Lima mitos saat berusia 65 tahun, termasuk soal seks dan kekuatan otak

Lima mitos saat berusia 65 tahun, termasuk soal seks dan kekuatan otak

Orang berusia 65 tahun ke atas menyumbang persentase populasi dunia lebih besar daripada sebelumnya. Karena masyarakat yang menua ini baru benar-benar terjadi pada akhir abad lalu, tidaklah mengherankan bahwa banyak hal yang kita pikir ketahui tentang penuaan ternyata tidak benar.

“Fakta” tentang penuaan menggambarkan orang menjadi sedikit berkurang —kurang mampu, kurang bersemangat, kurang fleksibel, kurang seksual, dan kurang terpenuhi. Namun berapa hanyak dari “fakta” ini yang sudah terbukti? Mari menyelidiki lima kepercayaan yang umum.

1. Penurunan libido dan aktivitas seksual

Ini tidaklah benar. Kadar hormon berubah seiring kita menua, tapi ini tidak selalu menurunkan libido. Malah pada perempuan, libido sering kali meningkat setelah menopause.

Libido orang yang lebih tua mungkin menurun akibat penyakit kronik (seperti diabetes dan penyakit jantung), efek samping obat (misalnya obat antihipertensi) serta kebosanan dan ketidakbahagiaan dalam pernikahan. Jadi, menurunnya hasrat seksual pada usia karena sering kali akibat kejadian dan keadaan, bukan akibat perubahan fisik yang terjadi seiring penambahan usia.

Bagaimana pun juga, memiliki pasangan seksual adalah faktor terkuat untuk menentukan seberapa sering orang tua berhubungan seksual. Karena perempuan cenderung menikahi laki-laki yang lebih tua, yang mati lebih muda, penurunan aktivitas seksual pada perempuan tua seringnya disebabkan karena menjanda. Lagi-lagi, bukanlah penuaan itu sendiri yang menurunkan libido dan aktivitas seksual, melainkan kejadian dan kondisi yang sering kali mengiringi penuaan.

2. Fungsi otak menurun akibat usia

Tidak benar. Sel-sel saraf (neuron) kita bekerja secara berbeda pada usia tua, dan orang yang lebih tua bisa memiliki kesulitan dalam berpikir dan mengingat. Namun, seperti halnya hubungan seksual, kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial. Contohnya, kemampuan mental erat terkait dengan hubungan sosial suportif serta aktivitas fisik dan mental. Karena kita bisa mengubah keadaan sosial kita, kita mungkin bisa menyingkirkan efek penuaan terhadap kemampuan mental kita.

Roget menulis Thesaurusnya pada usia 76 tahun. Wikimedia Commons

Kita sering memperlakukan kemampuan mental anak muda dan orang paruh baya sebagai standar emas, tapi ini bias dan menyebabkan kesimpulan yang salah. Seiring kita menua, kita mungkin berpikir secara berbeda dan dalam kecepatan berbeda (kita punya lebih banyak hal untuk diingat), tapi ini tidak membuat pikiran kita kurang tajam, dalam, kreatif, produktif atau berarti. Bagaimana pun juga, Peter Roget menciptakan thesaurus pada usia 76, dan Michelangelo menggambar rencana arsitektur untuk Basilika Santa Maria Para Malaikat dan Martir pada usia 88 tahun.

3. Anda jadi lebih konservatif

Tidak juga. Bayangkan sepuluh orang; satu berusia sepuluh, satu orang 20 tahun, satu 30 tahun, dan seterusnya. Yang paling tua kurang liberal ketimbang yang 60 tahun, yang kurang liberal dibandingkan usia 40, 30, dan begitu seterusnya. Anda mungkin menyimpulkan bahwa orang jadi lebih konservatif seiring usia. Namun Anda akan salah berasumsi bahwa tiap orang memulainya dengan pandangan politik yang sama.

Seorang perempuan berusia 100 tahun, lahir pada 1918, membentuk dasar opini politiknya pada waktu yang sangat berbeda. Apa yang liberal pada 1940-an kini menjadi konservatif (pertimbangkan relasi ras, feminisme, dan norma-norma seksual).

Apa yang Anda lihat adalah seseorang berusia 100 tahun yang opini politiknya telah menjadi kurang konservatif, tapi tetap lebih konservatif dibandingkan opini anak-anaknya atau cucu-cucunya, yang memulai hidup mereka dalam pijakan yang lebih liberal. Inilah yang ditemukan peneliti AS dalam studi mereka mengenai sikap politik pada kelompok usia yang berbeda 30 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa “perubahan adalah hal yang biasa di antara orang dewasa yang lebih tua seperti orang dewasa muda”.

4. Anda menjadi kurang bahagia

Bahagianya, ini tidak benar. Seperti yang ditemukan oleh sosiolog di Universitas Chicago, sementara kebahagiaan naik turun pada usia 30 sampai 40 tahun, “kadar kebahagiaan secara keseluruhan meningkat seiring usia, setelah dikurangi faktor-faktor lainnya”.

Mengapa? Pertama, orang yang lebih muda mungkin terpapar kejadian menegangkan, sedangkan orang tua yang sudah pensiun terlindung darinya. Misalnya gaji yang tidak pasti, atau periode menganggur. Kedua, seiring kita menua, kita cenderung makin fokus pada informasi dan memori positif, dan menjadi lebih baik kita dalam mengatur emosi. Dan tren peningkatan ini terus berlanjut hingga kita “pada dasarnya sekarat”.

Kebahagiaan cenderung meningkat seiring usia. oneinchpunch/Shutterstock

5. Sistem imun Anda melemah

Secara keseluruhan ini betul, tapi sistem imun orang tua sangat bervariasi. Ingat orang berusia 100 tahun yang menjadi lebih liberal seiring waktu? Dia berusia 11 tahun saat Depresi Besar dimulai. Sebagai hasilnya, ia mungkin telah menjalani pubertas saat tertekan secara finansial, sosial, dan nutrisi. Nutrisi yang buruk telah melemahkan sistem imunnya dalam jangka menengah dan panjang.

Seperti yang peneliti Prancis telah temukan, kekurangan nutrisi melemahkan sistem imun, khususnya yang sangat muda dan sangat tua. Jadi bila perempuan 100 tahun kita itu kekurangan nutrisi pada usia tua, kekebalannya akan dirugikan dua kali.

Namun ia mungkin lebih kecil kemungkinannya menderita flu. Kita menjadi kebal selama bertahun-tahun, dan kadang bahkan seumur hidup, terhadap virus spesifik setelah kita terinfeksi olehnya. Seiring waktu, kita jadi makin kebal terhadap lebih banyak virus, sehingga makin kita menua, makin sedikit virus yang bisa membuat kita sakit—tentu dengan asumsi, bahwa kita tidak dibanjiri oleh sejumlah besar virus baru. Lagi-lagi, inilah bagaimana kita terhubung —dan telah terhubung — dengan dunia luar yang membentuk usia kita.

This article was originally published in English

Help us bring facts and expertise to the public.