Lokasi titik api dari pantauan satelit S-NPP/VIIRS pada tanggal 7 September 2019. NASA Worldview

Peneliti AS buat alat untuk deteksi wilayah yang paling rawan terkena kabut asap berbahaya

Kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di Sumatra dan Kalimantan menghasilkan asap yang berbahaya bagi manusia karena bisa mengakibatkan penyakit jantung dan pernapasan yang berujung pada kematian dini.

Kami mempelajari hubungan antara penggunaan lahan, kebakaran dan polusi udara.

Berdasarkan penelitian terbaru kami, paparan asap akan menyebabkan rata-rata 36.000 kematian dini per tahun di seluruh Indonesia, Singapura dan Malaysia selama beberapa dekade ke depan jika tidak ada strategi pengelolaan lahan yang komprehensif, seperti restorasi lahan gambut.

Untuk mencegah kematian dini dari paparan asap beracun, kami mengembangkan aplikasi online yang dapat menyediakan informasi bagi pengambil kebijakan untuk melindungi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah yang dilewati angin yang membawa kabut asap dari api.


Read more: Tiga hal yang bisa dilakukan Jokowi untuk tangani kebakaran hutan di Indonesia


Dampak kesehatan dari paparan asap

Kabut asap yang parah menyelimuti Asia Tenggara jika tiga hal ini terjadi:

  1. Musim kering bersamaan dengan El Nino (atau kondisi mirip kekeringan lainnya)
  2. Manusia menggunakan api untuk membuka lahan atau menggarap lahan pertanian
  3. Lahan gambut sangat kering dan terdegradasi hingga mereka jadi bahan bakar saat kebakaran.

Kabut asap parah akibat kebakaran hutan dan lahan telah terjadi di tahun 1997, 2006, dan 2015. Meskipun intensitas kebakaran berbeda dari tahun ke tahun, setiap tahun selalu terjadi kebakaran di Indonesia.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan meningkatkan kondisi berkabut. Partikel kecil dalam kabut asap menimbulkan risiko kesehatan termasuk stroke, penyakit kardiovaskular, infeksi pernapasan, dan bahkan kerusakan otak.

Kabut yang tebal yang dihasilkan dari lahan gambut yang terbakar mempengaruhi kesehatan manusia. Adi Weda/EPA

Karena tenaga pemadam kebakaran sangat terbatas, maka pemerintah perlu mengidentifikasi area prioritas dalam upayanya mengurangi dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Studi kami menunjukkan salah satu caranya adalah dengan menentukan wilayah-wilayah yang kesehatan penduduknya paling terancam oleh kabut.

Sains dapat melakukan ini dengan melakukan mengkalkulasi dampak asap kebakaran hutan dan lahan bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di wilayah yang terlewati angin yang membawa kabut dari sumber api akan lebih mudah terkena paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan dan lebih rentan mengalami masalah kesehatan.


Read more: Jokowi telah berlakukan permanen moratorium izin hutan. Ini tiga keuntungannya bagi Indonesia.


Kami mengembangkan kerangka kerja ilmiah yang menggabungkan data satelit penggunaan lahan, tutupan lahan dan emisi kebakaran hutan dan lahan, pemodelan pergerakan asap di atmosfer, dan dampak kesehatan dari paparan asap.

Kami juga memproyeksikan transisi penggunaan lahan dan tutupan lahan untuk sepuluh tahun mendatang terkait dengan berbagai kondisi kering hingga basah. Lalu, kami menghitung dampak kesehatan sebagai akibat paparan kabut asap untuk Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Meskipun data penggunaan lahan dan kebakaran hadir dalam lingkup ruang yang terbatas, perkiraan studi kami untuk dampak kesehatan mencakup skala negara.

SMOKE Policy Tool untuk menentukan prioritas wilayah rawan asap

Sebagai bagian dari penelitian, kami menciptakan SMOKE Policy Tool, sebuah aplikasi daring yang bisa melacak asap dan memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi manfaat kesehatan dari upaya menghambat kebakaran hutan dan lahan dengan skenario pengelolaan lahan yang berbeda di daerah yang berbeda.

Pengguna dapat menargetkan satu atau berbagai konsesi (kelapa sawit, kayu, penebangan), kawasan konservasi, lahan gambut, dan provinsi dalam aplikasi tersebut.

Tampilan layar SMOKE Policy Tool.

Alat ini juga memperkirakan jumlah kematian dini terkait dengan paparan kabut asap. Dalam kondisi normal, selama beberapa dekade mendatang, kami memperkirakan sekitar 36.000 kematian prematur per tahun di seluruh Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Selain itu, kami memperkirakan bahwa level PM2.5 (partikel kecil dalam asap) yang berasal dari api kebakaran hutan dan lahan akan mencapai 18-20μg/m3 dari bulan Juli hingga Oktober di Singapura dan Indonesia. Level itu hampir dua kali lipat dari pedoman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Berdasarkan asumsi kami, perkiraan dampak kesehatan masyarakat cenderung konservatif, karena kami tidak mempertimbangkan dampak perubahan iklim yang ikut memperburuk kekeringan, atau memperhitungkan perubahan populasi manusia di masa depan.

Namun, karena kerangka kerja ilmiah kami fleksibel, kami dapat memasukkan informasi terkini tentang emisi kebakaran, penggunaan lahan, paparan asap, dan kepadatan populasi saat muncul data baru.

Alat ini ke depannya dapat menggabungkan pemantauan emisi kebakaran dan dampak kesehatan hampir mendekati waktu nyata pada skala sub-negara.

Menjaga lahan gambut tetap basah

Sebagian besar kematian dini akibat dari kabut asap di Indonesia dapat dicegah jika pemerintah berhasil merestorasi kondisi kelembaban seluruh lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan.

Untuk mencegah kebakaran api menghasilkan kabut asap tebal yang berbahaya, Indonesia perlu untuk menjaga lahan gambut tetap basah . BAGUS INDAHONO/EPA

Studi kami menunjukkan bahwa meskipun lahan gambut di Indonesia hanya sekitar 20% dari luas seluruh lahan, namun kebakaran api di lahan gambut menyumbang sekitar dua pertiga dari keseluruhan emisi kebakaran.

Sebagai bagian dari pengembangan SMOKE Policy Tool, kami bekerjasama dengan Badan Restorasi Lahan Gambut Indonesia atau BRG, yang diberikan mandat untuk merestorasi dua juta hektare lahan gambut yang terdegradasi.

Dengan sumber daya yang terbatas, badan tersebut harus memprioritaskan restorasi lahan gambut. Hingga kini, BRG menentukan prioritas berdasarkan jumlah titik api.

Tetapi, dengan adanya SMOKE Policy Tool, BRG dapat mendefinisikan kembali area-area prioritas mereka dengan mengacu pada dampak kesehatan di wilayah Asia Tenggara.

Alat kami menunjukkan bahwa memprioritaskan kegiatan restorasi di sepanjang pantai timur Sumatra Selatan akan menghasilkan manfaat kesehatan terbesar bagi ketiga negara.

Prioritas sekunder adalah pantai selatan Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan. Hal ini dikarenakan api di lahan gambut tersebut berada pada arah angin yang berlawanan dengan posisi di mana populasi berada.

Menetapkan daerah prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan penting bagi pemerintah agar dapat memanfaatkan sumber daya yang terbatas sebaik-baiknya. Upaya di masa depan juga dapat diterapkan untuk kebakaran hutan di lokasi lain, seperti hutan Amazon.

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English