Menu Close

5 cara meningkatkan literasi keuangan di tengah pandemi COVID-19

blue and yellow graph on stock market monitor. cc0bay/flickr, CC BY-SA

Literasi keuangan terkait dengan kemampuan seseorang dalam membuat keputusan keuangan yang bijak untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

Berliterasi keuangan berarti mampu memilih produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan mengelola aset pribadi dengan baik. Termasuk di dalamnya ialah manajemen kas, utang, dan investasi.

Di tengah pandemi ini, literasi keuangan sangatlah dibutuhkan agar dapat mengelola dompet kita lebih baik lagi.

Pada bulan April Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan pandemi COVID-19 akan menjadi insiden yang melemahkan ekonomi dunia lebih parah dari krisis keuangan global tahun 2008.

IMF juga merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 0,5% di tahun 2020.

Jadi tidak ada waktu yang tepat untuk meningkatkan literasi keuangan selain saat ini, karena kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk memastikan kondisi keuangan kita tetap sehat meski ekonomi sedang terpuruk karena pandemi COVID-19.

Menganalisis pasar saham. otaphotos/flickr, CC BY

Momentum saat physical distancing

Pandemi COVID-19 memaksa kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang berbeda. Jakarta dan daerah-daerah lainnya mulai menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membuat kebanyakan dari kita hanya bisa beraktivitas dari rumah.

Kita bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mengembangkan literasi keuangan.

Berikut adalah lima hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan literasi keuangan di tengah pandemi ini.

1. Identifikasi peluang

Sadari bahwa waktu yang kita miliki adalah sumber daya berharga yang tidak dapat diperbarui. Manfaatkan waktu ini dengan baik. Pandemi ini mendorong hampir semua organisasi bisnis maupun nirlaba untuk membuat keputusan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Terdapat banyak sekali sumber daya gratis yang bisa kita manfaatkan, misalnya online course di edx.org. Banyak juga institusi pendidikan, badan pemerintah, dan perusahaan teknologi yang menyelenggarakan webinar atau seminar melalui internet yang tidak dipungut biaya.

Terkait literasi keuangan, kita bisa mempelajari topik seperti manajemen keuangan pribadi, pengantar investasi, dan akuntansi dasar.

2. Pengalaman yang berharga

Kita menghadapi ketidakpastian yang luar biasa di tengah pandemi ini.

Teori Precautionary Savings (tabungan berjaga-jaga) menyatakan bahwa dalam menghadapi kondisi yang tidak pasti, setiap orang akan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang dan lebih banyak menabung. Peningkatan tabungan ini sangat wajar karena untuk berjaga-jaga.

Oleh karena itu, jika belum memiliki perencanaan finansial, maka sekarang ialah saat menyusunnya. Jika sudah memiliki, maka sekarang ialah waktu untuk memperbaikinya.

Kuncinya ialah mengurangi perilaku dan utang konsumtif, perbanyak menabung dan investasi, serta memiliki lebih dari satu sumber pendapatan.

Kutipan tokoh antagonis Gustavo Fring dari serial Breaking Bad yang berkata “One must learn to be rich. To be poor, anyone can manage,” (semua harus belajar untuk menjadi kaya, karena semua bisa bertahan saat miskin) sangat tepat untuk menggambarkan hal ini.

3. Mulai investasi dari sekarang

Meskipun banyak ahli sudah memperkirakan terjadinya krisis ekonomi akibat pandemi ini, perlu kita pahami bahwa kemunduran ekonomi merupakan bagian dari siklus ekonomi.

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada penderitaan maupun kenikmatan yang abadi. Sejarah membuktikan bahwa pemulihan akan terjadi.

Krisis finansial global 2008 merupakan perpindahan kekayaan paling masif di dunia. Saat krisis tersebut terjadi, kekayaan tidak hilang begitu saja, namun berpindah tangan dari mereka yang ekonominya lemah ke mereka yang lebih kaya.

Di tengah menurunnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama pandemi ini, terdapat potensi untuk digarap.

Pada penutupan tahun 2019, terdapat 2,47 juta investor di Bursa Efek Indonesia. Angka ini bahkan tidak mencapai 1% dari populasi kita yang mencapai lebih dari 260 juta orang. Sebagai perbandingan, negara maju seperti Korea Selatan sekitar 10% warganya memiliki investasi saham.

Sekarang menjadi kesempatan untuk investor lokal menyuntikan uangnya ke dalam bursa yang mayoritas dananya bersumber dari pihak asing. Mengurangi ketergantungan kita terhadap dana asing bisa mewujudkan pasar modal yang lebih stabil dan tidak terlalu rentan.

Masih banyak lagi produk keuangan lainnya selain saham untuk diminati seperti peer-to-peer lending, di mana Anda dapat meminjamkan uang ke individu atau bisnis melalui sebuah perusahaan teknologi dan keuntungan yang kita peroleh berasal dari bunga pinjaman.

4. Bangun karakter Anda

Percuma jika hanya memiliki wawasan dan pemikiran keuangan yang baik jika tidak diikuti dengan tindakan nyata.

Menyusun rencana keuangan adalah mudah; yang sulit ialah menjalankannya. Oleh karena itu, kita harus menanamkan nilai disiplin dan berlatih mengendalikan diri sebaik mungkin. Semua ini adalah bagian dari prinsip pembelajaran sepanjang hidup (lifelong learning).

5. Beri sumbangan

Terakhir, dalam menghadapi krisis yang mendunia ini kita tidak boleh lupa untuk mewujudkan nilai kepedulian terhadap sesama. Layaknya ekonomi, kehidupan juga memiliki siklus seperti roda yang terus berputar.

Motivasi kapitalisme dalam meningkatkan literasi keuangan juga harus diseimbangi dengan nilai-nilai sosialisme: berbagi dengan yang membutuhkan. Sadari bahwa kita sebagai manusia menghadapi pandemi ini bersama dan yang paling terdampak dari pandemi ini adalah golongan menengah ke bawah.

Mari kita bersama menjaga jarak dan memelihara kesehatan fisik dan mental, membantu bagi mereka yang membutuhkan, dan memperkaya diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah badai ini berlalu.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 122,400 academics and researchers from 3,927 institutions.

Register now