Menu Close
Penduduk Bali menyaksikan adu ayam jago, Maret 2016. Zahirul Alwan/Shutterstock

Daya tarik riset eksotis di Indonesia bagi periset luar negeri dan pembelajaran bagi peneliti lokal

Indonesia merupakan laboratorium raksasa bagi keanekaragaman hayati dan sosial budaya yang menarik para peneliti global. Di negeri ini, mereka kerap mengeksplorasi topik-topik riset lapangan yang kurang diperhatikan oleh peneliti dalam negeri.

Data Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia menunjukkan kini makin banyak peneliti asing menjadikan Indonesia sebagai “objek” riset. Pada 2005, izin riset yang dikeluarkan kementerian ini ada 208 judul. Sepuluh tahun kemudian, izin serupa menjadi lebih dua kali lipat, mencapai 537 judul.

Sayangnya, seperti kata seorang peneliti Indonesia bahwa yang memanfaatkan “surga” tempat riset tersebut itu bukan orang Indonesia. Padahal, beberapa riset orang asing di Indonesia melahirkan teori baru dan berkontribusi dalam perdebatan ilmiah global, bahkan ada yang mendapat Hadiah Nobel bidang ekonomi.

Riset hewan eksotis dan manusia

Salah satu jenis riset yang menarik peneliti asing adalah kegiatan sosial untuk mengisi waktu luang seperti adu ayam jago, karapan sapi, balapan burung dara, dan adu bagong (babi hutan).

Mereka menganggap kegiatan-kegiatan ini eksotis dan menjadi bagian dari pesona Dunia Ketiga. Riset mereka di wilayah negeri ini kadang memunculkan teori baru dalam konteks interaksi manusia, masyarakat, dan hewan-hewan tersebut.

Antropolog kondang Amerika Serikat Clifford Geertz, misalnya, menjadi begitu kesohor karena berhasil menunjukkan adanya maskulinitas dan kepahlawanan orang-orang di balik sabung ayam di Bali pada akhir 1950-an. Belakangan, riset Geertz ini ditindaklanjuti oleh antropolog dari Universitas Stockholm John Lindquist yang pada 2007 membandingkan studi mengenai adu ayam di Bali (oleh Geertz) dengan adu ayam di Kepulauan Riau.

Ada pula peneliti dari Belanda, Marjon Schultinga, yang mengaitkan perilaku impor sapi dari peternak di Madura dengan tradisi perlombaan karapan sapi. Ia menggambarkan bahwa tradisi karapan sapi memegang peranan besar untuk mendorong para peternak tersebut mengupayakan kawin silang dengan sapi impor pada hewan ternaknya. Peternak berharap mendapat pemasukan serta posisi sosial yang lebih baik di masyarakat setelah memenangkan kompetisi tersebut.

Hampir bersamaan dengan riset tradisi karapan sapi, Leyla Stevens dari University of Technology Sydney, Australia meneliti tentang ekspresi maskulinitas masyarakat Jawa dalam permainan balapan burung dara. Temuan ini diambil setelah dia meneliti kelompok pemuda di Yogyakarta yang melatih burung dara untuk balapan. Latar belakang sosial ekonomi kelas bawah disebutkan mendorong pemuda-pemuda tersebut untuk membuat pilihan adu burung dara sebagai ajang untuk menunjukkan sifat kelaki-lakian mereka.

Mereka membuktikan bahwa dalam ilmu sosial, penelitian yang langsung turun ke lapangan dan bertemu dengan masyarakat sangat penting untuk memperkaya pengalaman peneliti. Pengalaman peneliti menjadi bagian dari kehidupan masyarakat akan memperkuat teori-teori sosial yang dikembangkan.

Mereka dapat melakukan riset dengan mengamati kegiatan sosial dan mendengarkan warna percakapan dan intonasi yang digunakan masyarakat dalam kesehariannya. Pengamatan tersebut juga mendorong peneliti untuk merasakan seperti apa peran mereka ketika menjadi bagian dari kegiatan masyarakat yang berlangsung.

Semua kegiatan masyarakat yang melibatkan mereka tersebut berlangsung tanpa rekayasa dan menjadi ladang pengetahuan untuk menggali kebudayaan Indonesia.

Masalah desain riset dalam negeri

Meskipun peneliti Indonesia berada di pusat laboratorium raksasa, hasil-hasil riset mereka kurang berkontribusi pada produksi penelitian ilmu sosial global karena adanya masalah desain riset dalam negeri.

