Bagaimana momen Ramadan bisa memperkuat ketahanan ekonomi di tengah pandemi?

Pembeli takjil di Bendungan Hilir, Jakarta. trugiaz/flickr, CC BY-SA

Peneliti ekonomi memprediksi pandemi COVID-19 akan menambah setidaknya 1,3 juta orang masuk ke dalam kelompok miskin di Indonesia. Dalam skenario terburuk jumlah orang miskin akan bertambah 8,5 juta orang.

Cepat atau lambat hampir seluruh masyarakat akan terkena dampak secara ekonomi baik langsung maupun tidak langsung akibat pandemi ini.

Di saat seperti ini pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat ketahanan ekonomi untuk bersiap menghadapi situasi sulit saat ini dan dinamis di masa depan.

Pemerintah telah menyiapkan beberapa program bantuan bagi masyarakat terdampak COVID-19. Namun jelas masih banyak masyarakat yang belum terpenuhi kebutuhannya dan perlu bantuan semua pihak.

Bagi mereka yang masih diberikan rezeki dan tetap mendapatkan gaji atau penghasilan setidaknya tiga hal dapat dilakukan untuk membantu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat: menghemat pengeluaran, mengumpulkan dana cadangan, dan mempererat solidaritas sosial dengan memperbanyak sedekah.

Bagi umat Muslim, momentum Ramadan di tengah pandemi bisa digunakan untuk melakukan hal-hal tersebut.

Berbagai cemilan. karenchen/flickr, CC BY

Membuat Prioritas Pengeluaran

Kita perlu memperkecil pengeluaran agar ada dana yang tersisa untuk menjadi dana cadangan.

Untuk itu salah satu yang bisa dilakukan adalah menghemat pengeluaran terkait konsumsi makanan dan minuman yang biasanya menghabiskan jatah keuangan rumah tangga.

Produk Domestik Bruto pengeluaran konsumsi masyarakat untuk makanan dan minuman pada triwulan pertama pada tahun lalu mencapai Rp 841,28 triliun atau sebesar 39% dari Produk Domestik Bruto konsumsi masyarakat.

Bagi masyarakat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, pengeluaran ini bisa berkurang karena frekuensi makan yang semula umumnya tiga kali sehari saat sarapan, sore hari, dan malam, serta diselingi camilan, kini berkurang menjadi hanya tinggal saat berbuka puasa, serta saat sahur. Pengeluaran untuk makanan yang tidak perlu sekarang bisa dikurangi.

Pengeluaran terbesar lainnya ada pada pembayaran cicilan. Sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan, nasabah yang terkena dampak COVID-19 baik langsung maupun tidak langsung kini dapat mengajukan keringanan (restrukturisasi) kepada bank atau lembaga pembiayaan.

Untuk cicilan kendaraaan bermotor, sebagaimana kesepakatan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), nasabah yang mendapat persetujuan keringanan dapat melakukan pembayaran sebagian angsuran mulai dari Rp 250,000 sampai dengan Rp 1,5 juta per kontrak pembiayaan, dan juga penghapusan denda untuk periode Maret hingga Juni 2020.

Memperbesar dana cadangan

Jika penghematan atas pengeluaran bisa terlaksana, maka uang yang disisihkan bisa dikumpulkan menjadi dana cadangan. Idealnya jumlah dana tersebut setidaknya sebesar tiga kali pengeluaran perbulan.

Sayangnya, menurut sebuah riset yang mensurvei 500 responden, hanya 70% responden yang mempunyai dana darurat, meskipun dalam jumlah bervariasi. Di sisi lain, ada sekitar 8% yang tidak punya tabungan untuk darurat. Riset itu juga menunjukkan bahwa kelompok menengah ke atas punya dana darurat yang jauh lebih banyak dibanding golongan bawah.

Selain memperkecil pengeluaran, ada satu hal lagi sebenarnya yang bisa menambah dana cadangan, yakni realokasi dana mudik.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama musim mudik Idul Fitri 1441 H, tertanggal 23 April 2020 telah melarang masyarakat untuk pulang kampung atau apapun namanya.

Namun demikian survei Kementerian Perhubungan mendata 24% masyarakat masih bersikeras mudik, meski sudah ada imbauan. Karenanya, latihan menahan diri selama Ramadan diharapkan dapat pula mengekang keinginan semacam ini.

Mempertinggi solidaritas sosial

Pemeluk agama Islam diwajibkan untuk mengeluarkan setidaknya 2,5% dari hartanya untuk zakat. Zakat yang terdistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan ini akan bagai tetesan embun di pagi hari yang menyuburkan, menumbuhkan, dan menggerakkan perekonomian.

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) mengandalkan platform Zakat digitalnya untuk mengumpulkan US$ 255 juta untuk membantu para pengungsi yang rentan.

Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2 tahun lalu tercatat berhasil menghimpun Rp 8,1 triliun. Bila nilai zakat yang terkumpul tahun ini 2/3 saja dari tahun sebelumnya, nilainya sekitar Rp 5,4 triliun.

Jumlah itu kurang lebih setara dengan pemberian bantuan pelatihan Pra Kerja.

Dengan kondisi penyebaran COVID-19 tidak hanya menyerang individu, tapi juga masyarakat, maka menjaga kesehatan dan imun masyarakat di sekitar tempat tinggal juga menjadi kewajiban. Menyisihkan penghasilan untuk zakat dan sedekah bisa membantu menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat di sekitar kita.

Tiga hal di atas yaitu efisiensi pengeluaran, memperbesar dana darurat, dan memperbanyak berbagi, manakala dapat terlaksana dengan baik di bulan Ramadan ini, akan sangat membantu sebagian besar masyarakat untuk bisa bertahan menghadap situasi tidak menentu dari penanganan COVID-19. Terlebih lagi belum ada yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 108,600 academics and researchers from 3,567 institutions.

Register now