Isu rasisme perlu lebih banyak dibahas di Indonesia

Image by Marco Verch

Rasisme banyak terjadi di Indonesia, tapi sangat jarang dibahas.

Baru-baru ini di Papua, ujung timur Indonesia, terjadi protes besar di sana. Konflik ini dipicu oleh perlakuan rasis aparat keamanan dan anggota masyarakat terhadap mahasiswa Papua di Jawa.

Perlakuan rasis juga dialami banyak orang Papua lainnya, hal ini sudah mengakar dalam budaya dan sejarah Indonesia. Bentuk perlakuannya berbeda-beda, ada yang berbentuk kekerasan, ada yang tidak kentara.

Saya adalah seorang antropolog budaya yang telah meneliti Papua Barat. Tiga belas tahun yang lalu, di Sulawesi Utara, saya menginap di asrama mahasiswa Papua.

Suatu kali, lewat tengah malam, saya mendengar derap kaki, suara-suara, dan gedoran pintu.

Tampak anggota aparat keamanan setempat memaksa mau masuk menggeledah asrama untuk mencari senjata. Mahasiswa ketakutan dan marah.

Ketua asrama berhasil menolak, tapi beberapa minggu setelahnya, kepala aparat setempat memanggil beberapa penghuni asrama.

Pejabat itu membela anggotanya, dan menolak pernyataan para mahasiswa bahwa saat kejadian, anggota aparat datang dengan kondisi mabuk. Dia justru mengancam para mahasiswa dan memaksa mereka untuk mengakui mereka yang salah, alih-alih para anggota aparat itu.

Pada 17 Agustus 2019, kepolisian menahan 43 mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, dengan tuduhan melecehkan bendera Indonesia saat perayaan Hari Kemerdekaan. Polisi meneriaki mereka dengan makian rasis, menyerbu asrama, dan menggunakan gas air mata untuk memaksa mereka keluar

Ada banyak bentuk dan dampak dari rasisme di Indonesia, dan dua insiden di atas menggambarkan dua bentuk rasisme yang berbeda terhadap masyarakat Papua.

Rasisme justru meningkat karena orang Indonesia tidak membicarakan apa itu rasisme, seperti apa bentuknya, dan apa akibatnya.


Read more: Tensions in Papua and hyper-nationalism in Indonesia


Prasangka yang terus ada

Masyarakat Papua telah lama mengalami perlakuan rasis di Indonesia, tapi mereka selalu dituntut untuk diam saja demi persatuan dan keharmonisan.

Berada di satu komunitas yang sama dengan masyarakat Papua, saya menjadi tahu perspektif umum di kalangan petugas pemerintahan dan polisi.

Mereka beranggapan masyarakat Papua biang masalah dan aktivis politik yang diam-diam mendukung separatisme, khususnya Organisasi Papua Merdeka (OPM). Oleh karena itu, mereka harus memantau, mengawasi, dan menggerebek asrama-asrama ini.

Pihak berwenang menganggap orang Papua perlu diajar untuk tunduk pada otoritas. Jadi, selain ancaman dan penggerebekan, mereka diminta melakukan kerja fisik untuk petugas setempat.

Para tenaga pendidik perguruan tinggi juga beranggapan bahwa orang Papua lambat secara intelektual, pikiran mereka lemah, dan mereka memiliki gaya hidup yang primitif, bahkan di tengah kota.

Mahasiswa Papua kerap dilecehkan oleh mahasiswa lain; ditanya apa pernah memakai koteka, apa memasak pakai api kayu, apa berburu dan mencari makan di hutan karena mereka primitif.

Laki-laki Papua dianggap sebagai pekerja yang kuat dan efektif, sehingga mereka ditawari pekerjaan membangun rumah dan bercocok tanam.

Beberapa mahasiswa diberikan nama panggilan bernada rasis oleh rekannya. Rasisme juga muncul dalam bentuk yang lebih halus dan kompleks, dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beberapa orang muda Papua merasa tidak aman, sehingga mereka memilih untuk lebih melekatkan diri dengan komunitas Papua lainnya. Sementara beberapa orang lainnya berusaha menjauh dari komunitasnya, agar bisa lepas dari perlakuan rasis.

Banyak yang berusaha untuk bersikap sangat baik, dan memastikan orang-orang Papua lainnya bersikap serupa agar dapat diterima masyarakat dan lepas dari pandangan rasis.

Namun rasisme tidak muncul begitu saja.

Konstruksi imajiner

Sosiolog asal Inggris Gail Lewis [menjelaskan] bahwa konsep rasialisme (rasialisation) mengacu pada gagasan lama bahwa ras adalah karakteristik biologis dan juga mengacu pada gagasan baru bahwa budaya adalah penanda perbedaan.

Tidak ada fakta biologis tentang ras - semua manusia saling berhubungan secara genetis, namun pemikiran tentang ras selalu ada dalam imajinasi sosial.

Selama kita masih berpikir bahwa budaya, etnis, atau warna kulit berpengaruh pada kemampuan, sikap, motivasi, bahkan cara berpikir dan gaya hidup, maka rasisme akan selalu ada.

Coba kita lihat dalam ideologi keseharian di Indonesia. Apakah ada suku tertentu yang diakui karena kecantikannya? Kemampuan bisnis? Kemampuan artistik? Kecakapan fisik? Apakah perempuan dari suku tertentu dianggap sebagai calon istri yang lebih baik dibandingkan perempuan dari suku lain? Apakah ada suku tertentu yang dianggap lebih keras kepala, lebih patuh, lebih disiplin, lebih emosional, lebih bisa kerja keras, atau lebih menarik?

Indonesia memiliki banyak gagasan semacam itu, beberapa di antaranya sudah ada sejak era kolonial Belanda.


Read more: Development for all: a better solution for Papua


Keyakinan yang melumpuhkan

Rasisme bisa berakibat serius. Rasisme menyebabkan orang tidak dilibatkan dalam pembahasan tentang masa depan dirinya sendiri. Hal ini bisa digunakan untuk mencabut martabat, lahan, otonomi, dan hak.

Rasisme menghambat masyarakat Papua dalam mendapat pekerjaan, layanan kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi.

Ketika orang menganggap bahwa isu kemerdekaan Papua itu asalnya dari provokator asing, bukan orang Papua sendiri, ini adalah bentuk rasisme karena menganggap orang Papua tidak mampu mengenali dan menyatakan keinginan mereka sendiri.

Ligia Giay, peneliti dari Universitas Murdoch, Australia, dan Budi Hernawan, peneliti dari Universitas Indonesia, telah menjelaskan bahwa ketika orang mengatakan pembangunan akan memuaskan masyarakat Papua, ini merupakan rasisme yang mengatakan masyarakat Papua tidak memiliki kapasitas dalam melakukan observasi, analisis, dan memahami sejarah mereka sendiri.

Pertanyaannya adalah, sampai kapan mitos ini akan bertahan?

Ada beberapa tanda yang menunjukkan generasi baru masyarakat Indonesia mulai menerima kenyataan bahwa masyarakat Papua mampu mengetahui dan menyampaikan apa yang mereka mau.

Generasi ini mempertanyakan apakah mereka masih ingin mendukung perilaku dan gagasan masa lalu - kekerasan, rasisme, dan penghancuran - serta apa yang bisa dilakukan untuk masa depan yang berbeda.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.


Read more: The internet shutdown in Papua threatens Indonesia's democracy and its people's right to free speech


This article was originally published in English