Menu Close

Bagaimana crowdfunding dapat mempercepat pengembangan energi terbarukan di Indonesia

Panel tenaga surya di Nusa Tenggara Barat. Antara Foto.

Peningkatan penetrasi internet di Indonesia adalah pendorong untuk layanan urun dana berbasis teknologi atau lebih dikenal dengan crowdfunding, yang mengumpulkan uang dalam jumlah kecil dari banyak individu untuk membiayai sebuah usaha atau bisnis baru. Ini adalah alat yang ampuh untuk mengumpulkan dana dengan cepat, murah, dan mudah dari masyarakat umum.

Sebuah studi oleh Statista memperkirakan nilai transaksi crowdfunding di Indonesia akan tumbuh 3,6% menjadi US$ 7,5 juta pada 2025.

Mengingat peluang besar yang dihadirkan oleh crowdfunding, kami berpendapat bahwa Indonesia dapat menggunakan strategi ini untuk mendanai proyek-proyek hijau dan membantu mengatasi perkembangan energi terbarukan yang macet di negara ini.

Ilustrasi crowdfunding. Analogica/flickr, CC BY

Menggalang dana untuk energi terbarukan

Energi terbarukan berarti lebih sedikit impor bahan bakar dan lebih sedikit polusi dari pembangkit listrik bertenaga batu bara. Lebih banyak energi bersih akan datang dari sumber daya terbarukan seperti matahari, angin, dan air.

Sayangnya, Indonesia bergerak lambat menuju target pencapaian 23% penggunaan energinya dari sumber terbarukan pada 2025. Hal ini sebagian disebabkan oleh rendahnya investasi di sektor ini.

Anggaran pemerintah yang terbatas telah menghambat pengembangan energi terbarukan di Indonesia, sementara pelaku swasta tidak tertarik untuk memasuki sektor ini dalam iklim investasi yang tidak mendukung.

Crowdfunding dapat digunakan untuk membiayai semua jenis proyek, termasuk energi terbarukan.

Sebuah proyek crowdfunding Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (UNDP) pada 2016 berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 350 juta (US$ 24.800) untuk membangun pompa air bertenaga surya di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Contoh lainnya adalah platform crowdfunding sosial yang terkenal di Indonesia, kitabisa.com berhasil mengumpulkan Rp 500 miliar (US$ 35,4 juta) pada 2018.

Kolaborasi dengan figur publik seperti selebriti atau influencer juga bisa membantu, seperti yang telah dilakukan UNDP, menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang proyek kepada publik.

Contoh lainnya adalah Trillion Fund, platform crowdfunding energi terbarukan yang didukung oleh perancang busana Dame Vivienne Westwood. Crowdfunding ini menjadi pesta penggalangan dana urunan langsung yang pertama di Inggris untuk energi terbarukan pada 2014.

Mengingat meningkatnya jumlah investor ritel atau individu selama pandemi COVID-19, masyarakat kemungkinan besar akan tertarik untuk berinvestasi dalam proyek hijau jika diberi kesempatan.

Dukungan dari pemerintah

Pemerintah Indonesia harus mengadopsi tiga strategi utama untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan melalui crowdfunding.

Pertama, Kementerian Keuangan harus memberikan insentif fiskal atau pajak bagi investor atau donor dalam proyek energi terbarukan skala mikro dan kecil yang dibiayai oleh crowdfunding.

Kedua, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral harus membantu memberikan nasihat dan bantuan teknis kepada investor dan pengembang energi terbarukan. Dukungan ini sangat penting untuk proyek di daerah terpencil.

Yang tidak kalah penting adalah pemerintah dan juga lembaga proyek energi terbarukan harus memenuhi kebutuhan untuk menyiapkan sistem penganggaran yang terbuka dan transparan untuk melacak dana yang terkumpul. Artinya, investor tahu ke mana dananya digunakan.

Terakhir, pemerintah dan juga lembaga proyek energi terbarukan harus mengkomunikasikan kemajuan setiap proyek energi terbarukan. Ini adalah kuncinya, karena pada akhirnya masyarakat yang berminat perlu mengetahui apa yang terjadi sebagai hasil dari donasi atau investasinya.

Lembaga pengelola proyek energi terbarukan dan pemerintah harus berkolaborasi dengan tokoh terkenal di media sosial yang memiliki pengikut dalam jumlah besar. Mereka dapat menyebarkan informasi tentang crowdfunding suatu proyek dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, pendekatan ini akan meningkatkan jumlah investor atau donor potensial untuk proyek energi terbarukan.


Inka B. Yusgiantoro, Head of the Supervisory Board, The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), turut serta menulis artikel ini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,100 academics and researchers from 3,982 institutions.

Register now