Menu Close

Bukan manusia, melainkan hutan tropis penyebab punahnya megafauna Asia Tenggara

Ilustrasi masa Pleistosen di Asia Tenggara.
Peter Schouten, Author provided

Membayangkan Asia Tenggara saat ini mungkin akan langsung terlintas hutan hujan tropis yang lebat dengan hewan ikonik seperti orang utan, harimau, dan monyet.

Namun, ada hewan-hewan bertubuh besar lainnya yang mungkin kurang terkenal, tapi sama pentingnya bagi ekosistem, seperti serow (mirip kambing), goral, 3 spesies badak Asia, dan satu-satunya spesies tapir masih tinggal di “Dunia Lama”.

Tapir duduk di hutan yang hijau.
Tapir Melayu, hewan yang terancam punah ini terbesar dari 4 spesies lain dan satu-satunya yang asli Asia. Shutterstock

Makhluk ini bersama-sama membentuk megafauna Asia Tenggara, kedua setelah Afrika soal keanekaragaman.

Kedua ekosistem kontinental ini merupakan sisa terakhir dari dunia yang sebagian besar telah punah - tempat raksasa pernah menjelajahi Bumi. Lalu, apa yang menyebabkan begitu banyak spesies megafauna punah?

Beberapa teori menunjukkan bahwa ini bisa karena manusia, perubahan iklim, atau keduanya yang membawa megafauna Asia Tenggara menuju kepunahan.

Namun, penelitian terbaru kami di Nature mengindikasikan bahwa naik turunnya sabana yang mendorong terjadinya kepunahan.

Punahnya megafauna Asia Tenggara

Asia Tenggara telah kehilangan banyak spesies mamalia besar selama periode Quarternary (periode keempat), dalam 2,6 juta tahun terakhir.

Spesies-spesies ini antara lain kera terbesar di dunia, Gigantopithecus, stegodon, makhluk mirip gajah, dan kerbau besar.

Kepunahan ini juga dialami oleh relasi terdekat manusia, yaitu Homo erectus dan Homo floresiensis (“Hobbit”) serta Homo luzonensis.

Spesies manusia terakhir yang tercatat dalam gen Asia Tenggara saat ini: Denisovan, yang kemungkinan tersebar di seluruh wilayah.

Berdasarkan studi sebelumnya, antagonis utama dalam kepunahan megafauna adalah manusia.

Beberapa berpendapat bahwa kedatangan manusia ke pulau-pulau baru selama lebih dari 60.000 tahun terakhir, – yang terlalu banyak berburu dan mengubah habitat – mendorong punahnya mamalia besar ini.


Read more: New analysis finds no evidence that climate wiped out Australia's megafauna


Para peneliti lain telah berpendapat bahwa perubahan iklim sebagai penyebab kepunahan megafauna.

Sementara, sebagian mengatakan keduanya, manusia dan iklim berpengaruh.

Wawasan tentang lingkungan pada masa lalu

Untuk penelitian ini, kami melihat perubahan lingkungan di Asia Tenggara selama 2,6 juta tahun terakhir untuk menjelaskan dampaknya terhadap kepunahan.

Kami menganalisis isotop yang stabil pada gigi mamalia yang ditemukan di wilayah saat ini, termasuk dari catatan fosil yang tersedia.


Read more: Meet the giant wombat relative that scratched out a living in Australia 25 million years ago


Isotop stabil adalah bentuk non-radioaktif dari berbagai elemen.

Isotop yang stabil pada karbon dan oksigen diawetkan dalam gigi mamalia mencatat informasi penting tentang jenis tumbuhan apa yang dimakan hewan tersebut dan seberapa basah lingkungan mereka.

Karbon isotop yang stabil membantu dalam mencatat apakah hewan tersebut sebagian besar memakan daun dan buah-buahan dari hutan atau rumput di tempat yang lebih terbuka.

Ini memungkinkan kami mengidentifikasi perubahan lingkungan dari waktu ke waktu.

Fosil gigi.
Fosil gigi dari gajah Asia Tenggara adalah satu contoh dari berbagai gigi yang ada dalam catatan fosil. Julien Louys, Author provided

Hutan yang berubah-ubah

Selama 1,5 juta tahun pertama atau pada masa Pleistosen (zaman geologi yang berlangsung dari sekitar 2.580.000 hingga 11.700 tahun yang lalu), bagian utara Asia Tenggara sebagian besar adalah hutan dan bagian selatan adalah hutan atau padang rumput.

Sekitar 1 juta tahun lalu, hutan mulai menyusut di mana-mana di wilayah tersebut dan padang rumput mulai mendominasi.

Bersamaan dengan perubahan tersebut, hewan-hewan besar yang beradaptasi dengan hutan, seperti Gigantopithecus, dan panda besar relatif menghilang dari wilayah utara Asia Tenggara.

Model dari _Gigantopithecus blacki_.
Gigantopithecus blacki adalah kera besar yang punah dan hidup saat masa Pleistosen atau disebut Cina Selatan. Hewan ini telah punah sejak 300.000 tahun yang lalu. Greg Williams/Flickr, CC BY-NC

Lalu, 400.000 tahun yang lalu, Paparan Sunda Asia Tenggara mulai tenggelam dan siklus iklim berubah. Akibatnya, kondisi hutan kembali pulih. .

Waktu bersamaan, makhluk yang beradaptasi dengan padang ruput memenuhi wilayah tersebut, termasuk hyena (anjing hutan) raksasa, stegodon, bovid, dan Homo erectus mulai menghilang, – dan punah di pengujung era Pleistosen.

Sisanya, berpindah ke hutan hujan.

Selama belasan ribu tahun terakhir, kami melihat bukti pertama hutan hujan bertingkat dan tertutup di Asia Tenggara. Ini telah mendominasi wilayah tersebut selama 20.000 tahun atau lebih.

Spesies yang beradaptasi dengan hutan hujan seharusnya diuntungkan dengan kembalinya hutan hujan, namun satu penyelundup mengubah semuanya.

Homo sapiens merupakan satu-satunya spesies dalam pohon keluarga manusia yang berhasil beradaptasi dan mengeksploitasi hutan hujan.


Read more: Old teeth from a rediscovered cave show humans were in Indonesia more than 63,000 years ago


Meskipun manusia tinggal di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara sejak 73.000 tahun lalu, mungkin saja hanya 10.000 tahun terakhir Homo sapiens mulai mengubah habitat dan memanfaatkan mamalia.

Dunia yang menghilang

Asia Tenggara terus melestarikan beberapa megafauna yang terancam punah di Bumi.

Megafauna khas padang rumput merupakan kehilangan terbesar akibat dari hilangnya sabana 400.000 tahun yang lalu. Saat ini, megafauna hutan hujan juga terancam punah.

Untungnya, nasib baik spesies kita sendiri berubah menjadi lebih baik dengan munculnya hutan tropis Asia Tenggara. Namun, kita sekarang menjadi ancaman yang dapat menghancurkan mereka selamanya.


Wiliam Reynold menerjemahkan artikel ini ke dalam Bahasa Indonesia.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 114,900 academics and researchers from 3,734 institutions.

Register now