Menu Close
Peta El Nino 2023
Peta perbedaan suhu bulanan rata-rata selama Oktober 2023. (Climate.gov)

El Nino 2023 belum berakhir: kekeringan dan kebakaran berisiko semakin parah tahun depan

El Nino yang dimulai pada Juni 2023 membuat cuaca di banyak wilayah Indonesia lebih kering dan mengalami panas menyiksa.

Sejak beberapa bulan lalu, beberapa pihak memprediksi puncak El Nino terjadi pada Agustus-September, dengan intensitas yang lemah-moderat. Ada juga yang menaksir fenomena anomali cuaca ini memuncak pada Oktober, lalu kemudian menurun.

Walau begitu, dengan pengalaman meneliti El Nino lebih dari 15 tahun, saya menyaksikan bagaimana pergerakan El Nino, termasuk puncaknya, semakin sulit diprediksi.

Misalnya, pada 2015 silam, banyak ilmuwan meramalkan El Nino yang terjadi saat itu hanya berlangsung lemah, alias pemanasannya rata-rata per bulan tak melebihi 1,5°C dibandingkan kondisi non-El Nino. Durasinya pun tak melebihi sembilan bulan.

Nyatanya, El Nino 2015 berlangsung kuat dengan pemanasan tertingginya mencapai 3°C. Durasinya pun dua kali lipat lebih panjang dari El Nino lemah, yakni 18 bulan.

Dampaknya luar biasa. El Nino saat itu menyebabkan suhu bumi mencetak rekor terpanasnya. Kebakaran hutan dan lahan menggila, mencapai 2,6 juta ha dengan angka kematian dini akibat paparan asap mencapai 100 ribu jiwa.

Perbandingan El Nino 1997, 2015, dan 2023. (NASA)

Lantas, bagaimana dengan El Nino tahun ini? Berdasarkan pengamatan saya, El Nino 2023 memiliki perilaku senada dengan El Nino kuat pada 2015-2016 dan 1997-1998.

Indonesia harus mewaspadai risiko ini. Maraknya kekeringan dan kebakaran hutan tahun ini kemungkinan bakal lebih parah lagi saat El Nino mencapai puncaknya pada 2024.

El Nino akan menguat pada 2024

Pada mulanya, El Nino memanaskan suhu permukaan laut dari Samudra Pasifik sebelah timur, dekat Peru. Panas lalu membesar dan menjalar ke arah barat sampai perairan selatan Hawai, hingga kepulauan di Pasifik barat dekat pulau Papua.

Area pemantauan El Nino dari Peru sampai ujung barat Samudra Pasifik. (Biro Meteorologi Australia)

Per 29 Oktober lalu, Biro Meteorologi Australia mencatat pemanasan rata-rata bulanan di sekitar titik pantau El Nino di perairan di selatan Hawai (dikenal dengan area Nino 3.4) baru mencapai 1,66°C.

Pemanasan tersebut berpotensi tinggi menguat sampai tahun depan. Pasalnya, pemanasan parah El Nino 2023 baru berada di dekat Peru (area Nino 2) sebesar 2,42°C di atas normal. Butuh waktu setidaknya dua bulan hingga panas tersebut menyebar ke titik pantau Nino 3.4.

Prediksi El Nino 2023. El Nino kali ini diprediksi semakin parah seiring pergantian tahun. (Biro Meteorologi Australia)

Karena itulah, per 21 Oktober 2023, Biro Meteorologi Australia menaksir puncak El Nino baru terjadi tiga bulan lagi, yakni Januari 2024. Saat itu, suhu terpanas permukaan rata-rata bulanan dapat mencapai 2,7°C di atas normal di area Nino 3.4.

Saya menganggap pemodelan oleh Biro Meteorologi Australia cukup valid karena berbasiskan data klimatologis lama, dari 1960-2010. Meskipun terpaut 13 tahun, data lama penting untuk membandingkan perilaku El Nino saat ini dengan kejadian pada 1997-1998 dan 2015-2016.

