Para pelayat menunggu untuk menghadiri pemakaman Heather Heyer di Charlottesville, Virginia, 16 Agustus 2017 setelah Heyer tewas saat menghadiri unjuk rasa untuk memprotes nasionalisme kulit putih. Julia Rendleman/AP Photo

Ini mengapa kebigotan adalah masalah kesehatan masyarakat

Lebih dari satu dekade lalu, saya menulis sebuah artikel untuk jurnal psikiatri berjudul “Apakah Kebigotan Suatu Penyakit Mental?

Pada saat itu beberapa psikiater menyerukan untuk mengklasifikasikan “kebigotan (kefanatikan) patologis” atau bias patologis-yaitu, bias yang sangat ekstrem hingga mengganggu fungsi sehari-hari dan hampir mendekati delusi–sebagai sebuah diagnosis psikiatri resmi. Untuk berbagai alasan ilmiah dan medis, saya akhirnya menentang posisi itu.

Singkatnya, argumen saya sebagai berikut: beberapa orang bigot menderita sakit mental dan beberapa orang dengan gangguan jiwa menunjukkan kebigotan–tapi hal tersebut tidak berarti bahwa kebigotan pada hakikatnya adalah sebuah penyakit.

Namun dalam beberapa minggu terakhir melihat adanya kebencian dan kebigotan dalam masyarakat saya mempertimbangkan kembali masalah ini. Saya masih belum yakin bahwa kebigotan adalah suatu penyakit, setidaknya dalam pengertian medis. Namun, menurut saya terdapat alasan yang bagus untuk memperlakukan kebigotan sebagai sebuah masalah kesehatan masyarakat. Karena ini artinya beberapa pendekatan yang kita terapkan untuk mengendalikan penyebaran penyakit mungkin berlaku untuk kebigotan patologis: misalnya, kampanye agar setiap individu sadar jika dirinya sedang menjadi bigot dan akibatnya pada kesehatan.

Dalam sebuah artikel terbaru di The New York Times, penulis isu kesehatan Kevin Sack menulis soal “para anti-Semit yang parah” yang telah melakukan penembakan mengerikan di sinagog Tree of Life di Pittsburgh pada 27 Oktober 2018.

Mudah untuk memperlakukan istilah “parah (virulent)” sebagai metafora, tapi saya pikir masalahnya lebih rumit dari itu. Dalam biologi, “virulensi” mengacu pada tingkat patologi, atau kerusakan, yang disebabkan oleh organisme. Ini berbeda dari istilah “menular (contagious),” yang mengacu pada kemampuan penyakit menyebar dalam sebuah populasi.

Tapi bagaimana jika kebigotan bersifat mematikan dan menular, mampu menyebabkan kerusakan dan menyebar dari orang ke orang? Bukankah pendekatan kesehatan masyarakat untuk masalah ini masuk akal?

Kerusakan bagi para korban dan pembenci

Tak terbantahkan di kalangan pekerja kesehatan mental bahwa kebigotan dapat menyakiti target-target dari kebigotan dengan cukup serius. Yang lebih mengejutkan adalah bukti yang menunjukkan bahwa mereka yang memendam kebigotan juga berisiko.

Misalnya, penelitian oleh psikolog Dr. Jordan B. Leitner telah menemukan suatu korelasi antara bias rasial eksplisit di antara orang kulit putih dan tingkat kematian terkait penyakit peredaran darah. Bias eksplisit mengacu pada prasangka yang secara sadar dipegang yang terkadang diekspresikan secara terbuka; bias implisit berada di alam bawah sadar dan hanya dideteksi secara tidak langsung.

Data Leitner menunjukkan bahwa hidup dalam komunitas yang bermusuhan dalam hal ras berhubungan dengan peningkatan tingkat kematian kardiovaskular baik kelompok target bias-dalam hal ini orang kulit hitam-serta kelompok yang memendam bias.

Seorang perempuan memprotes rasisme di unjuk rasa di London. John Gomez/Shutterstock.com

Leitner dan rekan-rekannya di University of California Berkeley menulis di jurnal Psychological Science. Mereka menemukan bahwa angka kematian akibat penyakit peredaran darah lebih terasa di masyarakat di mana orang kulit putih memiliki bias rasial eksplisit. Baik orang kulit hitam maupun kulit putih menunjukkan peningkatan tingkat kematian, tapi hubungan itu lebih kuat untuk orang kulit hitam. Meski korelasi tidak membuktikan sebab-akibat, profesor psikologi klinis Vickie M. Mays dan rekan di UCLA telah berhipotesis bahwa pengalaman diskriminasi berbasis ras mungkin menggerakkan sebuah rantai peristiwa fisiologis, seperti tekanan darah tinggi dan detak jantung, yang akhirnya meningkatkan risiko kematian.

Efek merugikan dari diskriminasi dan kebigotan tidak mungkin hanya terbatas pada kulit hitam dan kulit putih. Profesor ilmu kesehatan masyarakat Gilbert Gee dan rekan di UCLA telah mempresentasikan data yang menunjukkan bahwa orang-orang Amerika keturunan Asia yang melaporkan mengalami diskriminasi memiliki risiko tinggi untuk kesehatan yang lebih buruk, terutama untuk masalah kesehatan mental.

Tapi apakah kebencian dan kebigotan menular?

