Menu Close

Dua alasan mengapa Cina perlu memperbanyak bantuan ke Indonesia untuk penanganan COVID-19

Seorang perempuan yang mengenakan masker sedang menunggu kereta di sebuah stasiun di Medan, Sumatra Utama. Dedi Sinuhaji/EPA

COVID-19 telah menyebar luas di Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki tingkat kematian tertinggi di Asia Tenggara hanya beberapa minggu setelah pemerintah menyatakan Indonesia bebas dari COVID-19.

Para ahli memprediksi bahwa COVID-19 akan menginfeksi 70.000 orang Indonesia setelah Ramadan dan Idul Fitri, saat jutaan orang biasanya mudik ke kota asal mereka.

Di tengah situasi ini, mitra terbesar Indonesia, Cina, yang telah berhasil menurunkan jumlah kasus COVID-19 hingga ke angka nol, telah mengirim 40 ton bantuan medis ke Indonesia. Bantuan tersebut berupa masker sekali pakai, masker N-95, pakaian pelindung, kacamata, sarung tangan, penutup sepatu, termometer inframerah dan topi bedah.

Presiden Cina Xi Jinping juga telah menyatakan komitmen negaranya untuk membantu Indonesia memerangi pandemi COVID-19.

Meskipun langkah tersebut patut diapresiasi, Cina harus meningkatkan jumlah dan jenis bantuannya ke Indonesia dengan juga mengirimkan staf medis yang berpengalaman dan teknologi pengetesan. Cina juga bisa membagi keberhasilannya dalam menerapkan karantina wilayah yang efektif seperti yang terjadi pada kasus Wuhan.

Langkah-langkah tersebut juga bisa membantu Cina untuk melindungi kepentingan ekonominya di Indonesia dan membangun kembali citra baiknya.

Kepentingan ekonomi

Cina saat ini sedang menghadapi beberapa permasalahan ekonomi yang disebabkan oleh wabah virus penyebab COVID-19. Masalah tersebut termasuk penurunan pertumbuhan ekonomi, pengangguran yang meningkat, utang yang tertambah, dan angka kemiskinan yang bertumbuh.

Beberapa saat setelah COVID-19 menghantam Wuhan, kondisi ekonomi Cina tampaknya membaik, tapi para ahli ekonomi terus memangkas proyeksi mereka terhadap perekonomian Cina. Mereka juga memperkirakan perbaikan kondisi ekonomi Cina tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Perekonomian dan kehidupan di luar rumah perlahan-lahan kembali normal di Yinchuan, Cina, ketika pandemi COVID-19 menurun. Thibaud Mougin/SOPA Images/Sipa USA

Ketika ekonomi Amerika Serikat dan Eropa terhuyung-huyung akibat pandemi COVID-19, nilai ekspor Cina juga diprediksikan akan jatuh.

Indonesia yang merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dapat menjadi salah satu mitra yang dapat membantu memperbaiki kondisi perekonomian Cina. Cina adalah importir terbesar ke Indonesia dengan nilai US$34,3 miliar atau setara dengan Rp543 triliun dan juga merupakan tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia.

Bagi Cina, Indonesia merupakan pintu gerbang ke pasar ASEAN yang lebih luas. Persaingan antara Cina dan Amerika Serikat terus mendorong Cina untuk membangun hubungan kuat dengan negara-negara tetangga.

Cina juga harus membantu Indonesia karena semua proyek investasi besarnya di Indonesia telah ditunda karena pandemi.

Beberapa investasi Cina yang ada di Indonesia adalah Taman Industri Morowali dengan nilai investasi US$1,63 miliar di Sulawesi dan proyek kereta cepat Bandung-Jakarta dengan nilai investasi US $5,5 miliar. Penangguhan sementara investasi ini sebagian besar disebabkan karena banyak pekerja Cina yang tidak dapat kembali ke Indonesia. Alasan lain karena pemerintah Indonesia telah memerintahkan warganya untuk tetap tinggal di rumah.

