Yang paling tersulit adalah mengukur waktunya, karena kebanyakan orang melebih-lebihkan. www.shutterstock.com

Berapa lama biasanya hubungan seks berlangsung?

Setelah hubungan intim yang singkat Anda mungkin penasaran: Berapa lama sih biasanya hubungan seks berlangsung?

Itu kalau Anda bukan ilmuwan. Kalau Anda ilmuwan, Anda mungkin akan merumuskan pertanyaan dengan istilah yang lebih abstrak: Berapa waktu rata-rata yang diperlukan untuk mendapatkan ejakulasi intravaginal?

Saya memahami yang namanya hubungan seks tidak sebatas memasukkan penis ke dalam vagina hingga ejakulasi terjadi, tapi juga menyangkut hal-hal lain seperti berciuman.

Tetapi demi menjaga pembahasan ini tetap sederhana dan spesifik, kita hanya akan membahas waktu ejakulasi.

Mengukur waktu ejakulasi rata-rata bukanlah hal yang bisa dilakukan secara langsung. Kita tidak bisa serta-merta bertanya kepada orang, berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk ejakulasi.

Mengapa? Ada setidaknya masalah utama kalau kita memakai pendekatan seperti itu. Pertama, orang cenderung bias mengenai waktu yang diperlukan untuk ejakulasi, karena secara sosial orang diharapkan bisa bertahan sepanjang malam.

Kedua, orang biasanya tidak mengetahui berapa durasi hubungan seks mereka. Jarang sekali ada pasangan yang berhubungan badan sembari mengamati jam di samping tempat tidur.

Dan memperkirakan waktu bercinta, tanpa dibantu orang lain, itu sulit.

Apa hasil penelitian?

Penelitian yang terbaik sejauh ini dilakukan dengan menghitung waktu rata-rata ejakulasi 500 pasangan dari seluruh negara. Mereka menghitung waktu bercinta selama empat minggu dengan stopwatch.

Memang terdengar aneh. Para peserta penelitian memencet tombol “mulai” ketika mereka melakukan penetrasi dan memencet tombol “berhenti” ketika sudah ejakulasi.

Cara ini mungkin akan merusak mood bercinta para peserta penelitian, dan tidak sepenuhnya mencerminkan sesuatu yang alami.

Tapi mencari kesempurnaan dalam sains itu sulit, dan penelitian di atas adalah yang terbaik yang kita miliki sejauh ini.

Jadi apa hasil penemuannya?

Hasil yang paling mengejutkan menunjukkan ada banyak variasi waktu. Waktu rata-rata yang dibutuhkan setiap pasangan (diambil rata-rata hubungan seks) berkisar antara 33 detik sampai 44 menit. Itu berarti ada perbedaan 80 kali lipat.

Yeah, seksi. Matthew/Flickr, CC BY

Dari hasil itu, didapatkan waktu rata-rata semua pasangan adalah 5,4 menit. Ini berarti jika Anda berbaris bersama 500 pasangan dari yang memiliki waktu pendek ke panjang, pasangan yang terletak di barisan tengah memiliki waktu rata-rata 5,4 menit ketika berhubungan badan.

Penelitian di atas juga menemukan hal-hal menarik. Misalnya, penggunaan kondom ternyata tidak mempengaruhi durasi. Begitu pula faktor apakah sang pria dikhitan atau tidak.

(Ada anggapan bahwa pria yang disunat bertahan lebih lama karena penisnya tidak terlalu sensitif.)

Negara asal pasangan juga tidak berpengaruh pada durasi, kecuali jika mereka berasal dari Turki yang waktu hubungan badannya sangat pendek (3,7 menit) dibanding pasangan dari negera lain (Belanda, Spanyol, Inggris, dan Amerika).

Hal lain yang mengejutkan adalah fakta bahwa semakin tua pasangannya, maka semakin pendek waktu bercintanya. Ini berbeda dengan pemahaman umum (yang mungkin saja dibuat oleh pria yang lebih tua).

Mengapa kita harus lama berhubungan seks?

Sebagai seorang peneliti evolusi, semua pembicaraan mengenai berapa lama hubungan seks bertahan membuat saya bertanya-tanya: “Memangnya mengapa hubungan seksual itu harus lama?”.

Sebab, semua hubungan badan toh tujuan akhirnya untuk memasukkan sperma ke dalam vagina. Lalu buat apa gerakan heboh di tempat tidur? Ketimbang memasukkan dan mengeluarkan penis ratusan kali ketika berhubungan badan, kenapa tidak memasukkannya sekali saja dan setelahnya kita bisa minum lemon?

Di samping hubungan yang menyenangkan, apa hubungan seks memiliki tujuan biologis? from www.shutterstock.com

Sebelum Anda menjawab “Sebab seks itu enak!” tolong ingat bahwa proses evolusi tidak peduli mengenai hal-hal yang menyenangkan—proses evolusi merancang segala sesuatu menjadi menyenangkan hanya karena dia membantu leluhur kita mewariskan gen mereka ke generasi mendatang.

Sebagai contoh, meskipun kita menikmati melahap makanan, kita tidak akan mengunyah makanan selama lima menit hanya karena kita menyukainya. Hal itu akan membuat kegiatan makan menjadi tidak efisien, dan kita berevolusi untuk memahami bahwa mengunyah makanan terlalu lama adalah hal yang menjijikkan.

Mengapa kita bercinta lama adalah sebuah pertanyaan rumit dan tidak ada jawaban jelasnya, tapi petunjuknya mungkin terletak pada bentuk penis itu sendiri. Pada 2003, peneliti menemukan—dengan menggunakan vagina, penis dan sperma buatan—bahwa ujung kepala penis sebenarnya berfungsi mengambil sperma yang sebelumnya ada di dalam vagina.

Hal ini menunjukkan bahwa gerakan keluar-masuk penis yang berulang-ulang sebenarnya bertujuan menghilangkan sperma pria lain sebelum terjadinya ejakulasi, untuk memastikan bahwa sperma mereka lebih dulu sampai ke telur.

Tak heran bila laki-laki merasa sakit ketika mereka tetap mendorong masuk penisnya sehabis berejakulasi, karena artinya gerakan itu berisiko menghilangkan sperma mereka sendiri.

Jadi apa yang perlu dilakukan dengan informasi ini? Saran saya sih, tidak usah terlalu Anda pikirkan ketika sedang bercinta.

This article was originally published in English