Ada alasan psikologis di balik panic buying. Ada cara psikologis juga untuk menghindari perilaku itu

Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengungkapkan kegundahannya karena begitu banyak orang membeli dan menumpuk banyak barang kebutuhan (panic buying):

Berhenti menumpuk barang. Saya tidak bisa bicara lebih tegas lagi. Hentikan. Tindakan itu tidak masuk akal, tidak membantu, dan merupakan salah satu perilaku warga Australia paling mengecewakan di tengah krisis ini yang pernah saya lihat.

Awalnya mereka menumpuk tisu toilet, lalu sekarang makanan tahan lama mulai susah dicari karena orang-orang bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk.

Apakah ada penjelasan masuk akal di balik perilaku ini? Bagaimana caranya kita bisa meredam dorongan-dorongan psikologis kita agar bisa berbelanja lebih cermat dan tidak egois?

COVID-19 - uji stres tak sengaja

Wabah ini bukan sekadar masa-masa ketidakjelasan, tapi juga masa ketika banyak dari kita mengalami isolasi sosial. Kedua faktor ini dapat secara psikologis memotivasi orang untuk membeli barang-barang yang tidak mereka perlukan.

Perasaan tidak mampu menerima ketidakjelasan dikaitkan dengan perilaku menumpuk barang secara ekstrem (hoarding). Hoarding melibatkan penumpukan barang-barang yang secara praktis dapat digunakan namun melebihi kemampuan sebuah rumah untuk menampung secara fungsional.

Perilaku terkait wabah yang kini kita saksikan mungkin bukan hoarding, tapi kemungkinan perilaku ini didorong oleh mekanisme-mekanisme psikologis yang sama.

Salah satu faktor yang diprediksi kuat mempengaruhi perilaku hoarding adalah ketidakmampuan seorang individu untuk menghadapi kesulitan.

Orang-orang seperti ini sulit percaya pada pihak berwenang yang menjamin pasar tidak akan tutup. Atau, walaupun mereka percaya, mereka tetap memutuskan untuk tetap menumpuk barang untuk jaga-jaga.


Read more: When possessions are poor substitutes for people: hoarding disorder and loneliness


Virus ini juga mengingatkan orang pada kematian mereka sendiri, dan ini dapat berujung pada peningkatan belanja untuk mengurangi ketakutan.

Orang yang biasanya mampu menghadapi kesulitan pun bisa jadi menumpuk barang. Melihat rak-rak kosong di supermarket dapat memicu dorongan untuk mengambil barang-barang yang tersisa. Penelitian pada “kelangkaan” menunjukkan bahwa kita menganggap barang-barang lebih bernilai saat pasokannya sedikit.

Barang-barang konsumsi juga bukan sekadar barang fungsional. Produk dan merek juga memiliki kegunaan psikologis dan dapat mengubah perasaan kita. Misalnya, beberapa orang menggunakan minuman keras untuk mengurangi kegundahan atau kesulitan.

Cara mengatasi dorongan psikologis

Jadi bagaimana caranya agar kita dapat membuat keputusan yang rasional di tengah dorongan-dorongan psikologis yang menyulitkan?

Walau tidak ada jalan keluar yang sempurna, terapi perilaku kognitif (c_ognitive behavioural therapy_, CBT) dapat membantu orang terhindar dari keputusan yang didorong keinginan dan emosi yang tidak relevan. CBT dapat meningkatkan kemampuan menghadapi ketidakpastian dan mengurangi rasa cemas dan ketakutan.

CBT melibatkan pemecahan masalah dan menghadapi perilaku yang dihindari untuk menguji keyakinan seseorang. Intinya adalah untuk menantang pikiran-pikiran yang tidak relevan dan membuat keputusan berdasarkan bukti-bukti.

Untuk menerapkan pendekatan ini dalam berbelanja di tengah wabah COVID-19, kita harus memulai dengan meneliti barang-barang apa saja yang sudah kita punya di rumah dan kapan barang-barang ini akan habis.

Dalam memeriksa barang-barang ini, penting untuk mengurangi sampah dan memikirkan kebutuhan orang lain. Tentu tidak ada guna kita membeli produk makanan yang busuk sebelum bisa digunakan, atau membeli begitu banyak barang sehingga orang lain, termasuk lansia, jadi kesulitan. Tidak ada gunanya membeli 100 rol tisu kalau butuh satu tahun untuk memakai semuanya.


Read more: Scott Morrison has said we'll face at least 6 months of disruption. Where does that number come from?


Makanan mubazir dapat dikurangi dengan merencanakan menu untuk dua hingga tiga minggu ke depan, sambil memperhatikan masa kedaluwarsa beberapa makanan. Dengan memfokuskan perhatian pada barang-barang apa saja yang secara realistis kita gunakan pada masa seperti ini, kita bisa membuat keputusan yang lebih baik dalam membeli.

Merasa cemas itu wajar

Ketika berbelanja, gunakan daftar belanjaan sebagai panduan dan usahakan hanya membeli yang ada di daftar. Dengan begini, kita tidak akan mudah mengambil barang karena didorong rasa cemas akibat melihat rak-rak kosong atau kekhawatiran supermarket akan tutup.

Namun demikian, bersiap-siaplah membeli barang pengganti kalau barang yang dicari tidak ada. Ini bisa disiapkan sebelum belanja.

Kita mungkin merasa cemas karena hanya membeli barang-barang yang akan kita gunakan dalam waktu dekat. Itu wajar. Berbagai uji penelitian menunjukkan bahwa orang dapat menghadapi rasa cemas, dan mengubah perilaku yang tidak bermanfaat dapat mengurangi rasa cemas pada masa mendatang.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menumpuk barang secara menahun ternyata dapat menghadapi kesulitan lebih baik dari yang mereka kira. Jadi, walaupun bagi beberapa orang rasa cemas tidak terelakkan saat berbelanja, kemungkinan besar mereka dapat menghadapinya. Rasa cemas juga dapat berkurang jika cara-cara di atas dilakukan.

Mungkin memahami mekanisme psikologis yang mendasari perilaku belanja kita dapat membantu kita melakukan pengeluaran lebih rasional pada masa-masa yang tidak pasti ini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,900 academics and researchers from 3,639 institutions.

Register now