Apakah sistem peringatan tsunami yang lebih canggih bisa cegah jatuhnya korban di Sulawesi?

Petugas Palang Merah Indonesia mengevakuasi korban tsunami dari rumah yang runtuh di Pantai Talise Palu, 1 Oktober 2018. MAST IRHAM/EPA

Jumlah korban tewas dari gempa bumi berkekuatan 7,5 Skala Richter (SR) dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat malam terus meningkat. Jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah karena beberapa daerah yang belum terjangkau oleh tim penyelamat.

Tapi besar dan lokasi gempa seharusnya tidak terlalu mengejutkan. Palu terletak di ujung teluk sempit yang panjang, yang berada tepat pada permukaan patahan Palu–Koro sangat aktif.

Daerah ini berisiko tinggi terhadap tsunami. Beberapa gempa bumi besar dan tsunami yang terjadi di sepanjang patahan itu dalam 100 tahun terakhir.


Read more: Explainer: after an earthquake, how does a tsunami happen?


Detail mengenai gempa bumi dan tsunami pada Jumat lalu masih terbatas, tapi sudah ada pertanyaan yang diajukan mengenai keefektifan sistem peringatan tsunami di Indonesia.

Beberapa orang berjalan mendekati mobil rusak yang digilas oleh tsunami di pantai Talise Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. EPA/Mast Irham

Sistem peringatan ini dikembangkan setelah tsunami besar pada 2004 yang terjadi setelah gempa di Aceh, tapi dalam kejadian belum lama ini peringatan itu tidak menjangkau banyak orang yang terdampak.

Tsunami terjadi kali ini di daerah yang tidak ada alat pengukur pasang surut (tide gauges). Ala ini dapat memberikan informasi mengenai ketinggian gelombang. Ada laporan bahwa sistem teknologi yang canggih mungkin dapat menyelamatkan jiwa, jika sistem itu bekerja sebagaimana mestinya

Sebagian besar pelampung peringatan tsunami (tsunameter buoys) di lautan Indonesia, yang dirancang khusus untuk mendeteksi tsunami di lautan terbuka, belum berfungsi sejak 2012.

Sistem Peringatan Tsunami Indonesia mengeluarkan peringatan hanya beberapa menit setelah gempa terjadi, tapi para pejabat BMKG belum dapat menghubungi petugas lapangan di daerah Palu. Peringatan tersebut kemudian dibatalkan 34 menit kemudian, tepat setelah gelombang tsunami ketiga menghantam Palu.

Peta lokasi Kota Palu di Sulawesi, yang dihantam tsunami pada Jumat lalu. USGS/Indonesia Tsunami Early Warning System/Reuters

Sejarah tsunami di Palu

Gempa besar sering terjadi di Palu, dengan 15 kejadian di atas 6,5 SR dalam 100 tahun terakhir. Yang terbesar adalah peristiwa pada Januari 1996 dengan besar guncangan 7,9 SR terjadi sekitar 100 km di utara gempa pada Jumat kemarin.

Sejumlah gempa bumi besar telah menghasilkan tsunami. Pada 1927 gempa bumi dan tsunami menyebabkan sekitar 50 orang tewas dan kerusakan bangunan di Palu. Pada 1968 sebuah gempa bumi berkekuatan 7,8 SR dekat Donggala menghasilkan gelombang tsunami yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Terlepas dari sejarah ini, banyak warga di Palu tidak sadar akan risiko tsunami setelah gempa bumi. Sepuluh tahun sejak tragedi Tsunami Aceh 2004, yang sedikitnya menewaskan 226.000 orang, ada kekhawatiran mengenai sistem peringatan tsunami di seluruh wilayah ini.

Sebuah sistem peringatan dengan teknologi maju yang saat ini hanya pada tahap prototipe mungkin tidak membantu warga Palu, ketika tsunami menghantam pantai dalam 20 menit setelah gempa.

Sistem peringatan dini semacam itu sangat bermanfaat pada ratusan kilometer dari sumber tsunami. Di daerah seperti di Palu, sumber gempa dan tsunami sangat dekat, pendidikan mengenai peringatan dini adalah sistem peringatan yang paling efektif.

Belum jelas apakah tsunami pada Jumat lalu disebabkan oleh pergerakan patahan akibat gempa bumi, atau dari tanah longsor bawah laut Teluk Palu yang disebabkan oleh guncangan akibat gempa.

Sisi teluk yang curam dan tidak stabil, dan peta dasar laut menunjukkan bahwa tanah longsor di bawah laut telah terjadi di sana di masa lalu.

Jika tsunami dihasilkan oleh longsoran bawah laut di dalam teluk, sensor tsunami atau alat pengukur pasang surut di bibir teluk tidak akan merasakan gelombang tsunami sebelum menghantam pantai di Palu.

Jaringan Komunikasi

Sistem peringatan tsunami dengan teknologi canggih dapat mengirimkan peringatan melalui jaringan telepon atau saluran komunikasi lainnya, dan menjangkau orang sekitar melalui pesan teks dan sirene tsunami di pantai.

Tapi di wilayah gempa bumi, infrastruktur ini kerap rusak dan pesan peringatan tidak dapat disampaikan. Di Palu, gempa bumi menghancurkan jaringan telepon seluler lokal sehingga tidak ada informasi yang dapat masuk atau keluar dari daerah tersebut.

Tsunami menghancurkan area pantai Talise Palu, Sulawesi Tengah. EPA/Mast Irham

Pengaturan waktu juga penting. Peringatan tsunami resmi membutuhkan analisis data dan memakan waktu hingga beberapa menit untuk mempersiapkan dan menyebarluaskannya.

Waktu sangat penting bagi orang yang berada di dekat pusat gempa, di mana tsunami dapat menyerang dalam beberapa menit setelah gempa bumi. Mereka yang tinggal di daerah-daerah seperti itu perlu menyadari perlunya evakuasi dini tanpa menunggu peringatan resmi. Gempa itu sendiri merupakan peringatan alami dari potensi tsunami.


Read more: Be prepared, always: the tsunami message from New Zealand's latest earthquake


Kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran akan risiko menjadi lebih menantang ketika tsunami besar jarang terjadi, seperti di Palu. Banyak penduduk mungkin belum lahir ketika tsunami terakhir berdampak pada kota ini pada 1968.

Jadi sistem peringatan berteknologi tinggi mungkin tidak efektif di area yang dekat dengan pusat gempa. Program kesadaran dan pendidikan yang berkelanjutan adalah bagian terpenting dari sistem peringatan tsunami di daerah pesisir yang berisiko tsunami, tidak peduli seberapa jarang mereka terjadi.

This article was originally published in English