Menu Close

Digital babysitting: balita terlalu lama nonton layar ponsel bahayakan kesehatan mereka

Lama paparan layar digital pada anak-anak sebaiknya kurang dari satu jam per hari. Andrea Piacquadio/Pexels.com

Orang tua sebaiknya mengurangi paparan layar smartphone pada anak di bawah lima tahun jika ingin anak-anaknya lebih sehat.

Sebab, memberi anak-anak balita smartphone alih-alih membuat mereka melek teknologi, yang terjadi justru membuat mata anak lelah dan berpotensi merusak kesehatan mereka dalam jangka panjang.

Sebuah riset di Yoyakarta dengan sampel 227 anak pada 2017 menunjukkan anak prasekolah yang terpapar penggunaan gadget yang tinggi berisiko 1,3 kali lebih besar mengalami kelebihan berat badan. Dari riset itu tampak bahwa semakin lama screen time (dengan demikian kurang gerak fisik), maka semakin besar indeks massa tubuh anak atau berat badan berlebih.

Berat badan berlebih sejak dini menyebabkan jumlah sel lemak yang terbentuk relatif banyak. Hal ini berakibat tingginya risiko obesitas saat remaja hingga dewasa.

Obesitas merupakan faktor risiko penyakit kencing manis, hipertensi, penyakit jantung koroner dan radang sendi. Menimbang dampak-dampak tersebut, orang tua sebaiknya mengurangi atau menghindari paparan screen pada balita.

Layar screen yang masif

Kebiasaan anak duduk tenang di depan layar digital disebut digital babysitting. Kini, apalagi pada pada era kerja dari rumah karena pandemi, memberi anak ponsel memang populer untuk mengatasi masalah perilaku anak agar mereka tidak mengusik aktivitas orang tua. Selain telepon pintar, paparan layar digital juga bisa melalui televisi dan komputer.

Peningkatan screen time, waktu paparan layar media digital (ponsel, laptop dan TV) per hari, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk pola asuh orang tua terhadap anak berusia kurang dari lima tahun.

Sebuah survei di Brasil, misalnya, menyatakan 1 dari 5 anak berusia 3-5 tahun menonton layar smartphone, laptop atau televisi lebih dari tiga jam sehari. Survei ini juga membuktikan bahwa lamanya durasi (screen time) ini dipengaruhi oleh tingginya screen time orang tua juga. Hal ini berbahaya karena layar digital atau komputer memiliki cahaya yang cukup kuat dan cepat membuat mata lelah dan perih.

Masalah paparan screen itu dipicu oleh langkah orang tua sendiri. Misalnya, sebuah survei pada 2.400 orang tua di beberapa negara secara online, menyatakan 1 dari 4 orang tua memberikan gawai kepada anak balita. Alasannya, antara lain, orang tua khawatir anaknya ketinggalan zaman teknologi dan itu praktis menenangkan balita terutama bila ada aktivitas lain yang perlu dilakukan.

Penggunaan ponsel ini berkaitan erat dengan lamanya screen time pada masyarakat secara umum. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika, misalnya, menyatakan dua dari tiga orang Indonesia menggunakan smartphone. Sekitar 55% dari pengguna smartphone melihat smartphone lebih dari 3 jam per hari, baik untuk melihat media sosial, telepon, chatting maupun menonton video.

Fase mendapat kenikmatan

Fase perkembangan anak yang cukup menantang dan memerlukan banyak waktu adalah fase balita. Ini fase perkembangan aktif dari seorang manusia.

Seiring dengan tingginya rasa ingin tahu dan siapnya fungsi pergerakan balita, aktivitas motorik balita cenderung tinggi. Perilaku ini didasari oleh perkembangan salah satu sistem otak balita, yakni sistem dopamin. Sistem ini merupakan sistem otak yang berfungsi sebagai pusat kenikmatan. Sistem ini bertugas memastikan nikmat atau tidaknya sebuah kegiatan atau situasi.

Pada keadaan normal, sistem ini akan teraktivasi ketika seseorang berolahraga atau menguasai suatu konsep atau kegiatan lain yang dipersepsikan menyenangkan oleh manusia itu. Perkembangan sistem dopamin ini melandasi aktifnya seorang anak balita.

