Sebelum kita menduduki Mars, mari lihat dulu masalah yang ada di Bumi

Mars.

Sebelum kita menduduki Mars, mari lihat dulu masalah yang ada di Bumi

Semua orang ingin pergi ke Mars, atau tampaknya demikian.

Elon Musk, NASA dengan Lockheed Martin, dan juga Boeing semuanya mengarahkan pandangan ke planet merah itu, dengan prediksi bersemangat soal misi pada 2020-an.

Tapi berapa biaya yang kita bersedia tanggung? Dan bisakah kita bertahan dalam kolonisasi jangka panjang di Mars? Mengingat masalah yang kita hadapi di Bumi, ada pertanyaan penting: apakah kita tidak lebih baik menjaga satu-satunya planet (sejauh ini) yang mendukung kehidupan?


Read more: Revealed today, Elon Musk's new space vision took us from Earth to Mars, and back home again


Perlombaan ke Mars

Boeing mengatakan mereka ingin terlibat dalam misi pertama yang mengirim manusia ke Mars. Pada Desember 2017, bos Boeing Dennid Muilenburg berbicara di televisi:

Saya sangat percaya bahwa orang pertama yang menginjakkan kaki di Mars akan tiba di sana dengan roket Boeing.

Rival terberat Boeing adalah Elon Musk, miliarder pendiri SpaceX, yang telah meluncurkan roket. Di Kongres Tahunan Aeronatik Internasional ke-68 di Adelaide pada September 2017, Musk membicarakan soal koneksi antara Bumi dan Mars, dengan misi kargo yang dimulai pada 2020.

Lockheed Martin mengatakan bahwa mereka berencana mengirim manusia ke Mars dalam dasawarsa mendatang.

Bahkan ahli fisika teoritis terkenal Stephen Hawking telah mengemukakan bahwa “menduduki ruang angkasa adalah hal penting” meski ia tidak melihat bahwa hal ini akan terjadi dalam waktu dekat:

Saya percaya bahwa akhirnya kita akan membangun koloni mandiri di Mars dan badan lain di tata surya meski mungkin tidak dalam 100 tahun mendatang.

Menjelajah planet lain

Penjelajahan ilmiah ke planet-planet di tata surya merupakan salah satu pencapaian umat manusia yang paling menarik.

Namun sebaliknya, ide tentang kolonisasi Mars atau planet lain atau Bulan itu menyesatkan. Hal ini menimbulkan kesan di benak banyak orang bahwa ada alternatif dari Bumi, sebuah surga kehidupan yang unik (sejauh ini) di tata surya, yang tengah menderita akibat pemanasan global, meningkatnya permukaan air laut, cuaca ekstrem, kepunahan massal spesies dan meningkatnya risiko perang nuklir.

Kehidupan mikroba mungkin terdapat di Mars atau mungkin ada di masa lampau. Menurut NASA:

Di antara penemuan kami tentang Mars, satu hal mencolok dibandingkan yang lainnya adalah: kemungkinan adanya air yang cair, baik di masa lampau atau terawetkan di bawah permukaan saat ini. Air merupakan kunci karena hampir di mana pun kita menemukan air di Bumi, akan kita temukan kehidupan. Bila Mars pernah memiliki air yang cair, atau masih memilikinya hari ini, menarik untuk bertanya apakah kehidupan mikroskopik dalam bentuk apa pun telah berkembang di permukaannya.

Namun belakangan ini ada keraguan terkait perbedaan antara air dan aliran pasir di Mars.

Tidak ada atmosfer untuk kehidupan

Saat ini tidak ada bukti bahwa Mars memiliki atmosfer yang mampu mendukung kehidupan tanaman ataupun organisme lain.

Atmosfer tipisnya kurang dari 1% milik Bumi, dan terdiri dari 96% karbon dioksida, 1,9% nitrogen, 1,9% argon dan sejumlah jejak oksigen dan karbon monoksida. Atmosfer itu sedikit melindungi dari radiasi Matahari, dan tidak berfungsi menahan panas di permukaan.

Pendapat tentang apakah tekstur yang menyerupai makhluk biologis pada meteorit Mars (ALH84001) menandakan fosil purba, belum terkonfirmasi.

Gambar mikroskop elektron beresolusi tinggi ini menunjukkan bentuk struktur mirip tabung berukuran kurang dari 1/10 rambut manusia yang ditemukan di meteorit ALH84001, sebuah meteorit yang dipercaya berasal dari Mars. NASA

Pada Juli 2017 peneliti melaporkan bahwa permukaan Mars mungkin lebih beracun bagi mikroorganisme daripada dugaan sebelumnya.

Sebuah peringatan terhadap koloni Mars

Ada beberapa peringatan menyangkut kolonisasi Mars.

Jika sebuah koloni dibentuk, maka perlu usaha berkesinambungan dan berbiaya besar untuk memeliharanya, termasuk misi penyelamatan. Lebih jauh lagi, isolasi jangka panjang bagi penduduk Mars mungkin memakan korban.

Ketika pada 2013 proyek Mars One mengumumkan ingin merekrut empat orang untuk dikirim dalam misi kolonisasi Mars, Chris Chamber, seorang profesor ilmu saraf kognitik di Universitas Cardiff, memperingatkan tentang risiko psikologis yang akan dihadapi penduduk.

Namun mimpi itu jalan terus. Berdasarkan pernyataan misi NASA:

Bahkan meskipun Mars tidak memiliki kehidupan masa lalu atau masa kini, bagaimanapun juga, masih banyak hal menarik di cakrawala. Kita sendiri mungkin menjadi “kehidupan di Mars”, jika manusia memilih pergi ke sana suatu hari nanti.

Bumi yang memanggil Mars

Mimpi kolonisasi ruang angkasa tidak sepenuhnya terlepas dari kepentingan ekonomi. Industri ruang angkasa internasional dikatakan bernilai sebesar $400 miliar (Rp5.329 triliun) setahun, dan diprediksi tumbuh hingga hampir $3 triliun AS dalam tiga dasawarsa mendatang.

Ide perjalanan dan pendudukan ruang angkasa sebagian besar didukung oleh insinyur dan pengusaha yang ingin memperoleh keuntungan dari skema ini. Berbeda dengan ahli biologi dan ilmuwan medis yang memahami asal terestrial dan keterbatasan fisiologis tubuh manusia.

Mungkin ada sedikit keraguan, mengingat komputer dan teknologi ruang angkasa modern dan masa depan, bahwa stasiun ruang angkasa bisa dibangun di Mars, di mana segelintir manusia dengan hak istimewa bisa hidup dalam jangka waktu tertentu.


Read more: The new space race: why we need a human mission to Mars


Jika manusia menduduki planet yang menyokong kehidupan, kita harus bertanya apakah organisme akan hidup lebih baik ketimbang spesies yang musnah di Bumi.

Polaritas etis antara mereka yang bermimpi menaklukkan ruang angkasa dan yang berharap melindungi Bumi dari pemanasan global dan malapetaka nuklir amatlah besar.

Miliaran dan triliunan dolar yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara koloni di ruang angkasa bisa mendekati perkiraan $1,69 triliun biaya militer negara sedunia pada 2016.

Sebagai seorang ilmuwan yang meneliti dampak perubahan iklim terhadap evolusi manusia, saya berpendapat bahwa biaya sebesar ini lebih baik digunakan untuk mempertahankan hidup lebih dari 7 miliar manusia di Bumi, juga perlindungan hewan dan alam lebih luas lagi.

This article was originally published in English

Love this article? Show your love with a gift to The Conversation NewsMatch Challenge.