Kampus Nanyang Technological University Singapura. Mereka menciptakan ekosistem universitas kelas dunia. Jay Nong/Shuttestock

Rekrutmen rektor asing berkaca pada Singapura: Pentingnya bangun ekosistem dan rombak kebijakan riset

Walau rencana pemerintah merekrut rektor dari luar negeri untuk menaikkan kualitas universitas disambut dengan kritik, Kantor Staf Kepresidenan telah menyatakan rektor berkelas global itu akan direkrut tahun depan dengan lebih dulu merevisi peraturan syarat menjadi rektor. Untuk percontohan, kebijakan itu akan dimulai di satu atau dua universitas di negeri ini.

Pemerintah memandang pemeringkatan kualitas pendidikan tinggi pada level internasional bersandar pada pemimpin universitas. Singapura menjadi salah satu rujukan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam mempercepat transformasi menuju universitas kelas dunia dengan cara yang cepat.

Dari empat besar perguruan tinggi di sana yakni Nanyang Technological School (NTU), National University of Singapore (NUS), Singapore Management University (SMU), Singapore University of Technology and Design (SUTD), pada era 2010-an, hanya NUS yang tidak merekrut rektor asing. Kini, hanya NTU yang masih mempertahankan tradisi pimpinan tertinggi dari luar negeri.

Dalam konteks NTU, kualitas mereka didongkrak tidak hanya oleh “rektor tembak” berkelas dunia, tapi juga penciptaan ekosistem dan kebijakan riset yang kondusif berkelas dunia dan penguatan jaringan global.

Indonesia bisa juga belajar secara benar, bukan setengah-setengah, dari Singapura.

Rektor katalisator

Dalam reaksi kimia kita mengenal katalisator, senyawa yang mempercepat reaksi kimia yang memang perlu dipercepat agar efisien dan efektif.

Rektor berkualitas internasional dari luar negeri dapat menjadi katalisator, tapi jelas reaksi kimia antar senyawa itu perlu lebih dulu ada. Dalam konteks ini, ekosistem reaksi perlu ada modal awalnya yakni sumber daya akademik yang siap bereaksi.

Sampai saat ini salah satu rujukan “katalisator” terkuat pembawa perubahan di Singapura adalah Profesor Bertil Andersson, peneliti biokimia berkebangsaan Swedia yang menjadi Presiden NTU 2011-2018.

Di bawah kepemimpinannya, NTU naik kelas dari peringkat ke-12 di Asia atau rangking ke-77 dunia pada 2008 kemudian menjadi peringkat 1 Asia dan 11 pada 2017 versi QS World University Ranking..

Saya menghadiri presentasi Andersson yang memaparkan strateginya melejitkan kualitas NTU dalam sebuah konferensi tentang pemimpin profesional di bidang pendidikan se-Asia Pasifik di Taiwan pada November 2017. Lompatan luar biasa tersebut, menurut Andersson, melalui 6 strategi di bawah ini:

  1. Memperbanyak portofolio akademik dengan cara menambah produk akademik NTU meliputi publikasi ilmiah dan hak kekayaan intelektual. Perubahan akademik ini dimulai dengan memperbanyak riset. Sistem apresiasi dan penilaian kinerja diperketat untuk mengarah pada produksi karya ilmiah.

  2. Merevitalisasi sumber daya manusia dengan mereformasi sistem sumber daya manusia via rekrutmen dan penentuan target yang tajam.

  3. Memprioritaskan bidang riset tertentu dengan mengedepankan produk ilmiah NTU, bahkan dari program studi yang masih muda. Mereka mendukung riset dasar yang mumpuni dan produksi riset dibawa ke dalam penguatan subjek/bidang riset tersebut sehingga dimasukkan dalam QS World University Rankings (WUR). Bidang sains material misalnya nomor dua terbaik di dunia setelah MIT (Massachusetts Institute of Technology).

  4. Membangun fasilitas kampus terutama untuk riset unggulan sebagai contoh pusat riset maritim.

  5. Mereformasi pendidikan dengan pendekatan hingga proses belajar di kelas fokus pada mahasiswa. Reformasi edukasi menyentuh level kelas, perubahan cara mengajar dan belajar secara total.

  6. Membuka rekrutmen peneliti muda dan ahli terbaik dunia, juga mahasiswa global. Para peneliti ini diberi imbalan setimpal dan target yang tinggi untuk menghasilkan salah satunya temuan berpaten.

