Paus sperma terdampar di Wakatobi: buruknya pengelolaan sampah plastik di daratan

Setumpuk sampah di perut paus sperma yang terdampar di pantai Pulau Kapota Wakatobi, 19 November 2018. Alfi Kusuma Admaja (AKKP-KP)/Author provided, CC BY-NC

Ketika seekor paus sperma (Physeter microcephalus) ditemukan mati terdampar di pantai Pulau Kapota di Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada 19 November 2018 lalu, tim nasional penanganan paus malang itu kaget. Pasalnya, tim reaksi cepat lokal di Wakatobi menemukan hampir 6 kilogram sampah plastik, termasuk gelas plastik, sandal jepit dan tali rafia, bersarang di dalam tubuh paus sperma tersebut.

Sebenarnya, kejadian paus sperma terdampar ini bukan yang pertama di Indonesia. Tim database Whale Stranding Indonesia mencatat setidaknya 45 kasus paus sperma terdampar sejak 1997 hingga sekarang, itu belum termasuk kejadian-kejadian yang tidak terdeteksi. Namun baru kali ini perut seekor paus besar dibedah dan ternyata “mengandung” sampah begitu banyak di dalam organ tubuhnya. Bentuk tubuh paus yang kurus mengindikasikan bahwa sampah sebanyak itu secara tidak langsung menyebabkan kematian paus tersebut.

Temuan sampah di dalam tubuh paus sperma ini menarik perhatian banyak orang. Artikel tentang temuan di Wakatobi tersebut yang dimuat di Facebook Whale Stranding Indonesia dibagikan lebih dari 3,780 kali sedangkan tim nasional telah dihubungi banyak media nasional dan internasional.

Peneliti memeriksa paus sperma tewas yang terdampar di pantai Pulau Kapota Wakatobi, 19 November 2018. WWF/EPA

Dari segi penanganan mamalia laut yang terdampar, kasus paus sperma ini menunjukkan pentingnya nekropsi (bedah hewan pasca-kematian untuk menentukan, antara lain, penyebab kematian). Dari segi pengelolaan lingkungan, temuan sampah di dalam tubuh paus ini menunjukkan bahwa sampah tidak hanya membawa masalah bagi manusia, tapi juga bagi hewan-hewan laut.

Ancaman plastik

Sebagai peneliti mamalia laut, saya tidak heran dengan temuan sampah di dalam tubuh paus tersebut. Walau adanya sandal jepit Ardiles buatan Indonesia dan beragam sampah plastik dan non-plastik dalam perut paus ini merupakan pemandangan yang miris, saya tahu bahwa hal ini merupakan temuan yang, sayangnya, umum di dunia internasional.

Seekor paus sperma pernah ditemukan di Jerman dengan 15 meter jaring ikan di dalam organnya. Satu paus sperma lain ditemukan di Spanyol dengan 30 kilogram plastik di dalam tubuhnya.

Yayasan RASI di Kalimantan Timur juga pernah menemukan pesut Mahakam yang “mengandung” sampah, termasuk popok bayi, di perutnya. Paus dan lumba-lumba bukan satu-satunya kelompok hewan yang mati karena sampah. Empat belas potong plastik kecil saja sudah cukup untuk membunuh penyu laut. Burung-burung laut dan polip karang pun sering “salah makan” plastik sehingga mati.

Mengapa paus keliru makan plastik?

Mengapa paus bisa salah makan plastik? Seperti halnya kelelawar, paus dan lumba-lumba berburu mangsa dengan ekolokasi. Natacha Aguilar de Soto, ahli biologi laut dan ekologi dari Centre for Research into Ecological Modelling Universitas La Laguna di Kepulauan Canary, menjelaskan bahwa gema plastik mirip gema mangsa (misalnya cumi-cumi), sehingga paus dan lumba-lumba pun salah mengidentifikasi plastik sebagai mangsa mereka). Sedangkan burung laut dan polip karang bisa salah makan plastik karena bau yang muncul dari plastik mirip dengan bau mangsa mereka.

Saya baru menyadari bahwa fakta tentang banyaknya sampah yang kerap ditemukan dalam dalam perut hewan laut di dunia adalah hal yang jarang dipahami oleh masyarakat lokal di Indonesia. Begitu masyarakat melihat bukti nyata di perairan mereka sendiri, baru mereka sadar betapa parahnya pengelolaan sampah di Indonesia.

Tiga pilar: produsen, konsumen, dan pemerintah

Sampah (plastik, styrofoam, dan bahan-bahan non-alami lainnya) merupakan masalah global. Penanganan sampah ini harus dengan beberapa cara, yang melibatkan “tiga pilar utama”: produsen, konsumen, dan pemerintah.

Produsen dapat mengurangi penggunaan barang non-alami, terutama plastik dan styrofoam. Pengelola restoran atau warung makanan dapat menggunakan kotak makanan, gelas minum dan sedotan dari kertas (bukan dari plastik atau styrofoam). Pengelola swalayan dan pusat perbelanjaan harusnya menyediakan kantong kertas atau menjual tas goni sebagai ganti tas plastik.

Bila ini diterapkan akan terbuka lapangan kerja untuk memproduksi kotak makanan, gelas minum dan sedotan dari kertas serta tas “kresek” dan sendok-garpu dari tepung jagung maupun sendok-garpu dari kayu yang memang alami dan mudah terurai.

Di bagian konsumen, yang bisa kita lakukan adalah 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kita kurangi penggunaan barang dari plastik dan styrofoam (reduce), gunakan kembali barang-barang tersebut (reuse). Kemudian jika barang plastik dan styrofoam tidak dapat digunakan lagi, kita daur ulang (recycle). Mari kita bawa tas belanja dan botol minum sendiri dan gunakan kembali tas plastik dan botol plastik yang sudah terlanjur ada di rumah kita.

Semua sampah non-organik yang kita hasilkan dapat membunuh hewan laut. Bahkan balon pun bisa membunuh hewan laut, menurut temuan peneliti Universitas Queensland Australia.

Pemerintah sebagai pilar ketiga perlu berkontribusi dengan strategi “carrot and stick”, insentif dan penalti. Penalti, misalnya melarang penggunaan plastik atau membuat plastik menjadi mahal dengan cara menerapkan cukai plastik. Insentif, misalnya memberikan pengurangan atau pembebasan pajak bagi produsen yang memproduksi produk-produk alami. Subsidi juga bisa diberikan untuk produksi barang-barang tersebut sehingga harganya bersaing atau lebih murah dari harga plastik dan styrofoam.

Kampanye sadar sampah

Kampanye sadar sampah juga perlu digalakkan, termasuk kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki program pengurangan sampah. Pemerintah juga perlu memfasilitasi upaya daur ulang sampah di setiap daerah.

Pengelolaan sampah memang sulit. Namun, paus dan lumba-lumba sudah terpapar dampak negatif kegiatan manusia lainnya seperti perikanan yang tidak lestari dan kebisingan di bawah laut (dari kegiatan eksplorasi migas, perkapalan dan militer).

Sekecil apa pun, perbaikan perilaku kita di daratan pasti membantu kehidupan paus dan lumba-lumba serta hewan laut lainnya. Perubahan ini dimulai dari diri kita sendiri. Misalnya, sudahkah Anda membawa sendiri tas belanja dan botol minum yang ramah lingkungan hari ini?