Menu Close
Pekerja pabrik di Massachusets, Amerika Serika, pada 1912. Lewis Hine/shutterstock

Bekerja dari rumah amoral? Pelajaran tentang etika dan sejarah untuk Elon Musk

Elon Musk tak suka orang bekerja dari rumah. Setahun lalu, ia mengakhiri kerja jarak jauh bagi karyawan Tesla. Kini, ia menyebut keinginan para “pekerja laptop” untuk bekerja dari rumah sebagai “amoral”.

“Anda akan bekerja dari rumah dan membuat semua orang yang membuat mobil Anda bekerja dari pabrik?” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC, jaringan berita asal Amerika Serikat (AS):

Ini adalah isu produktivitas, sekaligus juga isu moral. Orang-orang perlu melepaskan diri dari arogansi moral dengan omong kosong kerja-dari-rumah mereka. Mereka meminta orang lain untuk tak bekerja dari rumah sementara mereka sendiri melakukannya.

Ada logika dangkal di balik posisi Musk. Jika kita teliti lebih dalam, argumennya akan berantakan. Meskipun kita memiliki kewajiban untuk berbagi beban kerja dengan orang lain, kita tak harus menderita tanpa alasan.

Sepanjang sejarah manusia, bekerja dari rumah adalah hal yang normal. Justru keanehannya ada pada pabrik dan kantor modern.


Read more: Google pun sepakat, kita tidak akan kembali bekerja dari kantor lagi


Bekerja dari rumah dan revolusi industri

Sebelum revolusi industri, yang menurut sejarawan terjadi pada pertengahan 1700an hingga pertengahan 1800an, bekerja dari rumah atau dekat dengan rumah adalah hal yang lumrah bagi sebagian besar populasi dunia. Ini termasuk pekerja manufaktur terampil, yang biasanya bekerja dari rumah atau bengkel terdekat.

Bagi para pengrajin terampil, jam kerjanya adalah apa yang kita sebut “fleksibel”. Sejarawan Inggris E.P. Thompson mencatat adanya kebingungan di antara masyarakat terhadap kerja yang tak teratur ini.

Kondisi ini berubah seiring dengan pertumbuhan dan konsentrasi mesin yang pesat selama revolusi industri. Perubahan ini bermula di Inggris, yang juga mencatatkan konflik-konflik paling menegangkan dan berkepanjangan terkait jam kerja dan disiplin baru yang dituntut oleh para pemilik dan manajer pabrik.

A home textile workshop, in Britain or Ireland. This image dates from the 19th century.
Bengkel tekstil rumahan di Inggris atau Irlandia. Gambar ini berasal dari abad ke-19. Shutterstock

Penilaian mengenai kondisi para pekerja sebelum industrialisasi bervariasi. Studi mahakarya Thompson, The Making of the English Working Class (Sejarah Kelas Pekerja Inggris, diterbitkan pada 1963) menceritakan kisah-kisah suram tentang keluarga tukang wol yang beranggotakan 6 hingga 8 orang, bekerja berdempetan di depan kompor arang. Bengkel mereka sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur.

Akan tetapi, karya tersebut juga mengisahkan pembuat kaus kaki dengan “kacang polong dan buncis di tamannya yang nyaman, dan satu tong bir yang lezat”, juga tentang penenun linen di Belfast dengan “rumah mereka yang bercat putih, dengan taman bunganya yang mungil”.

Dengan kondisi seperti apa pun, bekerja dari rumah bukanlah penemuan baru para “pekerja laptop”. Revolusi industrilah yang membuat pekerja harus bekerja di bawah satu atap dengan jam kerja tetap.


Read more: Memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan tidaklah mungkin - dan itu belum tentu buruk


Salah menerapkan konsep keadilan

Argumen moral Musk adalah karena tak semua pekerja bisa bekerja dari rumah, pekerja lain pun tak seharusnya melakukannya.

Argumen ini memiliki kemiripan dengan “imperatif kategoris” yang diartikulasikan oleh filsuf abad ke-18, Immanuel Kant: “Bertindaklah sesuai dengan prinsip yang dengannya Anda dapat menghendakinya menjadi hukum yang universal.”

Akan tetapi, bertindak dengan prinsip yang sama bukan berarti kita semua memiliki pilihan yang sama pula. Kita bisa, contohnya, menginginkan semua pekerja untuk memiliki kebebasan maksimal yang dimungkinkan oleh pekerjaan mereka.

Kesalahan Musk yang lebih besar adalah salah menempatkan apa yang disebut oleh peneliti etika sebagai “keadilan distributif”.

Sederhananya, keadilan distributif mencakup tentang bagaimana kita berbagi manfaat dan kerugian. Filsuf asal AS, John Rawls, menjabarkan dalam bukunya Justice as Fairness bahwa dalam keadilan distributif, kita memandang masyarakat sebagai perwujudan aktivitas kerja sama. Di dalam masyarakat, kita “mengatur pembagian keuntungan yang seiring waktu muncul dari kerja sama sosial”.

