File 20170913 23106 9oriyb.jpg?ixlib=rb 1.1

Apakah hak tinggi buruk bagi kesehatan? Dua ahli menelaah buktinya

shutterstock.

Apakah hak tinggi buruk bagi kesehatan? Dua ahli menelaah buktinya

Jawaban untuk pertanyaan: “Apakah sepatu hak tinggi buruk bagi kesehatan Anda?” mungkin jelas bagi sebagian orang. Ada begitu banyak penelitian soal bagaimana sepatu hak tinggi mempengaruhi kesehatan pemakainya, tetapi riset-riset tersebut sangat terkotak-kotak, umumnya fokus pada isu-isu kesehatan spesifik. Selain itu, ada juga penelitian yang menunjukkan manfaat mengenakan sepatu hak tinggi.

Kami memutuskan untuk menimbang banyak faktor yang berkaitan dengan sepatu hak tinggi dan melakukan telaah sistematis pertama atas penelitian mengenai manfaat dan bahaya mengenakan sepatu hak tinggi.

Kami mengidentifikasi 506 penelitian tunggal mengenai sepatu hak tinggi dan kesehatan, memilah 27 dari kajian-kajian tersebut, dan menyertakan 20 publikasi dalam sintesis bukti kami. Temuan kami, diterbitkan dalam jurnal BMC Public Health, menunjukkan bukti konsisten yang mengaitkan pemakaian sepatu hak tinggi dengan peningkatan risiko bunion (bengkak pada ibu jari kaki yang bisa menjadi radang), nyeri muskuloskeletal dan cedera pada pemakai. Sebagian dari cedera itu, seperti fraktur pergelangan kaki, sifatnya gawat dan membutuhkan perawatan rumah sakit.

Meski begitu, penting untuk dicatat bahwa secara keseluruhan risiko cedera tidak begitu ekstrem. Dalam beberapa kasus, orang menderita cedera serius karena penggunaan sepatu hak tinggi, tetapi itu tidak umum dan bukti yang ada saat ini tidak menunjukkan kita perlu terlalu khawatir.

Beberapa studi menunjukkan kaitan antara pemakaian sepatu hak tinggi dengan osteoartritis tetapi telaah kami mendapati bahwa kaitan itu tidak meyakinkan. Memang, jelas bahwa pemakaian hak tinggi yang sering cenderung lebih merugikan kesehatan dalam jangka panjang, sementara hak yang paling tinggi dan paling runcing erat kaitannya dengan cedera gawat, seperti fraktur pergelangan kaki.

Salah satu unsur pemakaian sepatu hak tinggi yang sering diabaikan dalam perdebatan publik tentang sepatu hak tinggi, tetapi yang kami pertimbangkan dalam studi kami, adalah manfaat psikologis sepatu hak tinggi bagi pemakainya. Suka atau tidak, sepatu hak tinggi adalah simbol seksualitas perempuan modern (heteronormatif).

Kami mendapati bukti konsisten bahwa pemakaian sepatu hak tinggi memberi manfaat kepada perempuan dalam hal bagaimana mereka memandang kecantikan mereka sendiri, seberapa atraktifnya mereka bagi laki-laki, dan juga kesediaan laki-laki untuk membantu mereka, misalnya dalam mengisi kuesioner atau mengambil sarung tangan yang jatuh. Oleh karena itu ada potensi dilema yang dihadapi perempuan: mengenakan sepatu hak tinggi bisa meningkatkan daya tarik mereka tetapi bisa juga merugikan kesehatan mereka.

Kebebasan memilih

Dalam hal ini penting bagi perempuan untuk membuat pilihan-pilihan sendiri, berdasarkan pengetahuan cukup detail. Harapan kami, dengan meningkatnya kesadaran publik tentang aspek-aspek positif dan negatif pemakaian sepatu hak tinggi, orang bisa membuat pilihan secara sadar.

Untuk membuat pilihan demikian, mereka harus menyiasati unsur-unsur mengakar dalam budaya yang menganjurkan pemakaian sepatu hak tinggi sebagai suatu mode atau bagian dari aturan berbusana yang disarankan. Kebebasan orang untuk memilih selalu dipengaruhi oleh ekspektasi-ekspektasi sosial. Namun, berkat pengetahuan dari penelitian dan advokasi, gagasan bahwa sepatu hak tinggi merupakan satu-satunya pilihan bagi perempuan dalam situasi profesional atau sosial yang berkelas mulai ditinggalkan.

Hak yang sama. shutterstock.com

Mengingat bukti bahwa pemakaian yang semakin sering semakin merugikan kesehatan perempuan, anjuran bagi perempuan untuk memakai sepatu hak tinggi saat bekerja sangat penting untuk dihilangkan. Para perempuan, tentu saja, boleh memilih mengenakannya kalau mau (kecuali ada alasan-alasan pekerjaan spesifik yang melarang pemakaian sepatu hak tinggi, misalnya di pabrik).

Terdapat kemajuan yang nyata dengan adanya perusahaan-perusahaan yang menghilangkan aturan yang mengharuskan penggunaan sepatu hak tinggi. Bahkan perubahan-perubahan kebijakan di berbagai perusahaan besar sudah banyak dilaporkan di media massa. Kendati demikian, sah tidaknya perusahaan mewajibkan perempuan mengenakan sepatu hak tinggi sebagai bagian dari aturan berbusana tetap menjadi persoalan yang membingungkan. Yurisdiksi British Columbia di Kanada mengesahkan peraturan perundang-undangan yang secara khusus melarang majikan mengharuskan pegawai mengenakan sepatu hak tinggi.

Di Inggris, pemerintah menolak usulan semacam ini. Namun, bukan berarti perusahaan dapat secara legal mewajibkan perempuan mengenakan sepatu hak tinggi di tempat kerja. Bahkan, pernyataan yang dilansir pemerintah saat itu jelas menyatakan bahwa pemerintah menentang kewajiban mengenakan sepatu hak tinggi di tempat kerja. Namun pemerintah berpandangan bahwa UU Kesetaraan 2010 bisa menghadang praktik ini dalam sebagian besar situasi.

Undang-undang ini menegaskan bahwa diskriminasi berdasarkan gender—yang umumnya meliputi keharusan bagi perempuan untuk mengenakan sesuatu yang merugikan kesehatan mereka sementara laki-laki tidak—adalah perbuatan melanggar hukum.

Sayangnya, banyak orang yang tak tahu soal ini. Oleh karena itu akan sangat bermanfaat jika kita mendapat penjelasan lebih jauh tentang bagaimana UU Kesetaraan itu secara spesifik berkaitan dengan pemakaian sepatu hak tinggi atau pemberlakuan peraturan perundang-undangan khusus untuk mencegah kewajiban pemakaian sepatu hak tinggi di tempat kerja.

Kejelasan dalam masalah ini sangat penting bagi perlindungan terhadap kesehatan perempuan—dan tentu saja siapa saja yang mengenakan sepatu hak tinggi.

This article was originally published in English