Perang lawan kuman penyakit semakin sengit dengan munculnya ‘gonore super’

Resistansi antibiotik bukan hal baru, namun perkembangan terbaru menciptakan kondisi darurat. shutterstock

Perang lawan kuman penyakit semakin sengit dengan munculnya ‘gonore super’

Dalam beberapa minggu terakhir marak pemberitaan mengenai bangkitnya kuman penyakit super dan penggunaan antibiotik berlebihan, termasuk satu berita mengenai infeksi penyakit menular seksual di Inggris. Seorang laki-laki di Inggris merupakan manusia pertama yang didiagnosis dengen galur gonore yang resistan terhadap semua galur antibiotik yang digunakan untuk melawan infeksi tersebut.

Bakteri super cenderung mengancam orang dengan sistem ketahanan tubuh yang lemah, seperti pasien kanker, dan mereka yang terluka atau habis menjalani operasi. Namun ditemukannya penularan bakteri super secara seksual dapat diartikan infeksi yang resistan terhadap antibiotik dapat menyebar lebih luas.

Jadi apa sesungguhnya bakteri super itu, dan apakah kita perlu takut?

Super tapi bukan hal baru

“Bakteri super” bukan seperti pahlawan super dari kalangan bakteri. Istilah bakteri super merujuk pada bakteri yang telah menjadi resistan terhadap antibiotik. Seberapa “super” mereka tergantung pada seberapa banyak antibiotik yang tak mempan melawan mereka.

“Resistansi antibiotik” dan “Infeksi yang resistan terhadap pengobatan” juga merujuk pada hal yang sama. Istilah tersebut menjelaskan mengenai mikroorganisme yang telah berevolusi sedemikian rupa sehingga mereka bisa tetap hidup meskipun serangan antibiotik telah dilancarkan untuk membunuh mereka.

Ada kesalahpahaman yang umum di masyarakat bahwa resistansi antibiotik memiliki arti tubuh manusia telah menjadi resistan terhadap antibiotik. Ini tidak benar.

Resistansi antibiotik bukan suatu hal yang baru. Pidato penerimaan Nobel Alexander Fleming pada 1945 membahas perkembangan resistansi antibiotik. Ia menyertakan skenario Pasien X, yang:

membeli penisilin, tidak sampai membunuh streptokokus tapi cukup untuk mengajarkan mereka agar resistan terhadap penisilin. Ia kemudian menularkan penyakit pada pada istrinya. Ibu X terkena pneumonia dan dirawat menggunakan penisilin. Karena streptokokusnya saat ini sudah resistan terhadap penisilin, maka perawatannya gagal.

Dan memang, resistansi telah dilaporkan terjadi untuk setiap antibiotik yang pernah ada—umumnya dalam beberapa tahun sejak diluncurkan.

Bagaimana mereka menjadi resistan?

Bakteri mampu melawan antibiotik dengan berbagai cara:

  • Mereka membangun dinding sel yang lebih kuat untuk mencegah obat masuk
  • Mereka secara aktif mengeluarkan antibiotik dari dalam sel sehingga antibiotik tidak dapat mencapai konsentrasi mematikan di dalam sel
  • Mereka memproduksi enzim yang memodifikasi dan membuat antibiotik menjadi tidak aktif dan
  • Mereka mengubah target dari antibiotik sehingga obat tersebut tidak dapat lagi berinteraksi dengan sasarannya.

Dalam kelompok kecil bakteri yang terpapar antibiotik, satu atau beberapa mekanisme resistansi di atas mungkin sudah ada secara alamiah. Ini dinamakan “resistansi bawaan”. Sebagian besar bakteri terbunuh, tapi populasi kecil ini selamat dan terus tumbuh.

Dalam kasus lain, resistansi berkembang melalui proses evolusi (proses yang dikenal sebagai “resistansi yang dirangsang”). Bakteri tumbuh secara sangat cepat. Dalam kondisi optimal populasi dapat berlipat ganda hanya dalam 15-30 menit saja.

Ketika terpapar dosis yang tidak mematikan bagi bakteri, bakteri bisa menjadi toleran terhadap antibiotik. Mereka mengumpulkan mutasi yang menguntungkan bagi mereka dalam beberapa generasi. Mereka kemudian menurunkan resistansi ini pada keturunan mereka ketika mereka membelah.

Bakteri juga sangat sosial. Mereka bertukar materi genetik (plasmid) yang membawa kode untuk resistansi. Hal ini membuat penyebaran resistansi antar bakteri yang berbeda.

Sebuah berita menyoroti contoh resistansi terhadap antibiotik colistin yang dianggap sebagai “senjata terakhir”. Sebuah gen bernama mcr-1 (mobilized colistin resistance) ditemukan di dalam plasmid bakteri E. coli yang diambil dari peternakan babi pada 2011 (meski hal ini tidak dilaporkan hingga 2015).