Pendukung nasionalis kulit putih Jason Kessler di kereta bawah tanah setelah demonstrasi 12 Agustus 2018 di Washington, D.C. Jim Urquhart/Reuters

Dengan semakin diakuinya efek buruk kebigotan terhadap kesehatan, telah tumbuh kesadaran bahwa perilaku kebencian dan efek berbahaya mereka dapat menyebar. Misalnya, spesialis kesehatan masyarakat Dr. Izzeldin Abuelaish dan dokter keluarga Dr. Neil Arya, dalam sebuah artikel berjudul “Kebencian-Sebuah Masalah Kesehatan Masyarakat,” berpendapat bahwa “Kebencian dapat dikonseptualisasikan sebagai penyakit menular, mengarah pada penyebaran kekerasan, ketakutan, dan ketidakpedulian. Kebencian itu menular; ia bisa melintasi rintangan dan perbatasan.”

Profesor komunikasi Adam G. Klein https://theconversation.com/profiles/adam-g-klein-244706 juga telah mempelajari “budaya benci digital,” dan menyimpulkan bahwa “Kecepatan perjalanan kebencian online itu menakjubkan.”

Sebagai contoh, Klein menceritakan suatu rangkaian peristiwa sebuah kisah anti-Semit (“Yahudi Menghancurkan Makam Mereka Sendiri”) muncul di Daily Stormer, dan dengan cepat diikuti oleh teori konspirasi anti-Semit bertubi-tubi yang disebarkan oleh penganut supremasi kulit putih David Duke melalui podcastnya.

Sejalan dengan hasil temuan Klein, Anti-Defamation League baru-baru ini merilis laporan berjudul, “Kebencian Baru dan Lama: Wajah Perubahan Supremasi Kulit Putih Amerika.” Laporan itu menemukan bahwa,

“Meski sayap kanan alternatif (nasionalisme kulit putih) memasuki ke dunia fisik, internet tetap menjadi kendaraan propaganda utamanya. Namun, propaganda internet sayap kanan melibatkan lebih dari sekadar Twitter dan situs web. Pada 2018, podcasting memainkan peran yang sangat besar dalam menyebarkan pesan-pesan sayap kanan ke dunia. ”

Yang pasti, melacak penyebaran kebencian tidak seperti melacak penyebaran, katakanlah, penyakit yang ditularkan melalui makanan atau virus flu. Lagi pula, tidak ada tes laboratorium untuk keberadaan kebencian atau kebigotan.

Namun demikian, sebagai psikiater, saya menemukan “hipotesis penularan kebencian” sepenuhnya masuk akal. Di bidang saya, kami melihat fenomena serupa dalam apa yang disebut “bunuh diri penjiplak (copycat suicides)”, di mana bunuh diri yang dipublikasikan besar-besaran (dan sering kali berlebihan) tampaknya menghasut orang-orang rentan lainnya untuk meniru tindakan itu.

Pendekatan kesehatan masyarakat

Jika kebencian dan kebigotan memang berbahaya dan menular, bagaimana pendekatan kesehatan masyarakat menangani masalah ini? Abuelaish dan Arya menyarankan beberapa strategi “pencegahan primer”, termasuk mempromosikan pemahaman konsekuensi kesehatan yang merugikan dari kebencian; mengembangkan kesadaran diri emosional dan kemampuan resolusi konflik; menciptakan “kekebalan” terhadap pidato kebencian yang provokatif; dan menumbuhkan pemahaman tentang saling menghormati dan hak asasi manusia.

Pada prinsipnya, upaya pendidikan ini dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Bahkan, Anti-Defamation League di AS sudah menawarkan siswa-siswa taman kanak-kanak sampai kelas 12 pelatihan dan sumber daya online untuk memerangi kebencian, perundungan, dan kebigotan. Selain itu, laporan Anti-Defamation League mendorong sebuah rencana tindakan yang mencakup:

  • Menetapkan undang-undang kejahatan kebencian yang komprehensif di setiap negara bagian.
  • Meningkatkan respons negara federal AS terhadap kejahatan kebencian.
  • Memperluas pelatihan untuk administrator universitas, fakultas dan staf.
  • Mempromosikan program ketahanan masyarakat, yang bertujuan untuk memahami dan melawan kebencian ekstremis.

Kebigotan mungkin bukan “penyakit” dalam artian medis seperti AIDS, penyakit arteri koroner atau polio. Namun, laiknya kecanduan alkohol dan penyalahgunaan zat, kebigotan cocok untuk “model penyakit.” Dan menyebut kebigotan sebagai penyakit memang merujuk lebih dari sebuah metafora. Ini untuk menegaskan bahwa kebigotan dan bentuk-bentuk kebencian lainnya berkorelasi dengan konsekuensi kesehatan yang merugikan; dan bahwa kebencian dan kebigotan dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial, podcast, dan mode penyebaran serupa.

Pendekatan kesehatan masyarakat terhadap masalah seperti merokok telah menunjukkan keberhasilan; misalnya, kampanye media massa anti-tembakau berkontribusi mengubah pikiran publik Amerika tentang merokok.

Demikian pula, pendekatan kesehatan masyarakat untuk kebigotan, seperti langkah-langkah yang direkomendasikan oleh Abuelaish dan Arya, tidak akan menghilangkan kebencian, tapi setidaknya dapat mengurangi kebencian yang merusak dapat menimpa masyarakat.

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ahmad Nurhasim.

This article was originally published in English