Sehubungan dengan keinginan kuat untuk eksplorasi lingkungannya, anak akan merasakan kepuasan bila rasa ingin tahunya terpenuhi. Anak akan berperilaku mengikuti orang tua ke mana pun. Ia akan bereksperimen dengan segala benda yang ia lihat sehingga ia akan cenderung membuat keadaan tempat tinggal berantakan.

Orang tua yang tidak memahami keadaan ini akan cenderung kewalahan dan berharap anaknya tenang. Pada titik itulah, orang tua kerap “menenangkan” anaknya dengan memberinya telepon pintar yang yang tersambung ke internet.

Balita, umumnya, cepat tenang melihat tontotan interaktif di YouTube dan game di layar digital. Hal yang jarang disadari adalah paparan dini ini memiliki dampak negatif baik jangka pendek maupun jangka panjang pada anak.

Selain berdampak negatif dalam jangka pendek, seperti mata anak-anak lelah, dalam jangka panjang digital babysitting juga dapat menimbulkan masalah fungsi kognitif khususnya fungsi eksekutif-kemampuan memecahkan masalah- dan kesehatan fisik yang terganggu karena obesitas.

Orang dengan fungsi eksekutif yang baik akan cenderung dapat melihat peluang, kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, mengingat pengalaman terkait sehingga dapat mengambil keputusan untuk memecahkan masalah.

Melihat screen berlebih merupakan aktivitas yang dapat meningkatkan kenikmatan (aktivasi sistem dopamin) secara cepat dibanding aktivitas lain seperti bersosialisasi dan aktivitas fisik. Balita dengan screen time tinggi akan cenderung memilih untuk melihat screen dibanding aktivitas lain seperti bermain dengan boneka atau alat bermain lainnya.

Kebiasaan mendapatkan kenikmatan secara praktis dan segera seperti melihat screen ini membuat anak tidak perlu menggunakan fungsi eksekutifnya untuk mendapatkan kenikmatan belajar atau pemecahan masalah sehingga fungsi eksekutif tidak terbiasa digunakan untuk mendapatkan kenikmatan.

Paparan screen akan membiasakan balita untuk lebih menikmati layar digital dibanding interaksi sosial atau aktivitas fisik. Alasan ini juga menjadi dasar untuk dampak kesehatan fisik balita.

Karena itu, ahli kesehatan anak dan psikolog tidak merekomendasikan digital babysitting karena alasan-alasan tersebut.

Sebaliknya, interaksi sosial dan aman antara anak dan orang tua merupakan hal yang direkomendasikan demi perkembangan kognitif, kesehatan fisik dan keterampilan sosial anak.

Maksimal 1 jam per hari

Fase balita merupakan fase penting untuk perkembangan berbahasa yang akan menjadi fungsi sosial.

Karena itu Akademi Pediatrik Amerika (AAP) tidak merekomendasikan adanya paparan layar digital ke anak-anak. AAP merekomendasikan agar balita lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkomunikasi dua arah.

Kalau terpaksa melakukannya, APP merekomendasikan untuk membatasi screen time pada balita (2-5 tahun) maksimal satu jam per hari. Itu pun dengan konten yang benar-benar mendidik balita dan didampingi atau ditonton bersama oleh orang tua, sehingga balita tidak merasa sendirian.

Lebih sehat jika orang tua mengajak balita untuk mengidentifikasi perasaan tidak enak, melakukan aktivitas lain dalam mengatasi kebosanan, menenangkan diri dengan fokus pada napas, membicarakan cara mengatasi masalah dan mencari cara lain untuk menyalurkan emosi.

Dengan cara ini, orang tua menjadi tempat yang aman bagi balita untuk menyalurkan emosi.

Kita perlu mengubah aktivitas anak ke arah yang lebih sehat.

Aktivitas permainan yang tidak berhubungan dengan layar digital akan membuat balita menjadi lebih kreatif dan tidak memiliki kebiasaan mencari kesenangan dengan melihat layar digital.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,900 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now