Menu Close

Curious Kids: bagaimana virus berhenti?

Fakhri Hermansyah/Antara Foto

Bagaimana sebuah virus berhenti? - Angela Gaganis, kelas 1, Adelaide, Australia


Apakah virus terus-menerus berkembang biak tanpa henti? Pertanyaan yang bagus, Angela.

Ini bisa membingungkan saat beberapa orang - termasuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump - mengatakan bahwa virus COVID-19 ini akan hilang dengan sendirinya.

Jawaban singkat adalah walau beberapa virus perlahan menghilang, sebagian besar virus tidak hilang begitu saja.

Virus sebenarnya sangat pintar mencari cara bersembunyi, menunggu kesempatan untuk datang kembali.

Beberapa virus memang hilang

Kamu mungkin sudah tahu bahwa beberapa virus menyebabkan penyakit flu. Kamu mungkin belum tahu bahwa semua virus flu yang menginfeksi manusia hingga kira-kira 120 tahun yang lalu saat ini sudah hilang (atau “sudah punah” kalau menggunakan istilah ilmuwan).

Beberapa virus yang lebih baru juga sudah hilang.

Contohnya, virus yang menyebabkan wabah buruk pada 1957, yang menewaskan 100.000 orang di AS, kini sudah hilang.

Army workers wearing masks in Seattle, USA, 1918
Flu Spanyol sebagian besar telah hilang, tapi COVID-19 sepertinya akan tetap bersama kita untuk waktu yang lama. Shutterstock

Sebuah virus yang telah menyebabkan penyakit mengerikan bernama “Flu Spanyol” adalah contoh lain lagi. Pada 1918, virus ini menyebabkan wabah di seluruh dunia (pandemi) dan banyak orang meninggal.

Di Pulau Jawa, penyakit ini membunuh lebih dari 900.000 orang pada 1918 dan 1919.

Virus terus muncul di sejumlah tempat hingga 1921. Namun saat itu, banyak orang telah memiliki imunitas melawan Flu Spanyol karena tubuh mereka telah belajar melawannya. Ini berarti penyakit itu tidak terus-menerus menyebar seperti pandemi, tapi hanya muncul sesekali di tempat-tempat berbeda saja.

Karena itulah, galur virus yang menyebabkan pandemi itu sebagian besar telah hilang.

Bisakah kita menyingkirkan virus COVID-19 juga?

Kadang kita berusaha untuk membuat virus punah dengan sengaja. Umumnya kita menggunakan vaksin untuk melakukan itu.

Vaksin telah membantu kita menyingkirkan sebuah virus bernama cacar, yang dulu merupakan salah satu penyakit paling mengerikan di dunia.

Vaksin juga diharapkan mampu menghabisi virus polio dan campak.

Ilmuwan sedang berusaha sekuat tenaga untuk membuat vaksin COVID. Bahkan, bisa jadi kita akan memiliki beberapa jenis vaksin untuk melawan virus COVID.

Vaksin ini akan sangat membantu kita, tapi mungkin tidak sepenuhnya menghentikan virus. Ini artinya beberapa orang mungkin akan tetap terinfeksi, tapi tidak sebanyak sebelumnya.


Read more: The original Sars virus disappeared – here's why coronavirus won’t do the same


Situasi mirip dengan yang terjadi dengan penyakit lain, yaitu flu babi, yang muncul sekitar 11 tahun lalu. Penyakit itu berbeda dengan galur flu lain, sehingga menyebar luas dan menyebabkan pandemi. Hal yang sama saat ini terjadi dengan COVID.

Sekitar sepersepuluh orang di dunia) terinfeksi virus flu babi sebelum ilmuwan menemukan vaksin.

Setahun kemudian, setelah vaksin ada, orang yang terkena flu babi terus berkurang. Virus flu babi tidak hilang - virus ini masih bersembunyi dan siap menginfeksi kembali. Tapi karena kita telah memiliki vaksin, tidak banyak orang yang sakit.

Bagaimana dan kapan COVID akan berakhir?

SARS adalah virus yang mirip dengan COVID. SARS diidentifikasi pada 2003 dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang. Tapi sejak 2004, SARS tidak pernah terdeteksi lagi pada manusia.

Kita menyingkirkan SARS lewat beberapa usaha, termasuk isolasi dan karantina.

Kita menggunakan upaya yang sama untuk melawan COVID. Lalu kenapa kita belum berhasil menyingkirkan COVID?

Salah satu masalah terbesar adalah COVID bisa menyebar tanpa menyebabkan orang merasa sakit. Ini artinya, kita bisa menyebarkan virus walau kita tidak batuk atau hidung kita tidak tersumbat.

Karena alasan inilah, beberapa ilmuwan mengatakan bahwa kita tidak akan mampu sepenuhnya menyingkirkan virus COVID.

Alih-alih, COVID akan menjadi penyakit yang membuat beberapa orang sakit setiap tahun, mirip dengan flu. COVID hampir pasti akan bersama kita untuk waktu yang lama, bahkan setelah pandemi berakhir.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,900 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now