Banyak univesitas di dunia menjalankan pembelajaran jarak jauh via internet karena pandemi coronavirus. Seorang dosen Universitas Nyiregyhaza Hungaria memberikan kuliah online pada mahasiswanya, 12 Maret 2020. EPA/ATTILA BALAZS

Gagap 3 aspek vital: kuliah online di tengah COVID-19 bisa perparah gap akses pembelajaran bermutu bagi mahasiswa miskin

Sejak pemerintah Indonesia mengumumkan bencana nasional coronavirus (COVID-19) pada 14 Maret lalu, pemerintah daerah seperti DKI Jakarta dan beberapa universitas mengubah pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias kuliah online.

Untuk menghambat makin luasnya penularan wabah coronavirus, keputusan ini tepat. Sayangnya, karena kesenjangan digital di Indonesia masih sangat tinggi, tidak semua siswa bisa mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik lewat kulian online.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah kepemimpinan pengusaha muda berbasis teknologi, Nadiem Makariem, perlu mempertimbangkan tiga aspek vital untuk memastikan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh tidak memperluas kesenjangan sosial, memperdalam ketimpangan kualitas pendidikan antarkelompok sosial-ekonomi dan membuat kelompok marginal makin terpinggirkan.

Tiga aspek digital tersebut adalah ketersediaan infrastruktur digital, keterampilan digital, dan karakteristik teknologi.

1. Ketersediaan infrastruktur digital

Indonesia saat ini belum menyediakan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), prasyarat utama untuk pembelajaran jarak jauh, yang memadai dan meluas untuk seluruh warganya.

Data International Telecommunication Union (ITU) dan Biro Pusat Statistik (BPS) terbaru menggambarkan kurang dari 40% penduduk Indonesia yang menjadi pengguna internet. Hanya 3% yang secara regular mendapatkan akses internet pita lebar yang cepat.

Akses pita lebar internet menjadi elemen penting dalam PJJ karena metode pembelajaran menggunakan metode audio-visual yang membutuhkan kapasitas sambungan besar. Bahkan di Ibu kota Jakarta, belum semua penduduknya dapat menikmati sambungan internet pita lebar, terutama yang belum menggunakan sambungan kabel optik.

Hampir semua operator telepon selular di Indonesia memang sudah menawarkan sambungan 4G LTE, tapi kualitas sambungan yang tidak selalu stabil masih menjadi kendala besar. Sekalipun terdapat akses internet cepat, tidak semua penduduk bisa membeli akses tersebut.

Menurut data BPS jumlah pengguna telepon selular mencapai lebih dari 100%, namun hanya 20% penduduk Indonesia yang memiliki komputer, medium yang ideal untuk kegiatan belajar mengajar karena karakteristiknya yang memungkinkan penggunaan beragam aplikasi yang mendukung proses pembelajaran.

Faktor ekonomi menjadi penghambat adopsi komputer di negara berkembang ketika penduduk tidak mampu membelinya.

2. Keterampilan digital: problem peserta didik dan pengajar

Keterampilan digital menjadi faktor penting lainnya untuk memahami kesenjangan digital. Kompetensi dan literasi dalam menggunakan komputer dan berselancar di dunia maya menjadi keterampilan dasar yang dibutuhkan.

Sebuah studi di Amerika Serikat menggambarkan bahwa keterampilan digital terkait erat dengan generasi dan usia. Generasi milenial dianggap lebih adaptif dan terampil menggunakan teknologi digital ketimbang generasi orang tuanya.

Kesenjangan generasi yang berkorelasi dengan keterampilan digital bisa termanifestasi dalam PJJ, ketika guru atau dosen yang gagap teknologi tidak akan mampu mengelola pembelajaran.

Selain itu, status sosio-ekonomi pengguna juga mempengaruhi tingkat kompetensi dan literasi dalam menggunakan TIK.

