Menu Close

Climate Explained: Kenapa manusia secara naluriah menolak bukti-bukti yang berlawanan dengan apa yang mereka percaya?

Tangan yang meregang seolah menolak orang lain bicara.
Shutterstock/Alexey M

Mengapa manusia secara naluriah menolak bukti yang berlawanan dengan kepercayaan mereka? Apakah kita paham mengapa dan bagaimana orang-orang mengubah pemikirannya tentang perubahan iklim? Adakah yang bisa kita lakukan untuk mengajak mereka?

Ini adalah 3 pertanyaan signifikan. Pertanyaan-pertanyaan bisa dijawab terpisah, tapi dalam konteks sains iklim, ini adalah trilogi yang sangat kuat.

Kita memahami dunia dan peran kita dengan menciptakan narasi yang memiliki kekuatan penjelasan, yang menjelaskan kompleksitas kehidupan, dan yang memberi kita tujuan dan tempat.

Narasi ini bisa berbentuk politik, sosial, religius, sains atau budaya dan membantu menjelaskan pemahaman identitas dan rasa berada.

Yang terpenting, narasi-narasi ini menghubungkan pengalaman kita dan membantu kita menemukan kesinambungan dan makna.

Narasi-narasi ini bukan sekadar hal sepele. Narasi membantu kita membentuk ola kognitif dan emosi yang stabil yang tahan terhadap perubahan dan berpotensi berlawanan dengan agen perubahan (seperti orang-orang yang mencoba membuat kita berubah pikiran tentang sesuatu yang kita yakini).

Jika informasi baru yang mengancam kesinambungan pemahaman kita, jika kita tidak bisa menyerap itu ke dalam kepercayaan kita yang sudah ada tanpa membuat gangguan kognitif atau emosional, maka kita akan mencari alasan untuk meminimalkan atau menghiraukannya.

Berselisih satu sama lain

Mari kita lihat lihat pemilihan presiden AS dan para pendukung Donald Trump dan Joe Biden.

Terbelahnya populasi berdasarkan pandangan yang sulit untuk didamaikan merupakan hasil dari perbedaan narasi.

Pendukung Trump memegang spanduk 'Dead people voting' dan pendukung Biden dengan banner 'Hey Donald, you're fired'.
Pandangan yang sangat berbeda dari pendukung Donald Trump dan Joe Biden dalam pemilihan presiden. Ringo H W Chiu/AP Photo

Masing-masing pihak menginterpretasi peristiwa dari lensa kepercayaan yang sudah ada sebelumnya yang menjadi menentukan dalam mengartikan informasi baru.

Mereka mungkin bisa melihat hal yang sama, tapi mereka memahami dengan sangat berbeda.

Informasi dari salah satu pihak yang menolak klaim dari pihak lain akan dianggap sebagai konspirasi atau kebohongan yang disengaja; apa pun akan dilakukan agar tidak terpancing dan mengasimilasi klaim pihak lain itu.

Lebih lagi, terkadang kita beranggapan bahwa orang lain tidak memiliki pandangan yang sama dengan kita karena mereka memiliki kekacauan persepsi atau kognisi yang membatasi kemampuan mereka untuk melihat hal-hal yang jelas dalam pandangan kita.

Kan kalau mereka bisa melihat dengan jelas, mereka seharusnya setuju dengan kita?!

Penolakan sains perubahan iklim

Sains perubahan iklim adalah tipikal contoh untuk efek seperti ini.

Tidak hanya narasi yang sangat berbeda yang digunakan orang untuk menggambarkan diri mereka sendiri dan satu sama lain, tapi misinformasi yang diproduksi oleh organisasi media dan korporasi dirancang untuk memberikan dan memperkuat narasi yang ada untuk tujuan menciptakan keraguan dan perbedaan pendapat.

Lebih buruk lagi, akibat meningkatnya polarisasi lingkungan politik di berbagai bagian dunia dan intensifikasi dari yang disebut sebagai perang budaya, sikap terkait topik-topik yang tadinya menyebar dalam dalam spektrum politik dan ideologis sekarang dikelompokkan.

Tanda di pagar di AS bertuliskan 'Trump: COVID and climate denier'.
Bukan hanya satu, tapi 2 penolakan. Phil Pasquini/Shutterstock

Sebagai contoh, penolakan terhadap sains perubahan iklim dihubungkan dengan penolakan COVID-19.

Kami menemukan posisi dari sains iklim sangat berkorelasi satu sama lain, lebih dari sekadar ideologi dasar.

Kini, dengan melihat opini seseorang dalam suatu topik, kita semakin mudah untuk memprediksi apa kira-kira opini dia dalam topik-topik dalam kelompok ideologi politik yang sama.

Narasi menjadi lebih inklusif; politik sains iklim tidak lagi hanya berbicara tentang sains.

Keyakinan dalam sains iklim tidaklah hitam-putih. Ada banyak nuansa kepercayaan di sini.

Tapi, semua ini tidak berarti orang kebal untuk mengubah pandangan mereka, bahkan ketika mereka terikat dengan identitas pribadi mereka.

Kita bisa berkomunikasi dengan orang… dan mengubah pemikiran mereka

Daryl Davis, seorang musisi, aktor, dan penulis AS adalah seorang pria kulit hitam yang mampu membuat puluhan anggota Ku Klux Klan, termasuk pemimpin nasional, untuk meninggalkan dan mengecam organisasi tersebut.

Daryl melakukan hal tersebut dengan mengajak mereka berdialog dan akhirnya berteman dengan mereka, secara tulus memahami pandangan dan asumsi mereka.

Baginya, saling menghormati dan keinginan memahami kondisi satu sama lain sangat diperlukan untuk kedamaian dan penyatuan pandangan.

Apa yang Daryl hormati adalah prinsip dasar atas kepentingan publik, atau kepentingan bersama.

Jika kita berharap orang lain untuk bergabung untuk suatu hal atau tindakan, kita tidak cukup harus memiliki alasan yang masuk akal bagi kita, namun juga harus bermakna bagi orang lain.

Bila tidak, upaya kita memberikan penjelasan tentang penalaran kita tidak akan menjadi lebih dari sekadar pernyataan.

Menciptakan makna bersama melalui penalaran bersama membutuhkan dialog yang saling menghargai dan pemahaman mendalam serta apresiasi terhadap pandangan dunia satu sama lain.

Jangan melupakan kebenaran

Mencoba memahami bagaimana seseorang berpikir bukan berarti berkompromi tentang segala hal. Kebenaran tetap penting.

Tanda protes'Denial is not a policy'.
Demonstrasi melawan penolakan perubahan iklim. Michael Coghlan/Flickr, CC BY-SA

Untuk perubahan iklim, kita tahu bahwa planet memanas, dan konsekuensi pemanasan ini sangat serius dan manusia memiliki kontribusi yang signifikan.

Manusia selalu ingin menganggap diri sebagai makhluk rasional, dan itu benar.

Namun, rasionalitas tersebut tidak menghilangkan konteks emosional. Bahkan, kita nampaknya membutuhkan emosi untuk menjadi rasional.

Untuk alasan ini, semata-mata menghadirkan fakta tidak akan bisa meyakinkan banyak orang seperti yang kita inginkan.

Namun, menyampaikan fakta dengan rasa hormat, pemahaman dan cinta kasih bisa menjadi sangat persuasif.


Wiliam Reynold menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,100 academics and researchers from 3,789 institutions.

Register now