Lamun tumbuh di perairan dangkal Raja Ampat, Indonesia. Ethan Daniels/Shutterstock

Sains Sekitar Kita: Abad manusia bikin bumi makin panas, di laut ada jawaban

Manusia sebagai aktor yang sangat mempengaruhi bumi.

Perubahan iklim sebenarnya alamiah bagi planet bumi. Misalnya, iklim bumi pada periode Cretaceous sekitar 144 juta tahun lalu jauh lebih hangat daripada saat ini. Keadaan yang berubah itu memicu makhluk di planet ini beradaptasi walau sebagian berakhir mati.

Sebaliknya planet ini juga pernah mengalami beberapa kali zaman es. Ada empat kali zaman es dalam 500 ribu tahun terakhir. Selama periode ini, suhu bumi turun drastis, mengubah laut menjadi gunung es dan sungai menjadi gletser. Semua berjalan alamiah dan makan waktu sangat lama.

Bandingkan perubahan iklim bumi di era tersebut dengan keadaan pasca revolusi industri pada abad ke-19. Hari ini lapisan atmosfer bumi terkepung gas karbon monoksida dan metana dari bahan bakar industri dan kendaraan bermotor. Hutan yang menyerap karbon habis dibabat, berubah menjadi lahan perkebunan dan perumahan.

Akibat semua ini, suhu bumi naik setengah derajat hanya dalam waktu ratusan tahun saja. Periode ini yang disebut oleh ilmuwan meteorologi penerima penghargaan Nobel, Paul Crutzen sebagai Antroposen. Manusia sebagai aktor yang sangat mempengaruhi planet ini.

Bagaimana mengurangi dampak pemanasan global? Intan Suci Nurhati, peneliti iklim dan laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan Indonesia punya senjata pamungkas untuk mengurangi dampak pemanasan global. Senjata itu bernama lamun, sejenis tumbuhan hijau di pesisir pantai Indonesia yang selama ribuan tahun terbukti efektif menyimpan karbon. Lamun memang tidak populer karena tidak secantik karang dan seeksotis mangrove, tapi tumbuhan ini punya kemampuan untuk menyerap karbon.

Edisi kelima Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh tim dengan produser Ikhsan Raharjo dan narator Prodita Sabarini. Selamat mendengarkan!