Riset: pemberian antibiotik pada anak walau sedikit tetap berdampak negatif bagi kesehatan

Resistensi terjadi ketika bakteri berubah untuk melindungi diri dari antibiotik. shutterstock/Toey Toey

Di Inggris, dokter umum melayani lebih dari 300 juta pasien setiap tahunnya dan paling tidak seperempatnya adalah anak-anak. Hampir dua pertiga keluhannya adalah batuk, sakit tenggorokan, atau sakit telinga - penyakit yang biasa diderita anak-anak.

Para dokter dan perawat mengelompokkan jenis penyakit ini sebagai “infeksi saluran pernapasan akut”. Penyakit ini dianggap bisa sembuh dengan sendirinya, yang berarti antibiotik hanya memiliki sedikit manfaat atau bahkan tidak sama sekali, dan bahwa penyakit ini akan hilang dengan sendirinya. Namun, dalam setidaknya 30% kasus ini, antibiotik selalu diberikan. Berarti diperkirakan ada 13 juta resep antibiotik tidak diperlukan. Tidak hanya boros, pemberian antibiotik juga mendatangkan konsekuensi yang tidak diinginkan pada anak-anak.

Memang, dalam penelitian terbaru kami terhadap lebih dari 250.000 anak-anak di Inggris, kami menemukan bahwa anak-anak prasekolah yang telah mengonsumsi dua atau lebih antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan akut di tahun sebelumnya, memiliki peluang 30% lebih besar untuk tidak memerlukan perawatan lanjutan (termasuk kebutuhan untuk rawat inap di rumah sakit) dibandingkan dengan anak-anak yang belum mengonsumsi antibiotik. Penelitian ini secara khusus tidak dilakukan terhadap anak-anak dengan kondisi kesehatan permanen, karena anak-anak ini akan lebih rentan terhadap infeksi.

Masalah resistensi

Sudah menjadi hal umum bahwa menggunakan antibiotik dapat mendorong bakteri untuk berubah dan dapat menyebabkan munculnya resistensi antibiotik. Tapi banyak orang yang cenderung berpikir bahwa resistensi hanya terjadi untuk orang yang terlalu sering menggunakan antibiotik, dalam jangka waktu yang terlalu lama, atau pada pasien dengan kondisi medis lain yang membuat mereka semakin sakit. Ini tidak benar.

Mengonsumsi antibiotik apa pun (baik sesuai atau tidak) membuat pengembangan resistensi antibiotik lebih mungkin terjadi. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian kami, bahkan penggunaan antibiotik yang relatif sedikit memiliki implikasi dan efek kesehatan yang tidak perlu bagi anak-anak. Dan begitu Anda melihat bahwa banyak anak-anak prasekolah kerap menderita sakit lanjutan setelah mengonsumsi antibiotik, hal ini membuat temuan kami lebih relevan.

Semua antibiotik berdampak bagi tubuh, bahkan ketika dikonsumsi dengan dosis rendah. Shutterstock/Toey Toey

Pada tahap ini, masih belum jelas mengapa anak-anak yang mengonsumsi lebih banyak antibiotik lebih cenderung tidak memberikan respons pada perawatan lanjutan.

Mungkin, karena munculnya bakteri resisten, misalnya. Bisa juga karena gangguan mikrobioma pada usus anak-anak. Dan hal ini mungkin berhubungan dengan harapan orang tua tentang perawatan lanjutan dan fakta bahwa orang tua tidak menyadari terbatasnya peran antibiotik dalam sebagian besar infeksi pada anak. Ini merupakan hal yang normal jika batuk pada anak berlangsung lebih lama dari yang Anda kira – setengah dari kasus ini berlangsung selama sepuluh hari dan satu dari sepuluh kasus berlangsung selama 25 hari.

Perubahan jangka panjang

Tentu saja, dokter ingin memberikan perawatan terbaik untuk pasien mereka. Tapi mereka bergumul ketika memberikan meresepkan antibiotik - dengan demikian menurunkan risiko individu pasien sekaligus membahayakannya - atau tidak meresepkannya, dan menurunkan risiko bersama.


Read more: Scientists alone can't solve the antibiotic resistance crisis – we need economists too


Keputusan ini tidak mudah. Dan di tengah ketidakpastian, dokter kerap keliru menggunakan sisi kehati-hatian dalam memberikan resep. Penelitian kami menemukan bahwa anak-anak yang mengonsumsi lebih banyak antibiotik, cenderung lebih mungkin untuk kembali ke dokter dalam periode 14 hari - yang secara tidak langsung akan meningkatkan beban kerja dokter dan perawat.

Mengingat temuan kami juga menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang relatif sedikit pun memiliki implikasi kesehatan jangka pendek untuk anak-anak, jelas bahwa semakin sedikit dokter meresepkan antibiotik dalam kasus seperti ini, semakin baik. Ini bukan hanya tanggung jawab dokter dan perawat, orang tua juga harus realistis tentang berapa lama penyakit anak mereka berlangsung.

This article was originally published in English