Enam strategi itu jelas dapat dilakukan bila terdapat modal ekosistem perguruan tinggi yang memadai dan disiapkan. Empat dari enam strategi tersebut bertumpu pada sumber daya universitas dan investasi terbesar pada dosen-peneliti berikut kinerja riset.

Perlu diingat, NTU awalnya merekrut Andersson untuk mengisi posisi provost (setara dengan wakil rektor bidang akademik dan mutu), selama empat tahun di posisi tersebut sebagai upaya Andersson mempelajari NTU dari dekat.

Ketika Andersson diangkat menjadi rektor, maka perubahan telah disusun dalam strategi yang cukup tepat. Strategi ini dapat berjalan karena ekosistem negara sudah dipersiapkan sebelumnya.

Keunggulan universitas + pemimpin berkualitas

Strategi ini tersebut bermula dari keunggulan NTU dan diperkuat dengan modal dasar keunggulan Andersson sendiri. Profil Andersson, kini berusia 71 tahun, mewakili wajah peneliti yang sukses mengembangkan karir internasionalnya.

Ia meraih gelar sarjana dan magister kimia di Umeå University, Swedia dan mendapatkan dua gelar doktor dalam bidang tersebut di Lund University, Swedia pada 1982. Dia sempat menjadi peneliti biokimia di Australian National University, di Australia, selama dua tahun semasa riset doktoralnya.

Pada usia 36 tahun Andersson menjadi guru besar kimia di Stockholm University, Swedia. Dia bukan hanya anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia, tapi pada usia 38 tahun dirinya juga menjadi anggota termuda komite seleksi penerima Hadiah Nobel untuk kimia. Dia kemudian menjadi ketua komite tersebut selama beberapa tahun berikutnya.

Selain menjabat Dekan Fakultas Kimia di Stockholm University (1996-2003), dia juga menjabat rektor di Linkoping University Swedia dari 1999 sampai 2003. Selama empat tahun berikutnya, Andersson pindah ke Prancis menjadi Kepala Eksekutif Yayasan Ilmiah Eropa (European Science Foundation), sebuah posisi yang dilamar 650 ilmuwan dunia.

Dari Eropa Andersson pindah ke NTU sejak 2007. Empat tahun kemudian dia diangkat menjadi rektor NTU. Sebagai peneliti kimia, sampai kini dia telah menulis lebih 300 karya ilmiah.

Dari NTU, kita belajar bahwa keberhasilan rektor dalam meningkatkan kualitas universitas bergantung pada kemampuannya berjejaring.

Dengan demikian, bukan pada komponen rektor asing, sebagai entitas kewarganegaraannya yang dipentingkan dalam profil rektor, namun kemampuannya dalam membawa jejaring internasionalnya.

Melalui profil dan strateginya, pemerintah Indonesia mungkin dapat belajar untuk menentukan strategi yang pas mengerek kualitas universitas.

Pentingnya sumber daya manusia

Sekitar 70% dosen dan periset di NTU kini berasal dari dunia internasional. Andresson juga mengubah skema perekrutan SDM di NTU.

Pada akhir tahun masa jabatan Andersson di NTU, jumlah dosen/peneliti sebanyak 4.350 orang, sementara tenaga pendukung ada 2.350 orang.

Skema rekrutmen orang-orang muda berbakat dibuat beragam dengan skema peneliti lepas. Kebijakan ini mengubah wajah NTU yang pada 2007, ketika ia masuk di sana terdapat 1.400 profesor dengan performa yang buruk. Tahun itu juga dibuka 215 lowongan baru bagi profesor dengan kinerja terbaik.

Pelajaran untuk Indonesia

Masalahnya, jika Indonesia ingin merekrut dosen asing, modal awal reaksi berupa kebijakan pemerintah justru kurang mendukung terbentuknya ekosistem menuju universitas dan riset kelas dunia.

Misalnya, perizinan periset asing di Indonesia sangat rumit. Untuk mengurus perizinan, legalitas periset, dan tenaga pendidik asing melalui sedikitnya tiga kementerian: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Hukum, dan Kementerian Luar negeri. Dalam satu kementerian, terdapat beberapa kantor dan meja dengan kerumitan administrasi yang berbelit-belit.

Seperti dalam kimia, katalisator (rektor kelas dunia) saja tidak akan dapat berguna tanpa ada senyawa-senyawa yang direaksikan. Katalisator sendirian hanya sebuah senyawa.

Ini berarti modal awal untuk mencetak universitas kelas dunia adalah ciptakan ekosistem universitas berkelas dunia dahulu. Baru kemudian rekrut rektor, dosen, dan mahasiswa internasional.