Menu Close

Bunda Maria: 5 hal yang perlu diketahui tentang ibu Yesus

Bunda Maria
Penggambaran Bunda Maria dalam sebuah lukisan.

Bunda Maria, ibu Yesus, sudah tidak diragukan lagi merupakan orang kudus yang paling populer dalam tradisi Kristen. Namun, kita hanya mengetahui sedikit sekali tentang dia. Dalam Perjanjian Baru, tidak ada informasi tentang kelahiran, kematian, penampilan, atau usianya.

Di luar kisah kelahiran Yesus yang hanya terdapat dalam Injil Matius dan Lukas, ia secara spesifik disebutkan hanya pada tiga peristiwa lain dalam kehidupan putranya.

Dia hadir dalam sebuah pernikahan di mana Yesus mengubah air menjadi anggur; dia berusaha untuk melihat putranya ketika dia mengajar; dan dia ada di sana saat penyaliban-Nya. Bahkan, Bunda Maria lebih sering disebut dalam Al-Quran daripada dalam Alkitab.

Berikut ini adalah lima hal yang kita ketahui tentangnya.

1. Bunda Maria adalah seorang perawan yang tidak disengaja

Injil Matius adalah satu-satunya Injil yang mengatakan bahwa Maria hamil sebelum ia dan Yusuf melakukan hubungan seks. Dia dikatakan “mengandung dari Roh Kudus”. Sebagai buktinya, Matius mengutip sebuah nubuat dari Perjanjian Lama bahwa seorang “anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan Ia akan disebut Imanuel”.

Matius menggunakan Perjanjian Lama versi bahasa Yunani. Dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani, kata asli Ibrani “almah” telah diterjemahkan menjadi “parthenos”, kemudian ke dalam Alkitab bahasa Latin menjadi “virgo” dan ke dalam bahasa Inggris menjadi “virgin”.

Sementara “almah” hanya berarti “perempuan muda”, kata Yunani “parthenos” secara fisik berarti “perawan utuh”. Singkatnya, Maria dikatakan masih perawan karena ketidaksengajaan dalam penerjemahan kata “wanita muda” menjadi “perawan”.

Guido Reni, Pendidikan bagi Perawan. Wikimedia Commons

2. Dia adalah seorang perawan abadi

Dalam doktrin Kristen awal, Maria tetap perawan selama dan setelah kelahiran Yesus. Hal ini mungkin hanya pantas untuk seseorang yang dianggap sebagai “ibu Allah” atau “pembawa Tuhan”.

Santo Ambrosius dari Milan (sekitar tahun 339-97 M) dengan antusias membela doktrin tentang keperawanan Maria yang abadi:

“Maria yang diberkati adalah pintu gerbang, yang melalui dia Tuhan telah masuk, dan pintu gerbang itu tidak akan tertutup lagi sesudah ia dilahirkan, karena sebagai seorang perawan ia mengandung dan melahirkan.

Konsili Lateran pada tahun 649 Masehi, sebuah konsili yang diadakan di Roma oleh Gereja Barat, kemudian menyatakan sebagai sebuah artikel iman bahwa Yesus dikandung "tanpa benih” dan bahwa Maria “tidak dapat binasa, keperawanannya tidak dapat rusak bahkan setelah kelahirannya”. Semua ini terlepas dari pernyataan Injil bahwa Yesus memiliki saudara laki-laki dan perempuan seperti yang tercantum pada Injil Markus, Matius dan Lukas.

Perawan dan Anak dalam lukisan tempera pada lukisan panel oleh Antonio Veneziano, sekitar tahun 1380. Museum of Fine Arts Boston

3. Bunda Maria dikandung tanpa dosa

Dalam teologi Barat, secara umum diakui sejak zaman Santo Ambrosius bahwa Maria tidak pernah melakukan dosa. Namun, apakah ketidakberdosaannya dalam kehidupan ini karena ia dilahirkan tanpa “dosa asal”? Bagaimanapun, menurut teologi Barat, setiap manusia dilahirkan dengan dosa asal, konsekuensi “genetik” dari dosa Adam dan Hawa di Taman Eden.

Kultus pengabdian kepada Perawan Maria yang berkembang pada periode abad pertengahan menyebabkan perpecahan teologis yang sangat besar. Di satu sisi, pengabdian kepada Maria mengarah pada argumen bahwa Allah telah memastikan Maria tidak memiliki “dosa asal”.

Namun, jika Maria dikandung tanpa dosa, ia telah ditebus sebelum penebusan yang dilakukan oleh kematian dan kebangkitan Yesus, putranya.

Gereja Katolik baru menyelesaikan masalah ini pada tahun 1854. Paus Pius IX menyatakan

bahwa doktrin yang menyatakan bahwa Perawan Maria yang paling terberkati, pada saat pertama kali dikandung … terpelihara bebas dari segala noda dosa asal, adalah sebuah doktrin yang diwahyukan oleh Allah dan oleh karena itu harus dipercayai dengan teguh dan terus menerus oleh semua umat beriman.

4. Dia naik ke surga

Abad-abad awal tradisi Kristen tidak membicarakan kematian Maria. Namun pada abad ketujuh dan kedelapan, kepercayaan akan kenaikan Maria secara fisik ke surga, telah menjadi kepercayaan yang kuat di Gereja Barat dan Timur.

Gereja Yunani Ortodoks Timur berpegang pada kematian Maria. Menurut pendapat ini, Bunda Maria mengalami kematian alami dan jiwanya kemudian diterima oleh Kristus. Tubuhnya bangkit pada hari ketiga setelah kematiannya. Ia kemudian diangkat secara fisik ke surga

Untuk waktu yang lama, Gereja Katolik masih ragu-ragu tentang apakah Maria bangkit dari kematian setelah beristirahat sejenak di alam barzakh dan kemudian naik ke surga atau “diangkat” secara jasmaniah ke surga sebelum dia meninggal.

Kepercayaan akan kenaikan Maria ke surga menjadi doktrin Katolik pada tahun 1950. Paus Pius XII kemudian menyatakan bahwa Maria

tidak tunduk pada hukum untuk tetap berada di alam maut dan dia tidak harus menunggu sampai akhir zaman untuk penebusan tubuhnya.

Maria Diangkat ke Surga oleh Luca Giordano, sekitar tahun 1698. Wikimedia Commons

5. Dia adalah seorang dewi langit

Konsekuensi dari kenaikan ke surga adalah tidak adanya peninggalan jasmaniah dari Maria. Meskipun ada air susu ibu, air mata, potongan rambut dan kuku, peninggalannya sebagian besar adalah “barang bekas” - pakaian, cincin, kerudung, dan sepatu.

Dengan tidak adanya peninggalan kerangka tubuhnya, para pengikutnya puas dengan penglihatan - di Lourdes, Guadalupe, Fatima, Medjugorje, dan tempat sebagainya. Seperti orang-orang kudus lainnya, tempat-tempat ziarahnya adalah tempat di mana dia dapat dipanggil untuk meminta Tuhan mengabulkan doa-doa para penyembahnya.

Tetapi dia lebih dari sekadar orang suci. Dalam ritual populer, dia adalah dewi langit yang selalu berpakaian biru. Dia adalah dewi bulan dan bintang laut (stella maris).

Dia adalah dewi bulan dan bintang laut. Wikimedia Commons

Dia terkait dengan bintang Virgo ( bukan hal yang mengherankan) - Ratu Surga dan Ratu para malaikat.


_Demetrius Adyatma pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris _

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 185,400 academics and researchers from 4,982 institutions.

Register now