Proyek besar infrastruktur Cina di berbagai dunia, yang dikenal dengan sebutan Belt and Road Initiative (BRI) dan merupakan inisiatif penting untuk memperbaiki berbagai masalah ekonomi di China bisa mengalami penundaan lebih lanjut dan molor dari target untuk selesai pada 2049 jika pandemi COVID-19 di negara-negara sepanjang rute BRI termasuk Indonesia berlanjut atau bahkan memburuk.

Meningkatkan citra Cina di dunia

Citra Cina di tingkat global telah rusak dengan adanya persepsi bahwa virus COVID-19 “berasal dari Cina

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Seperti halnya Presiden AS Donald Trump, beberapa orang Indonesia menggunakan istilah “Virus Cina” dalam menyebut COVID-19.

Sebuah lembaga yang berbasis di London, Inggris Henry Jackson Society, telah menyusun sebuah laporan yang berjudul ‘Coronavirus Compensation?’. Laporan tersebut akan dijadikan landasan untuk menuntut triliunan dolar dari Cina “karena telah menutup-nutupi pandemi coronavirus yang telah menyebabkan lebih dari 60.000 kematian dan kerusakan ekonomi triliunan dolar.”

Indonesia dan negara-negara lain, seperti India, juga sudah berpikir untuk menuntut Cina.

Memberikan bantuan pada Indonesia bisa membantu Cina untuk mengubah narasi yang ada saat ini dan memperbaiki citranya di Indonesia.

Menghilangkan sentimen anti-Cina yang telah mengakar di Indonesia mungkin tidak mudah. Namun, dengan membantu Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19, Cina setidaknya dapat mencoba mengurangi sentimen tersebut.

Peralatan kesehatan dari Cina mendarat di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Indonesia pada 23 Maret 2020. Kuncoro Widyo Rumpoko/Pacific Press/Sipa USA

Pemberian bantuan kesehatan juga akan memperkuat strategi Cina dalam sektor pendidikan dan sektor budaya guna meningkatkan kekuatan lunaknya (soft power) di Indonesia.

Indonesia membutuhkannya

Situasi COVID-19 di Indonesia yang semakin parah saat ini menunjukkan negara ini memerlukan bantuan dari negara lain, termasuk dari Cina.

Dengan virus yang telah menyebar ke hampir semua provinsi di Indonesia, penanganan COVID-19 di Indonesia masih serampangan.

Awalnya Indonesia melihat sepele wabah COVID-19 ini. Padahal, dengan jutaan orang yang berisiko terinfeksi, Indonesia belum memiliki fasilitas yang baik untuk merawat mereka.

Ketika negara-negara lain telah melakukan karantina wilayah untuk mempersempit penyebaran coronavirus, Indonesia justru enggan untuk menerapkannya. Pemerintah akhirnya memberikan persetujuan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau hampir sama dengan karantina wilayah meski dalam aturan yang lebih longgar di beberapa daerah karena pertimbangan ekonomi.

Kondisi di Indonesia diperburuk dengan keberadaan fasilitas dan staf medis terbatas.

Banyak tenaga medis yang mengeluh tentang keterbatasan peralatan tidak hanya untuk pasien COVID-19 tapi juga bagi mereka yang harus merawat pasien setiap hari.

Lima asosiasi tenaga medis Indonesia juga telah mengancam akan menolak pasien COVID-19 jika pemerintah tidak menjamin ketersediaan peralatan perlindungan pribadi bagi mereka.

Keadaan tersebut diperparah dengan jumlah tenaga medis yang terbatas dalam menangani pasien COVID-19. Dan sampai hari ini, pemerintah belum memberikan pelatihan khusus untuk para tenaga medis.

Pada saat yang sama, Indonesia masih belum mampu mengidentifikasi secara tepat dan benar individu terinfeksi oleh COVID-19. Saat ini masih ditemukan ketidaksesuaian data antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait jumlah individu yang terinfeksi coronavirus.

Indonesia jelas membutuhkan bantuan dalam penanganan pandemi COVID-19 di negaranya dan Cina, negara yang telah berhasil menekan jumlah infeksi COVID-19 dan memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Indonesia, seharusnya bisa memberikan pertolongan.

Artikel ini ditulis bersama dengan Dimas Rizki Permadi, alumni Universitas Islam Indonesia

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 122,600 academics and researchers from 3,932 institutions.

Register now