Prediksi Australia juga senada dengan Badan Ilmu dan Teknologi Laut-Bumi Jepang (Jamstec) yang mengatakan bahwa El Nino pada puncak pemanasannya akan melampaui 2°C.

Anomali cuaca Indonesia karena El Nino?

Cuaca panas Indonesia yang terjadi beberapa bulan belakangan memang turut dipengaruhi El Nino. Namun, dampaknya masih kecil.

Sejauh ini, kondisi panas di Indonesia masih lebih banyak dipengaruhi oleh cuaca di Samudra India. Karena itulah masih ada awan-awan di atas langit Papua, diikuti oleh hujan.

Saat El Nino mencengkeram, Papua akan lebih panas dan kering, begitu juga dengan daerah-daerah di sekitarnya hingga menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah barat Indonesia saat ini, termasuk Jabodetabek pada sepekan terakhir, lebih dipengaruhi fenomena pemanasan dari Laut Cina Selatan.

Fenomena ‘cold tongue’ yang mendinginkan cuaca di sebagian wilayah barat Indonesia pada 2022. (JAMSTEC)
Situasi pemanasan di sekitar laut Cina Selatan imbas anomali cuaca 2023. Dapat dilihat juga bagaimana gelombang panas El Nino dari Amerika Selatan belum banyak memengaruhi Indonesia. (JAMSTEC)

Pemanasan kali ini tergolong anomali cuaca karena seharusnya, pada periode Oktober cuaca di kawasan tersebut cenderung lebih dingin akibat siklus monsun dingin (winter monsoon) dari November-Maret.

Musim hujan mengakhiri El Nino?

Tahun ini Indonesia mengalami musim hujan secara bertahap sejak Oktober 2023 hingga Februari 2024.

Apakah munculnya hujan menjadi pertanda berakhirnya El Nino? Sayangnya tidak. Musim hujan hanya meredam dampaknya sehingga Indonesia mungkin tidak akan sepanas saat ini. Mungkin ini bisa memberikan kita waktu untuk ‘beristirahat’ dari panas dan kekeringan.

Namun, hal ini tak berlangsung lama. Pada Maret 2024, ketika musim pancaroba melanda sebagian Indonesia, El Nino akan kembali mencengkeram. Saat itu, pemanasan suhu rata-rata memang menurun, tapi masih di atas 2,3°C.

Prediksi El Nino versi Biro Meteorologi Australia per 23 Oktober 2023. (Biro Meteorologi Australia)

Apa yang perlu kita lakukan menghadapi El Nino?

Saat ini ilmuwan-ilmuwan dunia sedang harap-harap cemas, mengkhawatirkan El Nino bisa menguat seperti ‘gorila’ yang mengamuk melampaui perkiraan.

Indonesia harus mempertimbangkan cuaca panas akibat El Nino dapat berkepanjangan. Panasnya bisa begitu kuat, bahkan bisa melebihi kejadian-kejadian sebelumnya.

Ini dipengaruhi dengan kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi. Saat El Nino 2015-2016, kenaikan suhu permukaan Bumi belum mencapai 1°C.

Saat ini, suhu terpanas Bumi sudah mencapai 1,2°C. Kita harus bersiap dengan El Nino yang semakin mencengkeram. Selalu ada kemungkinan pemanasan ekstrem akibat El Nino terus bertahan dan tidak mudah meluruh.

Perhatian Indonesia sampai sekarang masih terbagi karena adanya Pemilihan Presiden-Wakil Presiden 2024. Perhelatan akbar ini biarlah berjalan, tapi jangan mengurangi fokus kita untuk mencegah dan menanggulangi dampak terburuk El Nino tahun depan.

Tahun ini, kita menyaksikan kebakaran hutan dan lahan telah melebihi 600 ribu hektare–tertinggi sejak pandemi. Kekeringan sudah terjadi di ratusan wilayah, diikuti dengan kenaikan harga pahan pokok. Bendungan mengering sehingga listrik di beberapa wilayah byar-pet.

Kita membutuhkan usaha ekstra dari semua kalangan untuk mencegah agar beragam dampak tersebut tidak meluas pada tahun depan.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 187,100 academics and researchers from 4,998 institutions.

Register now