Peserta didik yang berasal dari kalangan kurang mampu sangat mungkin tidak memiliki komputer atau sambungan internet, sehingga mengalami keterbatasan akses fisik dan material teknologi digital. Walaupun mereka berasal dari generasi digital native keterampilan digital mereka akan lebih rendah dibandingkan siswa dari keluarga yang lebih berada.

Jadi ada keterkaitan erat antara kesenjangan sosial, ketersediaan akses, dan keterampilan digital. Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi kualitas PJJ dan membuat kesenjangan digital menjadi masalah multidimensi.

3. Karakteristik teknologi: kegamangan dalam pengadopsian teknologi

Ketersediaan beragam aplikasi yang dapat digunakan dalam PJJ, seperti WhatsApp, Google Meet, Zoom, dan Line telah menimbulkan tantangan baru.

Setiap aplikasi mempunyai karakteristik khusus yang akan mempengaruhi interaksi antara mahasiswa dan dosen. Kekhawatiran utama adalah dampak dari aplikasi tersebut terhadap kualitas hasil pembelajaran.

Aplikasi seperti Zoom yang memiliki fitur lebih kaya dan interaktif tentu akan memberikan hasil yang lebih baik ketimbang medium WhatsApp. Pengajar harus memahami karakteristik teknologi yang digunakan dalam PJJ, terutama terkait pengetahuan atas kelebihan dan kekurangan aplikasi yang digunakan.

Pembuatan materi pengajaran tentu akan mengacu kepada kapasitas dan kapabilitas dari medium yang digunakan.

Teori kesempurnaan media (media richness) menggambarkan bahwa interaksi tatap muka menjadi medium paling kaya yang dapat mereduksi keambiguan penyampaian pesan. Media digital memiliki keterbatasan dalam memberikan isyarat non-verbal dan juga kecepatan umpan balik yang dapat menganggu komunikasi selama pembelajaran.

Perubahan metode tatap muka di kelas menjadi termediasi via layar laptop membutuhkan adaptasi dan perubahan, terutama dari sisi penyiapan materi dan interaksi dalam ruang maya. Pengajar yang tidak memiliki keterampilan digital dan pengetahuan atas karakteristik teknologi yang memadai akan terhambat sehingga tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Tantangan ini juga dialami oleh peserta didik yang belum terbiasa dengan ragam aplikasi pembelajaran yang akan digunakan. Keterbatasan sumber daya ekonomi menciptakan kesenjangan digital di kalangan milenial, terutama terkait penggunaan ragam aplikasi.

Siswa yang memiliki kemampuan finansial lebih bisa bereksplorasi dengan internet dan aplikasinya sehingga sudah terbiasa dan bisa cepat beradaptasi. Sedangkan siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi, akan tertinggal.

Pembelajaran jarak jauh: mempertajam kesenjangan

Dalam studi terbaru Jan van Dijk dari Universitas Twente Belanda ihwal kesenjangan digital, ada keterkaitan antara kesenjangan sosial dengan ketersediaan akses terhadap internet dan keterampilan digital.

Keterbatasan akses fisik dan material terhadap TIK di kalangan mahasiswa dari kelompok menengah ke bawah berdampak pada rendahnya kompetensi dan literasi digital yang mempengaruhi kemampuan mereka memaksimalkan penggunaan aplikasi dalam PJJ. Hal ini membuat PJJ bisa memperdalam kesenjangan sosial.

Harus ada evaluasi formatif selama proses PJJ berlangsung–kita tidak tahu persis kapan wabah coronavirus ini akan berakhir–dan intervensi bisa cepat dilakukan ketika terjadi indikasi yang tidak sesuai harapan.

Pemerintah pusat dan daerah harus mampu mengawasi proses ini dan bila perlu merevisi di tengah jalan untuk memperbaiki kekurangan, terutama terkait ketersediaan akses dan keterampilan digital.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,800 academics and researchers from 3,637 institutions.

Register now