Sebuah gen yang membuat bakteri resistan terhadap antibiotik ‘pilihan terakhir’ ditemukan di peternakan babi di Cina. Zawinul/Shutterstock

Meskipun resistansi colistin sudah diketahui, potensi resistansi tersebut untuk menyebar sangat mengkhawatirkan. Untuk beberapa infeksi, colistin adalah satu-satunya antibiotik yang masih manjur. Dan pada kenyataannya, gen mcr-1 telah ditemukan di berbagai tipe bakteri di 30 negara (termasuk pada seorang pasien di Amerika Serikat pada 2016).

World Health Organisation saat ini menyerukan bahwa kita menghadapi kembali “masa pra-antibotik”. WHO memperingatkan:

Infeksi umum dan luka kecil yang dalam beberape dekade belakangan telah dapat diobati akan bisa kembali membunuh jutaan orang. Resistansi terhadap antibiotik akan membuat operasi kompleks dan manajemen penyakit kronis seperti kanker menjadi sangat sulit.

Sebelum hadirnya antibiotik, 40% dari kematian disebabkan oleh infeksi. Jika kita tidak bertindak, sebuah tinjauan yang didanai pemerintah Inggris memperkirakan infeksi yang resistan terhadap bakteri dapat menyebabkan 10 juta kematian setiap tahun.

Bagaimana kita sampai pada keadaan ini?

Meningkatnya resistansi ini didorong oleh penggunaan antibiotik secara berlebihan. Laporan dari Inggris di atas juga mengindikasikan bahwa sebanyak dua per pertiga antibiotik dunia tidak digunakan untuk mengobati manusia, tapi diberikan pada binatang ternak. Antibiotik biasa diberikan kepada binatang sebagai tambahan makanan, bukan untuk mengobati infeksi.

Selebihnya, antibiotik yang diberikan pada manusia, hingga dua pertiganya mungkin diberikan secara tidak sesuai.

Penggunaan antibiotik secara berlebihan ini pada akhirnya mendorong perkembangan resistansi dengan membuat banyak populasi bakteri terpapar antibiotik yang tidak diperlukan. Konsentrasi yang tidak mematikan, seperti yang ada di air pembuangan dari peternakan, mendorong berkembangnya resistansi.

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik kita semakin bertambah secara mengkhawatirkan.

Jadi, dengan adanya orang-orang yang meninggal karena bakteria yang resistan terhadap semua antibiotik, dan jenis bakteri semacam ini semakin sering ditemukan, apa yang mencegah sebuah pandemik global terjadi besok?

Jawabannya, kecuali ketahanan tubuh Anda sedang lemah atau Anda memiliki luka yang menyebabkan bakteri untuk masuk ke dalam tubuh, sebagian besar bakteri tidak benar-benar efektif menyebarkan infeksi.

Inilah mengapa laporan adanya kasus “gonore super” di Inggris betul-betul mengkhawatirkan. Bakteri yang ditularkan secara seksual itu (Neisseria gonorrhoeae) menyebabkan hampir 80 juta penularan dalam satu tahun. Bakteri ini sekarang memiliki potensi untuk membawa dan menyebarkan resistansi antibiotik melalui populasi manusia dan bakteri lain yang lebih besar.

Gonore super berpotensi menyebarkan resistansi antibiotik ke lebih banyak orang. The Five Aggregates/Shutterstock

Melawan bakteri super

Berita mengenai bakteri super ini tidak melulu buruk. Berbagai negara dan organisasi internasional semakin memperhatikan dan menyediakan sumber daya untuk melawan peningkatan resistansi antibiotik. Strategi yang dilakukan termasuk mengurangi penggunaan antibiotik yang ada kecuali sangat diperlukan, dan investasi dan insentif untuk mengembangkan alat diagnostik yang dapat membantu menentukan kapan antibiotik diperlukan.

Pendekatan non-antibiotik seperti vaksin, terapi phage, dan manipulasi mikrobiom, juga mulai diperhatikan.

Terdapat inisiatif untuk menumbuhkan kembali semangat untuk menemukan antibiotik terbaru seperti Global Antibiotic Research & Development Partnership,Combating Antibiotic Resistant Bacteria Biopharmaceutical Accelerator, dan usaha di Australia untuk mengumpulkan antiobitik dari ahli kimia internasional di Community for Open Antimicrobial Drug Discovery.

Kita harus fokuskan perhatian kita pada ancaman dari resistansi obat-obatan dan berinvestasi pada penelitian antimikroba untuk mencegah potensi krisis global.

This article was originally published in English

We need your help to elevate the voices of experts, not the shouters.