Menu Close

Hijab bukan simbol penindasan gender – tapi di Barat, mereka yang memilih untuk memakainya berisiko menghadapi Islamofobia

Perempuan Muslim mengenakan jilbab saat berolahraga. Jacob Lund/Shutterstock

New York Times pernah mempublikasi podcast yang membahas tentang dugaan adanya “Trojan Horse” (sebuah virus) Islamisasi di sekolah-sekolah di Birmingham, Inggris. Dalam podcast tersebut, seorang perempuan Muslim yang bekerja di salah satu sekolah itu menceritakan apa yang terjadi ketika ia mulai mengenakan jilbab.

Kebetulan ia baru saja menikah saat mulai mengenakannya, dan kemudian rekan-rekan kerjanya yang non-Muslim menafsirkan keputusannya menggunakan jilbab adalah atas perintah suaminya. Mereka menganggap bahwa ia tertindas oleh suaminya sendiri.

Nyatanya, seperti yang ia jelaskan kepada pembawa acara podcast tersebut, ia sebelumnya tidak mengenakan jilbab karena takut terhadap satu hal: reaksi bias orang-orang terhadapnya. Ia mulai berani berjilbab ketika merasa lebih percaya diri dan yakin bahwa sekolah akan menjadi tempat yang aman baginya untuk menjadi dirinya sendiri tanpa takut akan dampak Islamofobia.

Di negara Barat, mengenakan penutup kepala bagi perempuan adalah simbol Islam yang paling menonjol – dan paling sering disalahpahami. Cara berjilbab perempuan Muslim bisa bermacam-macam, mulai dari memakai cadar atau niqab, hingga hanya menutupi rambut dan tubuh bagian atas dengan kerudung. Gaya berjilbab juga bisa dalam berbagai macam warna dan model, tergantung dari tempat, waktu dan tren.

Beberapa orang kerap menyamakan berjilbab dengan ketidaksetaraan gender dan melihatnya sebagai ancaman terhadap kohesi sosial atau, lebih buruk lagi, mengidentikannya dengan ekstremisme Islam.

Benar bahwa banyak perempuan yang dipaksa untuk berjilbab karena mengikuti aturan hukum maupun budaya masyarakat di daerah atau negaranya. Namun, jika kita menganggap hal itu berlaku sama bagi semua orang, maka anggapan tersebut akan melahirkan stereotip dan mempromosikan iklim rasisme dan Islamofobia yang kemudian akibatnya akan ditanggung oleh semua perempuan Muslim di seluruh dunia.

Mereka yang memilih untuk berjilbab secara tidak langsung harus mengarahkan pandangan, prasangka dan regulasi, pengawasan media, dan debat politik yang dihasilkan dari pilihan mereka itu - seringkali tanpa terlibat di dalamnya - dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Namun, banyak asumsi yang gagal mengakui bahwa ada berbagai makna dan alasan bagi perempuan yang memilih untuk berjilbab. Penelitian menunjukkan bahwa bagi banyak dari mereka yang mengenakannya, jilbab bukanlah pakaian yang pasif. Sebaliknya, jilbab seringkali menjadi bagian penting dan integral dari identitas perempuan dan ekspresi atas pilihan pribadi.

A woman in a leather jacket sits on a bench in a park with another woman in a pink hijab and marroon coat.
Islamaphobia sangat merugikan, baik bagi perempuan yang berjilbab maupun non-Muslim yang dianggap ‘terlihat’ Muslim. Monkey Business Images | Shutterstock

Jilbab bisa menjadi simbol kebebasan

Ketika memutuskan untuk berjilbab, bagaimana seorang perempuan menegosiasikan pilihan pribadinya tidak selalu sejalan dengan ketakutan akan Islamofobia. Bagi sebagian perempuan, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian kami, berjilbab dapat memberdayakan dirinya.

Kami melakukan wawancara individu dan focus group discussions dengan perempuan Muslim di Inggris yang mengenakan jilbab. Seorang responden, bernama Jasmine, mengatakan pada kami:

Banyak saudara kami sesama perempuan Muslim di beberapa tempat di dunia yang dipaksa memakainya. Kita tidak bisa menyangkal bahwa hal itu terjadi. Dan itu tidak bisa dibenarkan. Tapi untuk saya, saya sendiri yang memilih kapan memakainya dan kapan melepasnya. Saya memilih warna apa yang akan saya kenakan, bukan hanya hitam dan putih.

