Laki-laki yang berpegang teguh pada stereotip seksis lebih cenderung kasar terhadap perempuan. Shutterstock

Laki-laki yang menganut paham maskulinitas seksis lebih cenderung melecehkan perempuan

Laki-laki yang berpegang teguh pada persepsi seksis yang kaku tentang apa itu laki-laki lebih mungkin untuk menggunakan dan membolehkan kekerasan terhadap perempuan.

Di sisi lain, laki-laki yang pemikirannya lebih fleksibel dan lebih terbuka pada kesetaraan gender dalam hal kejantanan akan cenderung memperlakukan perempuan dengan hormat. Mendorong model maskulinitas yang sehat dan lebih fleksibel adalah cara penting untuk mengakhiri kekerasan dalam rumah tangga dan seksual.

Pernyataan di atas mungkin ada dalam pemahaman orang banyak, tapi sebuah laporan baru dari lembaga nirlaba Our Watch, yang berfokus pada kekerasan dalam rumah tangga memberikan bukti-bukti yang mendukung. Laporan tersebut mengkaji penelitian di Australia dan seluruh dunia tentang maskulinitas, dan mengutip 374 sumber.

Sebagian laki-laki tidak pernah menggunakan kekerasan terhadap perempuan. Namun, beberapa laki-laki jauh lebih mungkin untuk menggunakan kekerasan daripada yang lain. Bayangkan situasi berikut.

Anda adalah seorang perempuan heteroseksual muda dan Anda menginginkan seorang pacar. Kebetulan, ada 100 laki-laki di gedung sebelah, semuanya lajang, dan heteroseksual.


Read more: Risky business: how our 'macho' construction culture is killing tradies


Manakah dari mereka yang lebih cenderung untuk memperlakukan Anda dengan hormat, perhatian dan berkeadilan gender? Dan, di sisi lain, manakah yang lebih mungkin untuk melecehkan, mengendalikan, dan menyerang Anda?

Di antara 100 laki-laki tersebut, sejumlah kecilnya pernah menggunakan kekerasan. Tergantung penelitian mana yang jadi acuan, sekitar 15 hingga 20 sampai 25 dari 100 laki-laki tersebut pernah memperkosa atau memaksa perempuan untuk berhubungan seks.

Apa itu laki-laki

Banyak faktor yang dapat diandalkan untuk memperkirakan risiko terjadinya kekerasan. Beberapa faktor kunci berkaitan dengan maskulinitas, yaitu sikap dan perilaku yang secara stereotip dikaitkan dengan menjadi seorang laki-laki.

Idealisme lama tentang kejantanan mencakup pemikiran bahwa laki-laki harus kuat, tegas, dan dominan dalam hubungan dan rumah tangga. Laki-laki harus tangguh dan terkontrol, sementara perempuan lebih rendah, atau bahkan jahat dan tidak jujur.

Menghentikan kekerasan terhadap perempuan dimulai dengan kesetaraan gender.

Laki-laki yang bersandar pada idealisme ini lebih cenderung untuk memukul, melecehkan, memaksa, dan melecehkan perempuan secara seksual dibanding laki-laki yang memandang perempuan setara dengan mereka.

Dan laki-laki yang percaya pada hak seksual mereka atas tubuh perempuan atau mitos perkosaan lebih mungkin untuk memperkosa perempuan.


Read more: When mothers are killed by their partners, children often become ‘forgotten’ victims. It’s time they were given a voice


Lebih lanjut, lelaki yang teman laki-lakinya membolehkan atau menggunakan kekerasan lebih mungkin melakukan hal yang sama.

Risiko di tingkat masyarakat

Namun, model kejantanan seksis adalah sebuah risiko juga di tingkat komunitas dan masyarakat. Masyarakat dengan dominasi laki-laki dan ketidaksetaraan gender sistemik memiliki tingkat kekerasan yang lebih tinggi terhadap perempuan.

Kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual mencerminkan sistem sosial dan struktur di sekitarnya, termasuk ketidaksetaraan gender di tingkat lingkungan dan negara. Sebagai contoh, penelitian menemukan norma yang tidak berkeadilan gender dalam masyarakat di Tanzania dan India sejalan dengan tingkat kekerasan pasangan terhadap perempuan yang lebih tinggi.

Dan maskulinitas seksis tidak hanya menyebabkan terjadinya kekerasan langsung terhadap perempuan, tapi juga turut melanggengkan kekerasan itu.


Read more: How challenging masculine stereotypes is good for men


Sebagian besar dari 100 laki-laki dari gedung sebelah tadi belum pernah menggunakan kekerasan. Namun, idealisme tradisional tentang maskulinitas memungkinkan beberapa dari mereka akan menyalahkan perempuan yang diperkosa, tidak mencegah perilaku yang mendukung kekerasan, menutup mata terhadap laki-laki yang melakukan paksaan seksual, atau ikut tertawa pada lelucon yang ikut melanggengkan sikap sosial yang membolehkan pemerkosaan.

Di antara 100 laki-laki tadi, banyak faktor lain, di samping gender, yang membentuk kemungkinan mereka melakukan kekerasan. Hal ini termasuk kondisi sosial mereka, pengalaman masa kecil terhadap kekerasan, kesehatan mental, dan sebagainya.

Pendukung pencegahan kekerasan kini semakin mengadopsi pendekatan “intersectional,” yaitu mengakui bahwa gender bersinggungan dengan wujud-wujud ketertinggalan dan privilese sosial lain ketika membentuk keterlibatan dalam tindak kekerasan dan viktimisasi.

Maskulinitas pada dasarnya bersifat sosial

Terdapat pemahaman yang menyebar luas bahwa untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, kita harus melibatkan laki-laki dan anak laki-laki. Kita harus mendefinisikan kembali maskulinitas, mempromosikan ekspektasi sosial yang lebih sehat dan positif di antara laki-laki dan anak laki-laki. Dan laki-laki serta anak laki-laki itu sendiri akan mendapat manfaat dari perubahan seperti itu.

Bentuk-bentuk kekerasan nonfisik.

Maskulinitas, sikap, dan perilaku yang dikaitkan dengan laki-laki, pada dasarnya bersifat sosial, yakni diproduksi di masyarakat. Makna yang melekat pada kejantanan dan bentuk sosial kehidupan laki-laki sangat berbeda-beda di sepanjang sejarah dan seluruh budaya-budaya.

Ini berarti peran maskulinitas dalam kekerasan terhadap perempuan juga bersifat sosial, dan hal ini dapat diubah melalui upaya pencegahan yang menangani norma, praktik, dan struktur maskulinitas yang seksis.


Read more: How can we make families safer? Get men to change their violent behaviour


Kabar baik dari jumlah penelitian yang bertumbuh pesat adalah bahwa intervensi yang dirancang dengan baik dapat membuat perubahan positif.

Program pendidikan tatap muka dapat memperbaiki sikap serta perilaku laki-laki dan anak laki-laki. Kampanye komunitas dapat mengubah norma sosial. Dan reformasi kebijakan serta hukum tentang diskriminasi, pekerjaan, dan pengasuhan anak dapat berkontribusi terhadap perubahan peran gender di tingkat masyarakat.

Pekerjaan pencegahan harus bersifat transformatif gender, yaitu menantang aspek seksis dan tidak sehat dari maskulinitas dan peran gender. Upaya tersebut harus dilakukan bersama dengan upaya dalam hak asasi perempuan. Dan itu harus menjangkau tidak sekadar sejumlah kecil lelaki “jahat”, namun membuat perubahan dalam norma-norma maskulin di masyarakat, ketidaksetaraan gender sistemik, dan ketidakadilan sosial lainnya.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,400 academics and researchers from 3,105 institutions.

Register now