Penelitian mengenai keadilan distributif di tempat kerja umumnya berkutat soal bagaimana membayar pekerja dengan adil dan berbagi “penderitaan” atau “kerja keras” yang dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut. Akan tetapi, tak ada kasus moral yang memaksa orang-orang berbagi “penderitaan” yang timbul dari pekerjaan itu.

Bagaimana berbagi lebih adil

Jelas, para profesional mendapatkan keuntungan dari pekerjaannya, dengan berbagai bentuk yang bisa saja kita anggap tak adil. Ekonom John Kenneth Galbraith menuliskan secara satir dalam bukunya, The Economics of Innocent Fraud, mereka yang menikmati pekerjaannya adalah orang-orang yang umumnya mendapatkan upah terbesar. “Ini wajar. Upah rendah adalah untuk mereka yang melakukan kerja keras yang berulang, membosankan, dan berat.”

Jika Musk ingin berbagi entah upah atau kerja keras di Tesla secara berimbang, ia sebetulnya punya cara untuk melakukannya. Ia bisa saja membayar pekerja pabriknya lebih besar, misalnya, alih-alih mengambil gajinya yang kira-kira sebesar US$56 miliar (Rp 838,43 triliun) pada 2028. (Ini berdasarkan proyeksi kapitalisasi pasar Tesla 12 kali lebih besar dibandingkan 2018, dengan posisi saat ini sekitar 10 kali lebih besar.)

Agar bisa berbagi “kerja keras” dengan adil, Musk tidak akan sekadar tidur di tempat kerja. Ia akan berada di lini produksi, atau berada di tambang di Afrika tengah, menggali kobalt yang dibutuhkan oleh kendaraan listrik dengan bayaran beberapa dolar per jam.

Elon Musk with California governor Gavin Newsom at Tesla's new global engineering and AI headquarters in Palo Alto, California in February 2023.
Elon Musk dengan Gubernur California, Gavin Newsom di markas baru divisi teknis dan AI Tesla di Palo Alto, Februari 2023. Office of the Governor/EPA

Elon, silakan naik ke panggung

Alih-alih, ide Musk tentang keadilan adalah dengan menciptakan pekerjaan yang tak perlu, mempermalukan pekerja yang tidak perlu melaju dan bekerja dari kantor. Tak ada alasan moral untuk mendorong hal-hal ini dalam tradisi etika Barat.

Hasil dan beban kerja memang harus didistribusikan secara adil, tetapi pekerjaan yang tak perlu tak akan memudahkan siapa pun. Penelitian menunjukkan bahwa perjalanan menuju ke kantor adalah waktu yang paling tak menyenangkan dan paling negatif dalam hari seorang pekerja. Memaksa semua orang melakukannya juga tak akan membawa manfaat bagi mereka yang memang harus melakukannya.

Menolak kebebasan sebagian pekerja untuk bekerja dari rumah karena pekerja lain tidak memiliki kebebasan yang sama adalah tindakan yang menyimpang secara etis.

Penolakan Musk terhadap kerja jarak jauh ini konsisten dengan sejarah panjang penelitian yang mendokumentasikan resistensi para manajer untuk membiarkan pekerjanya berada di luar pengawasan mereka.

Bekerja dari rumah, atau “bekerja dari mana saja”, telah menjadi bahan diskusi sejak dekade 1970an, dan telah dimungkinkan oleh teknologi semenjak akhir 1990an. Namun, gaya bekerja ini baru menjadi pilihan bagi sebagian besar pekerja saat pandemi, ketika para manajer terpaksa menerimanya.

Meskipun situasi terpaksa di kala pandemi ini menjadi “pencerahan” bahwa bekerja dari rumah juga bisa tetap produktif, pertumbuhan sistem pengawasan untuk melacak pekerja di rumah mereka sendiri membuktikan bahwa kecurigaan para manajer ini masih ada.


Read more: Gaya manajemen '_hardcore_' Elon Musk: sebuah studi kasus tentang apa yang seharusnya tak dilakukan


Ada persoalan moral murni yang seharusnya dihadapi oleh Musk di Tesla. Musk bisa menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk membantu mengatasi perbudakan modern dalam rantai pasok, atau ketidakadilan upah yang diterima para eksekutif.

Namun, ia malah mengeluhkan masalah kerja dari rumah. Untuk membuat pekerjaan di Tesla lebih adil, upaya moral Musk seharusnya diarahkan terhadap distribusi keuntungan Tesla dengan adil, dan memitigasi penderitaan dan kerja keras yang timbul dari sistem produksi.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 185,800 academics and researchers from 4,984 institutions.

Register now