak orang langsung membahas warisan rumit majalah itu dan sang laki-laki pendirinya.

Di masa sekarang ia lebih banyak dikaitkan dengan kumpulan para kekasih muda nan cantik dan pesta-pesta terkenal di mansion Playboy, sehingga gampang saja bagi kita untuk melihat Hefner semata-mata sebagai penghalang abadi dalam perjuangan kesetaraan gender. Namun, hal itu hanya akan mengesampingkan dampak Hefner dan Playboy yang signifikan pada budaya, terutama selama 1950-an di bawah bayang-bayang kecemasan Perang Dingin.

Lahir pada 9 April 1926 di Chicago, Illinois, masuknya Hefner ke dunia jurnalistik bermula saat ia remaja dan menulis untuk majalah militer selama Perang Dunia II. Setelah lulus dari University of Illinois, ia mulai bekerja sebagai copy-editor untuk majalah pria Esquire, hingga perselisihan tentang upah mendorongnya untuk meninggalkan majalah tersebut pada 1952.

Dia menggadaikan rumahnya dan meminjam uang dari ibunya untuk meluncurkan Playboy pada 1953. Edisi pertama, yang terkenal dengan penampilan Marilyn Monroe di dua halaman tengah majalah, menunjukkan keterlibatan eksplisit majalah ini dengan seks, hura-hura, dan konsumerisme. Dengan melakukan hal itu, majalah dewasa ini menantang gagasan maskulinitas yang berkisar pada keluarga inti. Gagasan itu tertanam di masyarakat pada tahun-tahun awal Perang Dingin Amerika.

Laki-laki baru

Keluarga inti—seorang ibu, ayah, dan anak-anak—dipandang penting sebagai penangkal komunisme di tahun-tahun setelah Perang Dunia II. Pengaturan ini bergantung kepada peran spesifik bagi perempuan dan laki-laki untuk memperkokoh kekuatan keluarga dan, dengan demikian, keamanan negara.

Sampul pertama Playboy pada 1953. Wikimedia

Bagi laki-laki Amerika yang kembali dari perang, menjadi orang yang “benar” berarti menikah, menjadi ayah, dan mencari nafkah untuk keluarga. Perempuan kala itu mengendalikan ruang domestik. Mereka yang gagal melakukannya berarti, seperti dikatakan cendekiawan Barbara Ehrenreich, “bukan orang dewasa… Seseorang yang dengan sengaja menyimpang dihakimi sebagai ‘kurang jantan’.”

Playboy saat itu berani meretas ekspektasi kejantanan ini. Alih-alih membatasi maskulinitas di seputaran orang-orang suburban Amerika yang mengalami musim galau pascaperang, Playboy menawarkan model kejantanan versi intelek, menyenangkan, seksi dan, yang terpenting, berdiri berseberangan dengan gagasan pernikahan.

Model ini sudah pasti diilhami oleh kegelisahan Hefner sendiri. Menikah dengan Mildred “Millie” Williams pada 1949, dia sudah merasakan monotonnya kehidupan di suburban. Penanda konvensional dari kejantanan-istri yang cantik, sukses dalam karier, dan rumah yang keren-membikin Hefner, menurut penulis biografinya, Russell Miller, “bosan tak terkira”. Mereka bercerai pada 1959.

Hefner, melalui kehidupan pribadinya dan melalui Playboy, mengubah rumah dari wilayah perempuan menjadi ekspresi kecanggihan seorang laki-laki dan “kepribadian simpatik”. Laki-laki model ini mungkin seseorang yang tertarik kepada seni, film, dan sastra asing (majalah ini terkenal dan diingat karena menerbitkan karya para penulis seperti Ray Bradbury dan Jack Kerouac), dan menikmati masa bujangan dengan penuh semangat dan menjauh dari pernikahan dan keluarga.

Sebaliknya, majalah Man, terbitan berkala Australia di masa yang sama, merupakan tempat bagi laki-laki untuk memimpikan sebuah kehidupan di luar pernikahan, namun akhirnya menerima takdir mereka. Playboy, yang dikenal dengan simbol kelinci berdasi kupu-kupu itu, menolak konsep ini.

Hefner dan perempuan

Tentu saja, sikap Playboy terhadap perempuan sudah sepatutnya diingat sebagai, paling tidak, problematis. Tahun-tahun awal majalah tersebut menggambarkan perempuan Amerika sebagai orang yang mengancam kejantanan, materialistis, dan terobsesi memanipulasi laki-laki untuk menikah. Gambaran semacam itu tentu menyinggung, tapi ia berkait erat dengan ketidakpastian dan ketegangan yang beredar dalam lanskap budaya AS pascaperang.

Menurut sejarawan Carrie Pitzulo, menunjuk bahwa Playboy seksis bukanlah hal baru. Memang di tahun-tahun terakhirnya, dikelilingi oleh kerumunan gadis-gadis muda yang menarik, Hefner sepertinya menganut gaya hidup yang disarankan oleh Playboy ke tingkat yang hampir parodi. Baru-baru ini, sikap Playboy terhadap perempuan ditunjukkan oleh hubungan yang on-off dengan ketelanjangan.

Namun, kita mungkin dapat juga melihat dari sisi tahun-tahun awal Playboy yang menunjukkan bahwa maskulinitas pada era 1950-an lebih kompleks daripada kenangan populer yang kita ketahui, dan tentang pergolakan budaya yang dimunculkan oleh Hefner dan publikasi ikoniknya: Playboy.

This article was originally published in English