Paruh baya punya problem seks? Penelitian terbaru tunjukkan hal ini lazim terjadi

Saling membelakangi di ranjang. Kenapa? Mangostar/Shutterstock

Paruh baya punya problem seks? Penelitian terbaru tunjukkan hal ini lazim terjadi

Sekitar 30% orang Kanada berusia antara 40 dan 59 tahun memberitahukan setidaknya punya satu masalah di ranjang.

Masalah seksual paling umum adalah gairah rendah, menurut sebuah riset yang baru-baru ini kami publikasikan di Journal of Sexual Medicine. Sekitar 40% dari para perempuan yang kami tanyai dan 30% dari laki-laki (yang menjadi responden) menyatakan mengalami masalah dengan rendahnya gairah seks dalam enam bulan terakhir.

Banyak perempuan juga menyatakan sulitnya mencapai orgasme (15%), juga masalah dengan kekeringan vagina (29%) dan nyeri vagina (17%). Hampir seperempat dari para lelaki memiliki kesulitan ejakulasi dan mempertahankan atau memperoleh ereksi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa variasi masalah seksual cukup umum di kalangan paruh baya orang Kanada. Temuan kami juga sebagian besar selaras dengan publikasi riset dari Amerika Serikat dan Inggris.

Di luar negara maju, seperti penelitian tentang masalah seksual di India masih sedikit. Riset yang ada menunjukkan bahwa penduduk India juga mengalami tingkat masalah seksual yang tinggi. Sebagai contoh, satu studi tentang seksualitas laki-laki India menemukan bahwa kekhawatiran tentang ejakulasi dini sangat umum (77,6%) seperti keluhan tentang disfungsi ereksi (23,6%).

Sebuah penelitian tentang prevalensi dan faktor risiko disfungsi seksual pada perempuan India menemukan bahwa prevalensi masalah seksual di antara perempuan sangat tinggi - 77,2% melaporkan kesulitan dengan gairah, 91,3% dengan gairah, dan 86,6% dengan orgasme. Secara keseluruhan, masalah seksual di kalangan penduduk India membutuhkan perhatian tambahan dari para peneliti.

Saya adalah calon doktor dalam bidang hubungan keluarga dan pembangunan manusia di Universitas Guelph Kanada dan riset saya utamanya fokus pada “menjaga kehidupan seks” dalam hubungan jangka panjang. Ketertarikan utama saya adalah titik potong dari hubungan dan elemen seksual dalam hubungan romantis.

Riset ini saya lakukan bersama Robin Milhausen dari Universitas Guelph, Alexander McKay dari Dewan Pendidikan dan Informasi Seks Kanada, dan Stephen Holzapfel dari Women’s College Hospital Toronto. Riset ini ditujukan untuk menjawab kurangnya kesediaan data pada frekuensi dan pemicu masalah seksual di kalangan paruh baya Kanada.

Seks baru meningkatkan gairah

Para individu yang menikah lebih cenderung menyatakan rendah gairah ketimbang mereka yang tidak menikah, menurut hasil riset kami. Laki-laki yang menikah lebih cenderung memberitahukan kesulitan ejakulasi.

Ini temuan menarik dan tidak diperkirakan. Riset lain telah menunjukkan bahwa kepuasan seksual menurun seiring dengan waktu dalam hubungan jangan panjang. Secara bersamaan, riset ini menunjukkan bahwa terlalu familiar dengan seorang partner dalam beberapa kasus menyebabkan pembakaran “api seksual” kurang panas, yang mungkin juga berkontribusi pada problem seksual.

Setelah bertahun-tahun menikah, dibutuhkan kerja untuk memanaskan kembali kehidupan seksual. (Shutterstock)

Riset kami juga menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas seksual baru mungkin meningkatkan gairah dengan memutus rutinitas dan kemudian mendongkrak kehidupan seksual.

Kami juga menguji efek dari menopause - temuannya bahwa perempuan pasca menopause lebih banyak mengalami kurang gairah dan nyeri vagina. Hal ini selaras dengan rujukan lainnya yang menunjukkan menurunnya gairah perempuan pasca menopause. Riset kami melengkapi riset lainnya, yang menunjukkan bahwa psikologi mengubah seperti penipisan dinding vagina dan lubrikasi yang berkurang yang dapat terjadi setelah menopause yang bisa menyebabkan nyeri vagina.

Ketika dokter tidak bertanya

Kami menggelar riset ini dengan sampel nasional besar dari 2.400 orang Kanada berusia 40-59 tahun. Temuan kami menunjukkan bahwa problem seksual sangat umum pada kelompok usia ini. Kelompok ini merupakan demografi Kanada terbesar dan akan terus bertambah. Lebih banyak data nasional Kanada dibutuhkan untuk memahami kebutuhan perawatan kesehatan bagi kelompok ini.

Satu keterbatasan penting dari studi ini adalah bahwa kami mendasarkan riset pada laporan mandiri partisipan dan tidak menilai apakah mereka memenuhi kriteria diagnostik untuk sebuah diagnosis klinis dari disfungsi seksual (misalnya disfungsi ereksi).

Penelitian yang dipublikasikan sebelumnya menunjukkan bahwa lebih banyak orang paruh baya Kanada ingin ditanya tentang masalah seksual oleh dokter mereka, tapi lebih dari 75 persen tidak mencari bantuan untuk masalah ini.

Membaca bersama dengan hasil riset kami, ini menunjukkan isu perawatan kesehatan yang baru muncul membutuhkan perhatian dan riset.

Penulis menambahkan data tentang riset seksualitas di India.

This article was originally published in English