Selama ini desain riset mereka hanya untuk kepentingan birokrasi yang berkuasa.

Ini belum termasuk masalah panjang dan ruwetnya birokrasi yang harus ditempuh untuk dapat izin riset lapangan, termasuk pada isu-isu eksotis.

Sebuah riset lapangan pada 2015 di lima universitas negeri di Indonesia menguatkan hal tersebut. Selain terkotak kotak, riset lapangan tersebut menunjukkan peneliti juga tidak mempunyai rencana jangka panjang studi. Riset yang dilakukan banyak memiliki kemiripan dan cenderung menjadi rutinitas biasa, jangka pendek, praktis dan tidak menjawab persoalan utama di lapangan. Padahal, riset jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan terobosan dan solusi jangka panjang.

Ditambah dengan adanya pendanaan yang terbatas, banyak kegiatan penelitian pada akhirnya lebih fokus pada studi literatur, percobaan laboratorium, bongkar-pasang rumus, dan penelitian di kelas.

Contoh riset eksotis yang bisa digarap

Padahal ada banyak riset eksotis yang bisa digarap oleh peneliti Indonesia.

Pada 2007 saya terlibat dalam riset yang dilakukan Lembaga Penelitian Ekologi Universitas Padjadjaran dalam pemetaan sosial pada masyarakat sekitar yang tinggal di daerah sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap Chevron di tiga kabupaten (Sukabumi, Bogor, dan Garut).

Ketika di lapangan untuk riset ini, saya bertemu tiga generasi pemburu babi hutan.

Selama proses riset tersebut, saya menemukan bahwa penelitian mengenai berburu babi hutan merupakan contoh penelitian yang eksotis dan memberikan banyak perspektif baru bagi ilmu sosial. Meski mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan berkebun, kegiatan memburu babi hutan dan melatih anjing-anjing pemburu babi hutan juga merupakan fokus utama mereka.

Hasil dari penjualan anjing-anjing terlatih ini kadang memberikan pemasukan lebih besar daripada penjualan hasil bumi. Tak hanya melatih anjing, klan pemburu babi hutan juga menyilangkan keturunan beberapa jenis anjing yang dilatih untuk mendapat keturunan anjing yang tangguh saat saat berhadapan dengan babi hutan.

Riset sejenis juga pernah dilakukan oleh Zainal Arifin dari Universitas Andalas< Sumatra Barat pada 2009-2012. Risetnya menunjukkan bagaimana berburu babi dijadikan sebagai media politik identitas bagi laki-laki Minangkabau dalam mengukuhkan dan memperkuat identitas mereka di tengah dominasi matriarkat masyarakat Minangkabau.

Keberhasilan dalam berburu (yang kadang hasil buruannya ditinggalkan sekarat di hutan) untuk menunjukkan sifat kelaki-lakian yang kuat kepada anggota masyarakat yang ikut perburuan.

Lalu juga ada hasil riset Pattiselanno dan Mentansan dari Universitas Negeri Papua pada 2009-2010 yang menunjukkan praktik kearifan tradisional Suku Maybrat Papua seperti penggunaan alat buru, tempat berburu, dan jenis satwa yang diburu, yang secara tidak langsung memberikan dampak positif dalam mendukung upaya pelestarian satwa di Sorong Selatan. Ada kepercayaan turun-temurun di masyarakat bahwa ada tempat tertentu di hutan yang bersifat sakral, sehingga kegiatan perburuan dilarang di sini.

Kegiatan berburu dilihat sebagai tambahan kegiatan ekonomi, bagian dari olah raga berburu, pengelolaan sumber daya makanan, dan perlawanan politik.

Dan Indonesia adalah surga riset semacam itu.

Ruang terbuka untuk peneliti bertemu dan berbagi ide penelitan tersebut menjadi hal yang sangat penting untuk diciptakan. Baik itu dalam bentuk ruang digital ataupun tatap muka. Harapannya adalah tercipta koordinasi lebih baik untuk pengelola pendanaan riset agar peneliti dapat menjelajahi lebih luas taman firdaus tersebut.

Agar peneliti lokal, seperti periset global, punya kesempatan mengeksplorasi laboratorium raksasa dari ujung timur hingga barat Indonesia.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 133,500 academics and researchers from 4,151 institutions.

Register now