Menu Close
Massa dari gabungan berbagai organisasi Islam berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta menuntut pembubaran Ahmadiyah. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/pd/11.

Apakah kehadiran Partai Masyumi baru akan menggoncang politik di Indonesia?

Pada awal November, sekelompok aktivis Islam yang dipimpin oleh mantan pemimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Cholil Ridwan mengumumkan kebangkitan Partai Masyumi yang dulu sangat besar tapi bubar sejak 1960 karena presiden pertama Indonesia Soekarno menuduh mereka terlibat dalam gerakan pemberontakan.

Tanggal deklarasi Masyumi yang baru atau disebut sebagai Masyumi Reborn sengaja bertepatan dengan ulang tahun ke-75 Masyumi asli untuk mengundang perhatian media.

Menghidupkan kembali nama Masyumi mengingatkan kita akan masa ketika kelompok Islam di Indonesia tidak hanya lebih bersatu tapi juga lebih sukses di kotak suara. Pada pemilu 1955, Masyumi memenangkan lebih dari 20% suara.

Tidak ada partai Islam masa kini yang bisa meraih suara sebanyak itu. Itulah mengapa Masyumi menjadi standar tinggi bagi partai politik Islam di Indonesia.

Oleh karena itu, kemunculan Masyumi Reborn dapat dilihat sebagai upaya ambisius untuk memperbaiki gerakan Islamis Indonesia yang sudah terpecah-pecah menjelang pemilu 2024.

Sejak demonstrasi massal pada 2016 dan 2017 melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gubernur Jakarta saat itu, dan pemilihan presiden pada 2019, kelompok-kelompok Islamis telah kesulitan untuk menjaga momentum

Akan tetapi, pada saat yang sama, kembalinya Masyumi tampaknya hanya pertanda lain adanya perpecahan dalam tubuh partai-partai Islam karena Masyumi muncul setelah terbentuknya dua organisasi Islam yang baru.

Kebangkitan oposisi Islam yang baru

Pertama, pada Agustus mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, mendirikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia atau KAMI.

Kemudian, pada Oktober, mantan Ketua Umum Muhammadiyah lainnya dan mantan pemimpin Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais mendirikan Partai Ummat yang baru.

Semua organisasi tersebut seolah-olah didirikan untuk menjatuhkan Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Namun, mereka juga mewakili ambisi pribadi mantan pemimpin yang pengaruhnya sudah pudar di mata pengikut Islam.

Munculnya kelompok oposisi yang saling tidak berkoordinasi bersamaan dengan pulangnya Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam (FPI). Rizieq mendarat di Jakarta pada 10 November setelah lama bersembunyi di Arab Saudi.

Berbeda dengan pendiri KAMI, Partai Ummat dan Masyumi Reborn, Rizieq mendapat dukungan publik yang cukup signifikan. Ini terbukti dengan adanya keriuhan di bandara pada hari kepulangannya ke Indonesia.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rizieq telah dikaitkan dengan ketiga organisasi baru tersebut. Namun ia belum memberi dukungan formal kepada salah satu organisasi tersebut, meski sempat bertemu Amien Rais dan mengirimkan pesan audio ke acara KAMI. Menariknya, ia juga bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang dianggap beberapa pengamat sebagai “harapan baru Islam” pada pemilihan presiden 2024.

Apakah partai Islam yang baru akan bertahan?

Tidak ada keraguan bahwa sebagian pemilih Islam merasa kurang terwakili oleh partai politik yang ada saat ini.

Walau partai-partai agama paling konservatif di Indonesia seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) maju dengan agenda Islam, mereka telah menjadi semakin moderat seiring dengan berjalannya waktu. Mereka juga terlibat dalam politik transaksional yang menjadi ciri khas sistem partai di Indonesia.

Oleh karena itu, beberapa survei telah menunjukkan bahwa sebagian orang Indonesia cenderung memilih partai Islamis baru yang lebih radikal.

Apakah Masyumi Reborn atau Partai Ummat yang akan mengisi kekosongan itu, kita harus masih melihat perkembangannya.

Tidak hanya para pemimpinnya yang kekurangan dukungan massa, tapi partai-partai tersebut juga menghadapi rintangan administratif yang signifikan. Membentuk sebuah partai itu mudah, tapi mendapatkan izin untuk bisa ikut pemilu sama sekali tidak mudah.

Kerangka peraturan pemilu dan partai politik Indonesia membuat partai baru sangat sulit untuk lolos proses verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena partai baru diwajibkan memiliki cabang di semua provinsi dan 75% di seluruh kabupaten dan kota.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, partai membutuhkan sumber dana yang sangat besar, yang saat ini tidak dimiliki oleh Masyumi Reborn maupun Partai Ummat.

Apa yang ditunjukkan oleh partai-partai Islam baru ini adalah bahwa kelompok Islamis di Indonesia masih kesulitan mengatasi hilangnya momentum dan kepemimpinan sejak pengaruh politik mencapai puncaknya pada 2016 dan 2017

Pembelotan Prabowo Subianto ke dalam kabinet Jokowi dan upaya efektif pemerintah dalam menumpas gerakan oposisi Islam telah mengakibatkan kekosongan kepemimpinan dalam tubuh kelompok Islamis yang sejauh ini belum ada yang bisa mengisi.

Dengan kembalinya Rizieq ke Indonesia, persaingan kepemimpinan oposisi anti-Jokowi telah memasuki babak baru.

Pemerintah dan polisi sudah mengawasi Rizieq karena mereka menyadari bahwa kegiatan pemimpin FPI itu dalam beberapa bulan mendatang akan lebih menarik daripada kegiatan Masyumi Reborn dan organisasi lain yang baru dibentuk.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,900 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now