Responden lainnya, bernama Khadija, berkata:

Berjilbab itu luar biasa! Ini adalah pilihan fesyen yang indah sekaligus religius. Laci saya penuh dengan jilbab dengan berbagai warna yang cerah, bahan, dan motif. Saya mencocokkannya dengan pakaian saya dan mengenakannya dengan gaya yang berbeda setiap hari.

Bagi para perempuan ini, memilih untuk berjilbab menjadi cara untuk menegaskan tentang hak mereka untuk memilih dan mengatur tubuh mereka sendiri. Dengan kata lain, jilbab justru tidak pasif, dan bertolak belakang dengan asumsi penindasan yang dihasilkan oleh pandangan stereotip.

A woman in a blue headscarf and yellow coat poses in front of a pink building.
Sebagai busana yang ‘aktif’, jilbab memiliki potensi gaya fesyen yang menarik. mentatdgt | Shutterstock

Berjilbab juga bisa menjadi hal yang rumit

Bagi perempuan lainnya, pengalaman berjilbab memberikan nuansa yang berbeda.

Seorang politikus perempuan asal Prancis menceritakan pada kami tentang bagaimana ia mencari cara untuk menutup kepalanya agar tidak mencolok guna mencegah munculnya stereotip padanya sebagai perempuan Muslim atau menimbulkan Islamofobia. Dan ia sudah menemukan caranya.

Saya tidak memakai kerudung untuk sepenuhnya menutupi kepala. Saya menutupi rambut saya dengan sesuatu, seperti topi atau baret, sesuatu yang sesuai dengan budaya Prancis.

Perancang busana dan blogger Hana Tajima pernah menyuarakan di media sosial tentang tantangan berjilbab. Dalam salah satu unggahannya, ia menyampaikan bagaimana, di satu sisi, ada orang yang tidak mengerti mengapa ada orang yang ingin berjilbab: “Mereka melihat jilbab sebagai sebuah upaya untuk mengontrol dan memanipulasi perempuan.”

Dan di sisi lain, katanya, “ada orang yang merasa bahwa ketika kita memilih untuk mengenakan jilbab, maka kita memiliki tanggung jawab untuk tetap konsisten mengenakannya.”

Ia juga menggambarkan tentang adanya tekanan ekspektasi untuk menjadi simbol yang sempurna dari gagasan tentang iman. Sedangkan untuk perempuan secara lebih luas, signifikansi dan makna pakaian mereka kerap ditentukan secara eksternal oleh masyarakat. Tetap saja, mengenakan jilbab seharusnya menjadi pilihan pribadi dan ekspresi iman yang sangat personal.

Reaksi Islamofobia

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan Muslim yang mengenakan penutup kepala di negara-negara Barat banyak mengalami stigma, misogini, dan rasisme yang lebih luas.

Muslimah yang berjilbab kerap mendapat stigma sebagai ancaman. Jilbab atau cadar mereka seakan menjadi perwujudan visual yang membuat Muslim “berbeda” dari orang pada umumnya.

Penelitian kami juga menunjukkan bahwa perempuan Muslim tampaknya menghadapi dampak yang tidak adil dari Islamofobia, mulai dari ditolak dari mendapatkan layanan tertentu hingga diserang secara fisik di depan umum, termasuk dipaksa untuk melepas jilbab mereka di jalan.

A mother in a black niqab and a daughter wearing white jeans and a white hijab walk down a shopping street.
Mengarahkan asumsi publik terhadap penggunaan jilbab bisa menjadi pengalaman yang sulit bagi banyak perempuan Muslim di Barat. IR Stone | Shutterstock

Simbol kemusliman yang terlihat berkorelasi secara langsung dengan pengalaman Islamofobia. Namun, kami menemukan bahwa Islamofobia juga berdampak pada orang-orang yang bukan Muslim, hanya karena penampilan fisik dan warna kulit mereka, serta, menurut penelitian, nama mereka dianggap “terlihat” Muslim.

Rasisme anti-Islam seperti itu menyebabkan banyak Muslim yang makin didiskriminasi ketika mencoba untuk mendapatkan tempat tinggal maupun mengakses pendidikan.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 179,400 academics and researchers from 4,902 institutions.

Register now