Kebakaran hutan yang terjadi di sebagian pulau Sumatra dan Kalimantan tahun ini diakibatkan oleh kegiatan tebang-dan-bakar oleh perusahaan dan masyarakat setempat. www.shutterstock.com

Penghargaan John Maddox untuk Bambang Hero Saharjo inspirasi bagi peneliti untuk gunakan sains di persidangan

Keberhasilan pakar kebakaran hutan Indonesia, Bambang Hero Saharjo, mendapatkanPenghargaan John Maddox 2019 seharusnya bisa menginspirasi para ahli lingkungan lainnya untuk beraksi di persidangan dan menggunakan ilmu pengetahuan demi perlindungan lingkungan hidup.

Ia terpilih dari 206 kandidat dari 38 negara untuk menerima penghargaan yang diberikan para ilmuwan yang teguh menggunakan sains meski mendapatkan tekanan, pada hari Selasa lalu, di London, Inggris. Profesor kehutanan dan ahli forensik kebakaran hutan dari Institut Pertanian Bogor tersebut telah menjadi saksi ahli di hampir sekitar 500 kasus kebakaran hutan, sejak tahun 2000.

Selama 20 tahun menjadi saksi di persidangan, Bambang kerap mengalami intimidasi, ancaman, bahkan tuntutan hukum dari perusahaan yang tidak puas dengan kesaksiannya.

Indonesia merupakan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, setelah Brasil dan Republik Kongo. Namun, kebakaran hutan terjadi hampir setiap tahunnya, yang mempengaruhi negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, dan merugikan negara paling sedikit US$ 10 miliar atau Rp140 miliar per tahun.

Kabut asap akibat kebakaran hutan juga menyebabkan masalah pernapasan dan memaksa sekolah serta bandara untuk tutup di Indonesia.

Kebakaran hutan dan lahan ini kebanyakan berasal dari praktik tebang bakar dari perusahaan karena dianggap teknik murah untuk membuka lahan. Pemerintah sudah melarang praktik ini sejak tahun 2009, namun beberapa perusahaan masih tetap melanggar peraturan tersebut.

Hingga kini, polisi telah menyelidiki lebih dari 130 perusahaan perkebunan dan petani mandiri diduga melakukan pembakaran lahan secara ilegal.

“Ini bukan hanya tentang jumlah persidangan yang dia [Bambang] ikuti, tetapi saya tahu komitmennya untuk penegakan hukum lingkungan. Saya harap ini bisa menjadi contoh dan menginspirasi ilmuwan lain tentang bagaimana sains memiliki kontribusi positif untuk penegakan hukum. Penegakan hukum membutuhkan sains,” kata Henri Subagiyo, direktur eksekutif Indonesian Centre for Environment Law (ICEL).

Ia mengatakan hanya sedikit ahli yang bersedia menjadi saksi ahli di pengadilan karena sejumlah alasan. Sebagian besar dari mereka takut akan keselamatan mereka, tambahnya.

Sejak tahun 2000, Bambang telah mendukung penyelidikan polisi dengan penelitiannya, sebuah peran yang membuat dia menjadi musuh besar perusahaan penyebab kebakaran.

Bambang Hero Saharjo (empat dari kiri) menerima Penghargaan John Maddox 2019 atas konsistensinya dalam menggunakan bukti ilmiah untuk membawa pelaku kebakaran hutan ilegal ke pengadilan dalam rentang 20 tahun. Liputan6.com

Bambang telah menerima ancaman dan intimidasi yang tak terhitung jumlahnya selama menjadi saksi ahli di persidangan. Tahun 2018, sebuah perusahaan kelapa sawit bahkan mengajukan tuntutan hukum untuk kesaksiannya yang memberatkan mereka. Perusahaan tersebut membatalkan tuntutan hukum karena dokumen yang tidak memadai.


Read more: Mengapa memadamkan kebakaran hutan di Indonesia begitu sulit: sebuah kisah personal pakar hutan


Ahli ekologi hutan Basuki Wasis, rekan Bambang dalam melakukan investigasi di lapangan sejak tahun 2000, mengatakan bahwa banyak ilmuwan tidak dapat mengatasi tekanan besar dari ruang sidang, terutama pada kasus-kasus lingkungan.

“Tidak [banyak] kampus yang akan mengajarkan Anda tentang [tekanan] di ruang sidang. Saya bahkan masih merasakan ketakutan dan kegugupan setiap [bersaksi] di pengadilan. Tapi, seharusnya ada lebih banyak ilmuwan yang tampil dan berdiri sebagai saksi ahli untuk melindungi lingkungan kita,” kata Basuki.


Read more: Peneliti AS buat alat untuk deteksi wilayah yang paling rawan terkena kabut asap berbahaya


Sama dengan Bambang, Basuki juga menjadi sasaran intimidasi dan ancaman oleh perusahaan yang kalah di pengadilan akibat kesaksiannya. Ia harus menghadapi tuntutan hukum dari perusahaan pertambangan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Gugatan tersebut dibatalkan oleh pengadilan.

“Kami (ilmuwan) dapat membantu, lingkungan bukan hanya tentang Indonesia, atau wilayah lokal, tetapi seluruh populasi di planet ini perlu berjuang untuk lingkungan,” katanya.

Bambang mengatakan kepada The Conversation bahwa dia terkejut bisa menerima penghargaan bergengsi tersebut.

“Apa yang saya lakukan hanyalah mengembalikan hak publik untuk lingkungan yang sehat, dan salah satunya adalah dengan bersandar pada bukti ilmiah. Inilah yang terus saya lakukan selama ini,” katanya.

“Penghargaan ini adalah dorongan besar bagi saya untuk terus maju. Ini hanya bukti bahwa jika kita bisa konsisten dalam menggunakan sains dengan cara yang benar, maka dukungan akan datang dari mana saja, dan yang ini berasal dari Inggris.”

Penerima John Maddox Prize lainnya untuk kategori peneliti muda adalah Olivier Bernard, seorang apoteker dari Quebec, Kanada.

Bernard menjadi target kampanye kotor dan menerima ancaman kematian setelah mengungkapkan bahwa injeksi vitamin C berdosis tinggi yang didukung oleh advokat kesehatan alternatif untuk pasien kanker tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Tindakannya mendorong pemerintah untuk membentuk satuan khusus untuk melindungi para ilmuwan yang berbicara tentang subjek sensitif.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English