Dua jenis aktivitas lempeng tektonik menimbulkan gempa bumi dan risiko tsunami di Lombok

Gempa dangkal namun kuat yang melanda Lombok telah menyebabkan hancurnya gedung-gedung dan sekitar 100 korban jiwa. EPA/AAP

Dua jenis aktivitas lempeng tektonik menimbulkan gempa bumi dan risiko tsunami di Lombok

Beberapa gempa besar melanda Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat minggu kemarin. Gempa terbesar dari rangkaian guncangan minggu lalu menewaskan setidaknya 98 orang dan melukai ratusan lainnya.

Ribuan bangunan rusak dan upaya pertolongan terhambat akibat putusnya aliran listrik, tidak adanya sinyal telepon di beberapa daerah, dan terbatasnya opsi untuk evakuasi.

Kebanyakan gempa besar terjadi di pertemuan lempeng tektonik Bumi atau sekitarnya–begitu pun dengan gempa yang baru terjadi tersebut. Meski begitu terdapat beberapa kondisi yang unik di pada kasus Lombok.

Gempa yang baru-baru ini terjadi berlangsung di sepanjang sebuah zona spesifik di mana lempeng tektonik Australia mulai bergerak di atas lempeng kepulauan Indonesia, bukan di bawahnya, sebagaimana yang terjadi di selatan Lombok.

Hal ini berarti terdapat risiko gempa dan tsunami tak hanya pada pertemuan lempeng di selatan Lombok dan Bali, tapi juga dari zona yang menyesar ke utara ini.


Read more: Apakah gempa di Lombok bisa pengaruhi aktivitas gunung api di sekitarnya?


Mampatnya zona subduksi

Lempeng tektonik adalah lempengan kerak Bumi yang bergerak dengan sangat perlahan di seluruh permukaan planet kita. Indonesia berada di sepanjang “Cincin Api Pasifik”, di mana beberapa lempeng tektonik bertabrakan dan banyak terjadi letusan gunung berapi serta gempa bumi.

Beberapa dari gempa yang terjadi sangat besar, seperti gempa berkekuatan 9,1 skala richter di lepas pantai barat Sumatra yang menghasilkan tsunami di Samudra Hindia pada 2004. Gempa tersebut terjadi di sepanjang zona subduksi Jawa-Sumatra, di mana lempeng tektonik Australia bergerak di bawah lempeng Sunda di Indonesia.

Pasien rumah sakit diungsikan ke tenda darurat setelah gempa melanda utara Lombok. EPA/AAP

Namun menuju bagian timur dari pulau Jawa, zona subduksinya telah “mampat” oleh kerak benua Australia, yang lebih tebal dan lebih ringan dari lempeng Oceanic yang bergerak di bawah Jawa dan Sumatra.

Lempeng benua Australia tidak bisa didorong ke bawah Lempeng sunda, sehingga ia mulai berjalan di atasnya. Proses ini disebut dengan sesar naik belakang busur.

Data dari gempa Lombok yang baru-baru ini terjadi menunjukkan gempa-gempa tersebut terkait dengan dengan zona busur belakang ini. Zona ini memanjang ke utara dari pulau-pulau yang membentang dari timur Jawa hingga Pulau Wetar, tepat di utara Timor (seperti yang ditunjukkan pada peta di bawah ini).

Bencana gempa bumi di sepanjang pertemuan lempeng di dekat Indonesia. Tanggal yang telihat di peta merujuk gempa-gempa di masa lalu dan Mw menunjukan besarnya gempa. Disunting oleh P. Cummins dari Koulali dan kawan-kawan

Menurut sejarah, gempa-gempa besar juga terjadi di sekitar sesar naik belakang busur di dekat Lombok, tak hanya yang terjadi pada abad ke 19, namun juga yang terjadi baru-baru ini. (Tanggal dan seberapa besarnya gempa di masa lalu tersebut dapat dilihat di peta di atas).

Diperkirakan zona sesar naik belakang busur ini pada akhirnya akan membentuk zona subduksi baru ke utara dari timur Jawa hingga Pulau Wetar di utara Timor.


Read more: Kami menemukan sistem peringatan dini tsunami mutakhir yang lebih cepat


Risiko Tsunami

Gempa di Lombok yang baru-baru ini terjadi–gempa yang berkekuatan 6,9 skala richter pada tanggal 5 Agustus ditambah sejumlah gempa susulan, dan gempa berkekuatan 6,4 skala ricther yang terjadi satu minggu sebelumnya–terjadi di bawah daratan Lombok utara dan gempa tersebut cukup dangkal.

Gempa yang baru-baru ini melanda Lombok juga dirasakan oleh pulau tetangganya, Bali. US Geological Survey

Gempa pada daratan terkadang mampu menyebabkan longsor di bawah laut dan menciptakan gelombang tsunami. Namun jika gempa yang dangkal memecah dasar laut, maka tsunami yang lebih besar dan berbahaya mungkin bisa terjadi.

Banyaknya gempa bumi yang terjadi di pertemuan lempeng menjadikan Indonesia rawan tsunami. Tsunami 2004 di samudra Hindia menewaskan lebih dari 165.000 jiwa di sepanjang pesisir Sumatra, dan pada tahun 2006 lebih dari 600 orang tewas karena tsunami yang melanda pesisir selatan Jawa.


Read more: Paradoks pemberdayaan perempuan Aceh pascatsunami


Wilayah Lombok sendiri memiliki sejarah tsunami. Pada 1992 gempa berkekuatan 7,9 skala ritcher terjadi di utara kepulauan Flores dan meciptakan tsunami yang menyapu desa-desa pesisir, menewaskan lebih dari 2.000 orang.

Gempa yang terjadi pada abad ke 19 di wilayah ini juga menyebabkan tsunami besar yang menewaskan banyak orang.

Wilayah Lombok dan sekitarnya, termasuk Bali, memiliki risiko tinggi gempa bumi dan tsunami, baik di utara ataupun di selatan pulau.

Sayangnya gempa bumi besar seperti yang terjadi minggu kemarin tidak dapat diprediksi sehingga pemahaman akan bahayanya sangat penting untuk mempersiapkan kejadian di masa depan.

This article was originally published in English